| InfoBuddhis |
Melalui pengkajian yang mendalam dan luas dari perkembangan Mahayana, dan keyakinan serta ketaatan umatnya baik secara tradisional maupun berpedoman pada kitab-kitab suci Mahayana, sesuai dengan masing-masing sekte dalam kurun waktu tersebut dan tempat dimana Mahayana pernah exist dan existensinya sampai saat ini, maka Sangharaksita Maha Sthavira di dalam bukunya a Survey of Buddhism menjelaskan secara mendeteil tentang Jalan Bodhisattva. Dengan demikian sebagai umat Mahayana akan menambah cakrawala dan pengertian dan pengalaman serta kebenaran dalam melatih diri guna menghayati dan mengamalkannya untuk mengikuti Jalan Bodhisattva di dalam praktek sehari-hari.
Dijelaskan secara tegas, Jalan Bodhisattva pada mulanya terdiri dari latihan mengenai enam (atau sepuluh) Kesempurnaan (Sad-Pāramitā, Dasa-Pāramitā), kewajiban yang berhasil diselesaikan akan membawa dia melalui 10 tingkatan (Dasa-bhữmi) secara berurutan mengenai perolehan atau pencapaian spiritual. Begitu besar dan hebatnya, bagaimanapun ada perbedaan antara kemampuan kita untuk dapat mengerti dan menghayati ajaran spiritual menurut kemampuan dan kekuatan kita sendiri untuk melatihnya. Paling banyak diantaranya yang memberikan secara teori sesuai dengan kemampuan dan kekuatan mengenai Jalan Rahasia yang belum dipersiapkan guna latihan tersebut bahkan mulai dari 'Paramita yang pertama'. Secara individu di dalam kehidupan diantara kehidupan duniawi atau 'spiritual'pada satu sisi, dan 'jalan Transendental dari Bodhisattva' pada sisi lain, karena itu Mahayana menginterpolasikan sejumlah ketaatan, tujuannya ialah untuk mempersiapkan pikiran mengenai Bodhisattva atau lebih dari itu, mengenai Calon Bodhisattva untuk melatih enam atau sepuluh Kesempurnaan (Pāramitā).
Menerima atau mengikuti Jalan Bodhisattva itu didalam pengertian yang paling luas, kita menemukan termasuk ketaatan-ketaatan ini. Ketaatan-ketaatan ini dapat dibagi menjadi 3 tingkatan (jangan dibingungkan dengan 10 bhumi yang barusan disebutkan yang berhubungan dengan paramita), yaitu :
- Latihan Kebaktian Permulaan yang dikenal sebagai anuttarapuja atau ibadat / sembahyang atau pemujaan yang tertinggi,
- bangkitnya Pemikiran mengenai Penerangan atau Pencerahan (Bodhicitta-utpada), dengan membuat suatu Nadar atau Janji besar (pranidhana), dan menerima suatu Kepastian mengenai Penerangan atau Pencerahan (vyakarana) dari seorang Buddha hidup,
- 3. empat carya atau pelajaran mengenai perbuatan atau tingkah laku, yang ketiga ini adalah yang terpenting mengenai Latihan Kesempurnaan (pāramitā-carya).
Sumber mengenai latihan ini dari buku milik Santideva tentang nyayian pendek namun mulia, agung, suci, Bodhicaryavata suatu naskah dari abad ke-7. Latihan sendiri sudah begitu sangat lama sebelum adanya naskah tersebut. Kenyataannya seperti banyak ketaatan yang lainnya merupakan bagian dari inti doktrin dan metode-metode dimana Mahayana juga mewarisi dari Hinayana dan dikembangkan dengan tradisi milik sendiri Mahayana. Bunga, lilin, dan dupa telah dipersembahkan kepada Buddha bahkan selama Beliau masih hidup, mengakui kesalahan dan dosa di hadapanNya (Buddha Shakyamuni). Brahma Sahampatti telah memohon kepada beliau untuk memutar Roda Dharma. Pada dasarnya kejadian-kejadian seperti ini dimana Hinayana telah menyusun suatu ketentuan yang sederhana untuk dipergunakan sehari-hari, dideklamasikan dalam bentuk Pali oleh bhikku dan umat awam di negeri Theravada. Beberapa formula tersebut yang digunakan sama tuanya / umurnya dengan agama Buddha. Penggunaan kata anuttara (= yang tidak dapat dilewati atau tertinggi) bagi Mahayana mungkin dimaksudkan untuk saran suatu perbandingan dengan Hinayana yang dianggap belum sempurna pada waktu itu.
I.I Anuttarapuja
Santideva menguraikan Kebaktian Tertinggi (= anuttarapuja) atau Ibadah / Pemujaan tertinggi terdiri dari :
- Vandana dan puja : 'hormat dengan membungkukkan badan' dan'kebaktian',
- Sarana-gamana : mendapatkan perlindungan,
- Papa-desana : pengakuan dosa,
- Punyanumodana : bergembira menyalurkan jasa,
- adhyesana dan yacana : 'doa, berdoa' dan 'doa permohonan'
- parinamana dan atma-bhavadi-parityagah : 'penyaluran jasa/penyerahan jasa' dan 'pasrahkan diri'.
I.1. Vandana dan Puja
Vandana : Bodhisattva setiap hari masih mengulangi kewajiban-kewajibannya di hadapan yang berkesan Buddha, apakah itu berupa ruphang Buddha yang terbuat dari tanah liat, kayu, batu atau metal, atau bahkan dari berlian. Kesan Buddha ini boleh ditempatkan di atas altar di dlam vihara atau tempat suci Buddha apakah untuk umum atau milik pribadi. Pada dasarnya tendensi Mahayana telah mendorong pikiran bhiksu dan umat awam yang sungguh-sungguh (semua berpotensi Bodhisattva) dengan merawat sebuah tempat suci miniatur milik pribadi masing-masing. Umat Buddha saat memasuki tempat suci demikian juga calon Bodhisattva melakukan ketaatannya dalam satu cara, yakni jari kaki, alis, dan kepala menyentuh tanah secara simultan. Bentuk ketaatan yang lebih berat adalah bagian dada juga menyentuh tanah. Jadi tubuh umat yang mengabdi itu terbaring di hadapan kaki 'Yang Telah Berpenerangan'. Ketaatan semacam ini mempunyai suatu effek yang sungguh-sungguh baik untuk kesehatan juga. Dalam semua cabang Buddhism, melakukan ketaatan tersebut telah menjadi suatu bagian integral, tidak hanya dalam agama tapi juga dalam kebiasaan sosial.
Bilamana mengunjungi sebuah vihara, stupa atau pohon Bodhi umat itu akan memberi hormatnya dalam cara tradisional tersebut. Buku-buku tentang Buddhism, karena mereka itu mewakili Dharma, yang kedua dari Tri-Ratna, haruslah sama dihormati. Pada saat sedang memegang satu atau sejumlah Kitab Suci atau teks kanon, umat itu harus segera menempatkan buku-buku tersebut diatas kepalanya dan tidak diharapkan memegangnya di bawah tangan, atau diapit di bawah ketiak atau sampai menyentuh tanah/lantai, atau ditaruh di atas meja secara sembarangan atau terbalik-balik bagaikan barang yang tidak berharga.
Puja : arti sebenarnya hanya menghormati yang dimengerti dengan perbuatan menyembahkan. Penyampaian sembahan ini ada 2 macam : material dan mental. Penyampaian material ini yang paling penting adalah lilin (penerangan), dupa, secarik kain, berbagai makanan sayur-sayuran, dan satu kulit kerang yang telah kosong, masing-masing menunjukkan walaupun simbol-simbol adalah bukan cara yang tetap sebagai satu dari lima panca indera. Bunga, buah, air, padi yang belum dimasak, dan bahkan uang juga dipersembahkan. Yang perlu diingat bahwa prinsip dibalik puja macam ini adalah sangat jelas : umat yang mengabdi itu memusatkan pada datu tujuan panca-inderanya untuk memperoleh Penerangan.
Macam puja yang kedua, umat lebih jauh mengimajinasikan dirinya sendiri sebagai penyembahan kepada Buddha dengan segala cara yang luar biasa dan barang-barang berharga sampai pada yang terakhir, dia menyembahkan 'Dia' seluruh alam semesta. Di dalam beberapa cabang dari Mahayana suatu simbol mewakili dari alam semesta, termasuk alam dari para dewa, ditempatkan di atas altar itu. Dengan melakukan penyembahan material dan mental umat mengucapkan jadi dengan memperkuat sikap penyembahannya terhadap Buddha.
I.2. Sarana-Gamana
Sarana-Gamana : berarti berlindung kepada Tri-Ratna, yaitu : Buddha, Dharma, dan Sangha. Lebih mendalam umat mengerti makna dari Tri-Ratna akan lebih effektif baginya untuk berlindung. Melakukan perlindungan kepada Tri-Ratna bukanlah suatu ucapan belaka yang dilakukan sekali-sekali atau selamanya, tetapi sesuatu yang timbul dengan pengertian umat itu mengenai Buddhism. Perlindungan itu akan lengkap bilamana pengertian umat itu mengenai Buddhism adalah lengkap. Jadi dikatakan, kapan umat itu atau siswa itu atau seseorang itu memperoleh Penerangan/Pencerahan. Jadi cukup dengan paradoks, tidak pergi untuk berlindung 'Yang Berpenerangan' adalah milikNya yang berlindung. Barangkali disebabkan kesadaran bahwa perlu berlindung merupakan suatu kehidupan, pengalaman yang terus tumbuh dan bertambah bahwa Mahayana membuat Tri-Ratna suatu bagian integral mengenai kewajiban-kewajiban sehari-hari dari Bodhisattva. Mengerti kewajiban-kewajiban sehari-hari dari Bidhisattva. Mengerti Tri-Ratna berarti mengerti Mereka itu sesuai dengan tradisi. Seseorang tidak harus berlindung di dalam pendapat dari orang lain.
Mahayana mempunyai pengertian yang lebih mendalam daripada Hinayana mengenai Tri-Ratna, maknanya yang melekat pada perbuatan dengan berlindung pada dasarnya lebih mendalam. Bagi Mahayanist, berlindung di dalam Buddha berarti berlindung, bukan di dalam Nirmana-Kaya-Nya tetapi di dalam Dharma-Kaya-Nya. Yang serupa itu adalah berlindung di dalam Sangha, ini berarti bukan berlindung di dalam 'Yang Ikut didalamnya', 'Yang kembali dengan satu kali terlahir', Yang tidak terlahir kembali', dan Arahant, siapakah itu bagi Mahayana melambangkan spritusl individu, tapi di dalam 'Persamuan Bodhisattva'. Pengertian ini harus dicamkan baik-baik, walaupun perbedaan-perbedaan itu bagi Mahayana mencoba untuk menyimpan semangat dari Ajaran Asli. Dalam prakteknya di semua negeri Buddhist melakukan Tiga Perlindungan dan Pancasila Buddhis mengambil hal yang mendahului dari semua tindakan yang lain dari agama. Ketiadaan dari ketaatan ini berarti tiada fungsi Buddhist, apakah secara umum atau pribadi, dapat dianggap tidak lengkap.
Pada umumnya berlindung itu diambil dari seorang bhiksu, bila tidak ada bhiksu, satu kelompok atau majelis boleh mengambil dari umat awam senior untuk Tri-Ratna. Calon Bodhisattva, dirinya mungkin bukan seorang bhiksu berlindung didalam Tri-Ratna di dalam praktek sehari-hari atas kewajibannya itu boleh menganggap mengambilnya langsung dari Buddha.
1.3. Papa-desana
Papa-desana : ('Pengakuan dosa') ialah ketaatan bentuk lain yang telah ada sejak permulaan Buddhism. Dalam Vinayana-Pitaka mengenai pengakuan dosa atau papa-desana, pengertian tekhnisnya mengenai pengakuan yang terang-terangan dari kesalahan seseorang di hadapan sesama bhiksu, merupakan penalti yang menyentuh pada dua tingkat pelanggaran atau kesalahaan secara keseluruhan, yang dinamakan Patidesaniya dan Paccitiya : bhiksu yang diminta itu mendengarkan pengakuan dosa dengan menasehati orang yang melakukan kesalahan itu dan mengharapkan dia tidak mengulangi kesalahan tersebut, dan disana masalah tersebut berakhir. Pengakuan dosa macam ini pada umumnya sama, yang senior mengaku dosanya kepada yang yunior demikian juga yang yunior kepada yang senior. Santideva menyatakan dengan penuh kasih sayang;
"apa saja dosa yang ada bahwa saya, yang malang dan tidak berperasaan, di dalam tiada permulaan milik saya memutari kelahiran masa lampau atau di dalam kelahiran kini ada terdapat perbuatan saya yang terlalu bodoh atau membuat orang lain melakukan atau menyetujui atas nama dengan tidak langsung saya berbuat secara sendiri, saya mengaku dosa atas perbuatan melanggar hukum yang berkaitan dengan itu, dan menderita dengan penyesalan. Kesalahan apa saja yang telah saya perbuat dengan dosa melawan Tri-Ratna atau ayah atau ibu atau yang lebih tua lainnya dengan perbuatan, kata-kata atau ucapan, atau tempa, apa saja perbuatan kejahatan yang mengerikan telah saya tempa, seorang berdosa mengotori, banyak yang ternoda, O para Guru, saya mengaku dosa semua itu. Bagaimana mungkinsaya melarikan diri dari kesalahan itu? Cepatlah menyelamatkan saya, supaya kematian tidak datang terlalu cepat pada saya sebelum dosa-dosa saya hilang."
(The Path of Light; by A.D. Barnett 'John Murray, London, 1947' hal.41-42).
Tetapi dosa dari Santideva yang menghukum dirinya sendiri bukan dosa pembawaan lahir, namun perbuatannya sendiri di dalam kehidupan sekarang dan yang lain. Selanjutnya, umat Mahayana tidak mengaku dosa atas dosa-dosanya di hadapan seorang pendengar yang dikagumi, tidak juga dia menjatuhkan tuntutan kepada yang dihormati dari orang yang berdosa terbesar yang pernah hidup. Dia mengaku dosa kepada Buddha dan Bodhisattva, dan tujuan dari pengakuan dosa ialah menyadarkan dia dari akibat yang mengerikan, menurut hukum karma, tidak akan terhindarkan menyeret dia di dunia yang akan datang. Kesadaran ini mendorong spiritual dia berusaha dan menghalau dia mencari pertolongan dari para anggota Hirarki Trasendental.
Walaupun Buddhism tidak pernah mendorong tindakan menenpati terlebih dulu tidak sehat dengan dosa, sudah pasti sangat memerlukan kesadaran yang jelas mengenai isi pikiran milik seseorang yang tidak sehat, suatu perasaan penyesalan karena berbuat salah terhadap mereka, merupakan langkah pendahuluan yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan spiritual. Pengakuan dosa mengenai dosa, sebagaimana dimengerti oleh Mahayana ialah ungkapan lisan dari sikap ini. Disamping manfaat psykologi sebagai suatu cara dari menolong umat itu untuk latihan mengenai papa-desana adalah di dalam intisarinya lagipula metode lain di mana Mahayana melakukan untuk mengarahkan kesadarannya di dalam tujuan dari Penerangan atau Pencerahan.
I.4. Punyanumodana
Punyanumodana : ('bergembira menyalurkan jasa') dalam makna yang sebenarnya sangat sama dengan mudita-bhavana, yang ketiga empat brahma-vihara.Mudita terdapat didalam menyalurkan kemakmuran atau kesejahteraan duniawi dan kebaikan atau keberuntungan bagi orang lain, punyanumodana ialah tindakan menyalurkan perolehan spiritual. Juga sementara dengan jelas latihan yang pertama diuraikan sebagai sutau pencegahan terhadap iri hati itu tidaklah lebih jelas bahwa tujuan dari latihan yang kedua itu tidak dapat dijelaskan. Hanyalah seseorang punya keadaan fisik psykologi khusus dapat merasakan iri hati dari kesucian orang lain yang sebenarnya. Punyanumodana setelah Papa-desan, latihan ini lebih diperuntukan guna menetralkan suatu perasaan depresi atau keputusasaan dalam mana prosesi dari kekejaman perbuatan melukai perasaan seseorang yang mungkin telah menjerumuskan pengikutnya. Pengumpulan kembali dari perbuatan baik milik orang lain, dan dari perolehan yang mulia atau agung dari Arahants Bodhisattva dan Buddha, akan melayani guna memastikan penggoyahannya, jikalau tidak musnahkan, kepercayaan agama dalam kemungkinan mengalami suatu kehidupan spiritual di atas bumi ini. Dia akan diingatkan bahwa bagaimanapun dalamnya mungkin dia tenggelam dalam lumpur dari eksistensi keduniawian, suara Welas Asih terus memanggil dia, tangan Welas-Asih diulurkan kepada dia, dan bahwa dengan bantuan Mereka dia akhirnya dapat membebaskan dirinya sendiri dna mencapai Pantai Yang Lebih Jauh. Jalan di dalam Punyanumodana dibuat untuk memberhasilkan papa-desana bolehlah dipuji sebagai suatu contoh yang baik dan metode keseimbangan luar biasa yang dilakukan oleh Kereta Besar/ Mahayana untuk kesejahteraan spiritual bagi para pengikutnya.
1.5. Adhyesana dan Yacana
Adhyesana dan yacana : ('doa, berdoa' dan 'doa permohonan') dimaksudkan bukan untuk permohonan berkat material atau hadiah spiritual, jika permohonan ini dinikmati pemohon sendiri, tapi membuat permintaan yang sama dalam minggu ke-5 oleh Brahma Sahampatti berlutut di hadapan Yang Telah Mencapai Penerangan setelah kemenangan Tertinggi-Nya, permohonannya demi kepentingan semua makhluk hidup memohon Dia memutar Roda Dharma. Dengan mentaati suatu tradisi kuno, disebutkan dalam Mahaparinibbana-Sutra dengan memperhatikan 'hari-hari' terakhir dari Buddha, meminta Dia untuk tetap tinggal di Bumi ini hingga akhir kalpa, umat Mahayana menurut Santideva juga memohon kepada Yang Telah Mencapai Penerangan jangan menghilang ke dalam Parinirvana 'Supaya dunia tidak menjadi Buta'.
Welas Asih, aspek dinamis dari kebijaksanaan ialah spontanitas bermunculan di dalam kepenuhan semua Penerangan yang cepat diperoleh. Permohonan Brahma Sahampatti bukanlah sebab atas welas-asih Buddha yang amat besar, karena kesempaan mewarisi ke dalam system dunia sebagai tujuan-Nya untuk mengepalai yang melampaui kedewaan. Para Buddha tidak perlu diingatkan atas kewajiban mereka. Berdoa dan doa permohonan sesungguhnya suatu cara dari memperkuat keinginan milik umat itu sendiri untuk penyebaran universal dengan cara menuju Pencerahan. Kenyataannya pada tingkat ini, bilamana dia masuk di tengah-tengah mengenai latihan kebaktian permulaan, hal itu akan menjadi janggal bagi umat mengungkapkan keinginannya yang sungguh-sungguh bahwa semua makhluk harus diberikan kesempatan untuk mendengarkan Kebenaran, karena itu mengambil bentuk permohonan kepada Yang Telah Berpenerangan tidaklah sebagai pasif dari suatu keadaaan transendental murni mengenai pembebasan individu melainkan kepastian welas-asih dari para penyelamat manusia yang selamanya aktif.
Ketaatan tersebut adalah kenyataan dari sudut pandang kepastian bagi Mahayana mengenai konsepsi Nirvana terhadap Hinayana. Itu juga dianggap sebagai yang mengingatkan bagi seseorang yang tidak dapat secara pribadi berkhotbah kitab-kitab suci, memberikan literatur Buddhist secara gratis.
Adhyesana dan yacana dalam pengertian yang paling sederhana ialah untuk penyebaran Dharma.
I.6. Parinamana dan atma-bhavadi-parityagah
Parinamana dan atma-bhavadi-parityagah : ('Penyaluran jasa' dan ' pasrahkan diri') dicapai sebagai klimaks dari latihan-latihan kebaktian pendahuluan. Dengan cara ketaatan pada lima ibadat/pemujaan Tertinggi terlebih dulu, umat yang taat itu telah mengumpulkan sejumlah jasa yang dikenal sebagai punya (Skt.). Setiap tindakan yang diinginkan, dengan tubuh, ucapan atau pikiran/mental, ialah produk dari akibat atau hasil tertentu yakni Vipaka (Skt.). Dalam hal tindakan perbuatan dari kerakusan, kemarahan, dan penipuan atau khayalan, hasilnya ialah penderitaan; dalam hal tindakan perbuatan yang berlawanan dari pikiran seperti itu ialah menyenangkan. Bukan saja imbalan hadiah mengikuti perbuatan ' baik', begitu juga hukuman yang pantas diterima sebagai telah berbuat salah atau 'buruk' menyusul orang tersebut dan dia pasti mengalaminya pada suatu waktu.
Punya yang lebih populer daripada konsepsi filosofi merupakan spiritual dengan kredit point atas perbuatan baik sampai dengan waktu karma dan faktor lain mengijinkan nya dijadikan dalam bentuk kebahagiaan apakah di bumi ini atau dalam salah satu alam bahagia.
