|
PESAN WAISAK 2551/2007
KONFERENSI AGUNG SANGHA
INDONESIA
Tahun ini kita memperingati Hari Waisak yang ke-2551,
artinya telah 2550 tahun Buddha Gotama mangkat. Dilahirkan 2630 tahun yang
lalu, Sang Guru Jagad mencapai Penerangan Sempurna pada usia 35 tahun. Baik
kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, maupun kemangkatan Beliau terjadi
saat bulan purnama di bulan Waisak. Oleh karena itu pada Hari Waisak umat Buddha
memperingati ketiga peristiwa tersebut.
Kehadiran
Buddha diawali kisah mengharukan tentang seorang pangeran putra mahkota
kerajaan yang meninggalkan istana maupun anak dan isteri yang dicintai untuk
menjadi petapa di hutan. Apa gerangan yang menyebabkan? Tidak lain karena
Beliau memiliki kepedulian terhadap duka cita yang berlaku bagi semua
makhluk. Duka cita karena mengalami proses usia tua, duka cita karena
mengalami proses sakit, dan duka cita karena mengalami proses kematian.
Sebagai petapa, untuk membebaskan diri dari duka cita tersebut, mula-mula
Beliau menyiksa diri bahkan sampai sempat tinggal tulang dan kulit. Namun
jalan ekstrem tersebut ternyata keliru, sama kelirunya dengan jalan ekstrem
memuaskan nafsu indera yang akan membuat orang semakin haus dan ketagihan.
Kedua jalan ekstrem ternyata tidak dapat membawa pada pembebasan seutuhnya
dari duka cita. Baru setelah menempuh Jalan Tengah, dengan menjalankan
meditasi pengembangan kesadaran, Beliau akhirnya mencapai Penerangan Sempurna
dan menjadi Buddha.
Dapatlah
dikatakan bahwa Penerangan Sempurna bermula dari kepedulian terhadap sesama.
Berupaya keras mencari jalan yang dapat membebaskan semua makhluk dari duka
cita dan setelah berhasil menemukan Sang Jalan mau berbagi dengan penuh
ketulusan. Kepedulian dan ketulusan manusia agung yang kita kenal sebagai
Buddha Gotama ternyata semakin relevan dengan kondisi kehidupan saat ini.
Mengikuti jejak Buddha sebagai panutan, seyogianya kita meningkatkan
kepedulian terhadap segala hal yang mengancam kehidupan orang banyak dan
berupaya menemukan jalan keluarnya. Kita hendaknya benar-benar memiliki
ketulusan dalam berbuat baik.
Kepedulian
yang tidak dilandasi ketulusan berbuat baik sesungguhnya hanyalah kepedulian
semu. Untuk itu cinta kasih sejati perlu dikembangkan. Apabila kita memiliki
cinta kasih sejati, kita tentunya tidak akan menghancurkan alam maupun sesama
makhluk. Namun kebanyakan dari kita sulit mengembangkan cinta kasih sejati
terhadap alam dan sesama oleh karena memiliki keakuan yang besar. Kita
memiliki pandangan keliru yang menganggap ada suatu diri yang terpisah dari
yang lain. Akibatnya kita menjadikan sang aku itu lebih penting dari yang
lain dan bahwa alam adalah objek yang tersedia untuk aku eksploitasi
habis-habisan. Baru setelah bencana alam timbul atau ketika mengetahui bahwa
akibat pemanasan global es di kutub akan mencair dan sebagian dari dunia tak
lama lagi akan tenggelam, kita sadar bahwa kita adalah bagian dari alam, kita
tidak terpisah dari alam maupun sesama makhluk. Sesungguhnya antara kita
dengan alam ada saling ketergantungan karena saling menjadikan.
Demikian pula
ada saling ketergantungan dan saling menjadikan di antara kita dan sesama.
Jika kita dengan penuh keserakahan membuat sesama dilanda kemiskinan dan
kemudian akibat tekanan penderitaan yang tak tertahankan tersebut sebagian
dari mereka akhirnya melakukan kejahatan penjarahan, maka kehidupan yang
semula terasa damai dan dilandasi gotong royong tentunya akan berubah menjadi
penuh kekerasan dan kebencian. Bahkan jika atmosfir dunia terus dicemari
dengan pikiran yang penuh dengan nafsu keserakahan dan amarah kebencian, maka
alam pun pada gilirannya akan ikut bereaksi memunculkan aneka bencana.
Oleh karena
dari masa yang panjang, melalui kelahiran yang berulang-ulang, kita telah
melakukan banyak kesalahan baik dengan pikiran, ucapan, maupun tindakan,
seyogianya dengan penuh kerendahan hati kita mau melakukan pengakuan
kesalahan dan bertekad untuk kembali pada ketulusan berbuat baik. Kita
berbuat baik hendaknya karena cinta kasih kita kepada sesama dan alam
semesta, karena kepedulian kita pada kesejahteraan masyarakat. Kita hendaknya
berbuat baik bukan karena keserakahan untuk menumpuk pahala atau bahkan
karena ada udang di balik batu.
Kita seyogianya berusaha
agar cinta kasih sejati yang universal tumbuh di hati kita, dengan
menumbuhkan kebijaksanaan. Tanpa adanya kebijaksanaan, pengertian yang
jernih, tak akan ada cinta kasih. Untuk mendapatkan pengertian yang jernih
diperlukan kehidupan yang berkesadaran, kontak langsung dengan kekinian,
benar-benar melihat apa yang sedang terjadi di dalam maupun di luar diri
sendiri. Melatih kesadaran menguatkan kemampuan untuk melihat secara
mendalam. Kita akan dapat melihat dengan jernih bahwa tidak ada suatu diri
yang terpisah dari yang lain. Yang ada adalah saling menjadikan, saling
ketergantungan.
Buddha
menyadari saling ketergantungan. Setelah Beliau mencapai Penerangan Sempurna,
Beliau memandang Pohon Bodhi tempat beliau duduk bermeditasi dengan penuh
rasa terima kasih. Kita seyogianya meneladani apa yang Beliau lakukan,
berterima kasih kepada alam dan semua makhluk dengan memberikan ketulusan
kita dalam berbuat baik. Kalau kita semua dapat kembali pada ketulusan
berbuat baik, maka masyarakat kita akan damai dan sejahtera.
Jakarta, 01 Juni 2007
SANGHA MAHAYANA INDONESIA
Bhiksu Dharmasagaro Mahasthavira
Ketua Umum
SANGHA THERAVADA INDONESIA
Bhikkhu Jotidhammo Mahathera
Ketua Umum
SANGHA AGUNG INDONESIA
Bhikkhu Nyanasuryanadi Mahathera
Ketua Umum
Dikeluarkan oleh :
Sekretariat Jenderal Konferensi
Agung Sangha Indonesia (KASI)
Bhiksu Vidya Sasana
Sthavira
Sekretaris
Jenderal
WAISAK NASIONAL WALUBI 2551/2007
THEMA :
DENGAN SEMANGAT PENGAMALAN DHARMA SANG
BUDDHA MARI KITA TINGKATKAN TOLERANSI BERAGAMA UNTUK PERDAMAIAN DUNIA
SUB THEMA :
SELAMATKAN BUMI INI DARI KERUSAKAN DENGAN MENINGKATKAN PENGHAYATAN DHARMA SANG
BUDDHA DEMI KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP
|