| InfoBuddhis |
RIWAYAT
SHAKYAMUNI BUDDHA
1.1.KELAHIRAN BODHISATTVA
Di Jambudvipa (sekarang India), dinegara Shakya di India Utara bernama kerajaan Kapilavastu, terletak di utara sungai Rapti (sungai rohini),di daerah dekat pegunungan Hilamaya, diperintah oleh seorang Raja bernama Suddhodana dengan permaisurinya Ratu Maya Dewi (Dewi Mahamaya). Setelah duapuluh tahun perkawinan, mereka belum juga dikaruniai seorang Putra.
Pada suatu malam, Ratu Maya Dewi bermimpi aneh sekali. Dalam mimpi itu, Ratu Maya Dewi melihat seekor gajah putih turun dari langit memiliki enam gading dan sekuntum bunga teratai di mulutnya memasuki rahim Ratu Maya Dewi melalui tubuhnya sebelah kanan. Sejak mimpi itu Ratu Maya mengandung. Dia mengandung seorang bodhisattva dalam kandungannya selama sepuluh bulan.
Selama ia mengandung bodhisattva banyak kejadian ajaib terjadi. Misalnya, di mana saja ia pergi di Kapilavastu didampingi suaminya, Raja Suddhodana, Singa duduk dengan jinaknya di depan gerbang-gerbang, gajah-gajah menghormati raja, burung-burung diangkasa sangat bersuka cita mengiringi mereka. Ratu Maya dewi mendadak dapat mengobati orang sakit, banyak sekali orang sakit yang dapat diobati hingga sembuh. Dia sangat dermawan. Para dewa tidak menampakkan diri mendampingi permaisuri kemana dia pergi. Untuk tidak mengecewakan para dewa, Sang Bodhisattva membuat supaya Ratu Maya Dewi terlihat bersamaan di semua surga. Bila waktu malam, dia, memasuki ruang kamar tidurnya, tiga kamarnya mendapat pantulan cahaya dari tubuh permaisuri secara merata. Dan masih banyak lagi kejadian yang menakjubkan semua perbuatannya penuh welas asih.
Ketika waktunya telah tiba untuk melahirkan, Ratu Maya pergi ke Taman Lumbini dengan para dayangnya. Ratu juga meminta suaminya, Raja Suddhodana, ikut. Sudah tentu dipenuhi dengan segala senang hati. Juga para dewa yang tidak menampakkan diri ikut mendampinginya. Di saat bulan purnama sidhi (menurut aliran Utara atau Mahayana, beliau lahir tanggal 8 bulan 4, lunar tahun 566 S.M.; menurut aliran Selatan atau Hinayana, tanggal 6 May, tahun 623 S.M.), di Taman Lumbini ini (dekat perbatasan India-Nepal), Ratu Maya melahirkan seorang bodhisattva tanpa kesulitan dan para dayang yang mendampingi Ratu, menyaksikan dengan penuh kesenangan. Begitu pula Raja Suddhodana dan para dewa dan dewi yang mendampingi ratu.
Saat ia dilahirkan, bumi menjadi terang benderang,
seberkas sinar sangat terang mengelilingi bodhisattva yang baru lahir itu.
Sesaat ia dilahirkan, bodhisattva berjalan tujuh langkah dengan jari telunjuk
tangan kanan menunjuk ke langit, dan jari telunjuk tangan kiri menunjuk ke
bumi, yang artinya Akulah teragung, pemimpin alam semesta, guru para dewa
dan manusia. Para dewa yang mendampingi menjatuhkan bunga dan air suci
untuk memandikannya. Pada saat ia akan menapakkan kakinya ke bumi, timbullah
seketika itu tujuh kuntum bunga padma yang besar dibawah setiap langkahnya.
Setiap ia melangkah ia menghadap ke sepuluh penjuru. Juga bersamaan waktu
lahirnya, tumbuhlah pohon Bodhi.
Seisi alam menyambutnya dengan suka cita karena
telah lahir seorang bodhisattva yang pada nantinya dia akan menjadi pemimpin
alam semesta, gurunya para dewa dan manusia, mencapai Samyak Sam Buddha untuk
mengakhiri penderitaan manusia di alam samsara ini.
1.2.KUNJUNGAN PERTAPA ASITA
Pertapa Asita yang agung yang disebut juga Kala Devala berdiam di sebuah
pegunungan yang tidak begitu jauh dari istana. Pertapa Asita melihat sinar yang
sekonyong-konyong memancar terang-benderang di kawasan istana. Cahaya terang
ini dinilai oleh pertapa Asita sebagai suatu pertanda baik, maka beliau
bergegas menuruni gunung dan pergi menuju istana Raja Suddhodana.
Kunjungan pertapa Asita adalah untuk menyaksikan
tanda-tanda pada tubuh pangeran, memperhatikan dengan seksama dan menemukan
bahwa pangeran memiliki kewajiban besar (karena memiliki tanda-tandatubuh dari orang yang yang Agung yang disebut
Maha Purisa).
Kelahiran adalah sebagai suatu keajaiban sebab anggota-anggota
tubuhnya merupakan titisan para Dewa Aurva, Prithu, Mandhatari, dan Kakshivat,
para pahlawan dari masa lampau yang menyelinap masuk melalui paha, tangan,
kepala, dan ketiak. Dia lahir tanpa melukai dan menyakiti ibunya. Jadi dia
keluar dari rahim itu secara sempurna sebagai seorang Buddha.
Pertapa Asita tertawa setelah melihat pangeran. Tertawa
karena pada suatu hari nanti pangeran akan mencapai Kesempurnaan (Buddha),
sempurna dalam kebijaksanaan maupun Kewajiban, menjadi guru para dewa dan manusia.
Kemudian dia menangis. Menangis karena usianya yang telah lanjut dan tidak
mempunyai kesempatan lagi melihat dan mendengarkan pada saat pangeran mencapai Kesempurnaan
(Buddha) dan menjadi Juru Selamat dunia dengan mengajarkan Buddha Dharma.
Kemudian dia berlutut dan menghormat kepada pangeran dan tanpa disadari diikuti
oleh Raja Suddhodana.
Lima hari setelah pangeran lahir, Raja Suddhodana
mengumpulkan para pertapa di ruang istana untuk memberikan nama kepada
pangeran. Pangeran diberi nama Sidharta Gautama.Sidharta berarti
semua cita-citanya tercapai, dan Gautama adalah nama keluarganya.
1.3.MASA
KECIL, MASA REMAJA, DAN PERNIKAHAN PANGERAN
Ratu Maya Dewi tidak dapat menahan luapan perasaan
kegembiraan tatkala dia melihat seorang putra mahkotanya, yang dipersamakan
sebagai seorang ahli peramal yang paling bijaksana. Dan Ratu Maya begitu suci,
hingga ia tidak dapat melanjutkan untuk hidup sebagai seorang permaisuri biasa,
kemudian ia harus mengorbankan dirinya hidup menderita karena penolakan
putranya untuk menjadi raja di kemudian hari. Ataukah dia rela pergi ke surga,
tinggal di Surga Tusita pada hari ke tujuh setelah pangeran dilahirkan?
Pada suatu hari, raja dan pangeran kecil disertai para
pengasuh dan pembesar istana berjalan pergi kesawah untuk merayakan perayaan
membajak sawah. Pangeran diletakkan di bawah sebuah pohon besar yang rimbun.
Kemudian para pengasuh pergi untuk melihat jalannya upacara. Sewaktu
ditinggalkan seorang diri, pangeran kecil itu lalu duduk ber-meditasi dalam
keretanya, saat itu umurnya baru kira-kira lima tahun. Ayahnya yang melihat
kejadian tersebut menjadi sangat gembira dan memberi hormat kepada putranya
sambil berkata, “Putraku yang tercinta, inilah hormatku yang kedua.”
Sebagai pangeran dari sebuah kerajaan, beliau sebetulnya
hidup sangat bahagia, dia lebih pintar dari gurunya yang bernama Visvamitra
ketika ia berumur tujuh tahun, dan telah menguasai berbagai ilmu pengetahuan.
Dia adalah anak yang terpandai diantara teman-teman sekolahnya, dan sangat
cepat menguasai setiap pelajaran yang diberikan oleh gurunya. Dikelas dia
selalu duduk paling depan dan penuh perhatian, mengikuti setiap pelajaran yang
diberikan gurunya.
Pada umur 12 tahun, Pangeran Sidharta telah menguasai
berbagai ilmu pengetahuan, ilmu taktik perang, sejarah dan Pancavidya,
yaitu : sabda (bahasa dan sastra); Silpakarmasthana (ilmu dan
matematika); Cikitsa (ramuan obat-obatan); Hatri (logika); Adhyatma
(filsafat agama).
Dia juga menguasai Catur Veda: Rgveda (lagu-lagu
pujian keagamaan); Yajurveda (pujaan untuk upacara sembahyang); Atharvaveda
(mantra).
Pangeran Sidharta disamping pandai, juga seorang anak
yang sopan dan baik budi pekerti, dan sayang pada binatang terutama binatang
yang lemah.
Dia sangat pandai menunggang kuda dan gemar berburu. Bila
kuda yang ditungganginya telah letih, dia turun dari kudanya dan membiarkannya
untuk beristirahat dan mengusap-usap dengan penuh kasih sayang. Dia pergi
berburu bukan untuk membunuh binatang tapi mengajak binatang hutan untuk
bermain dan berkejar-kejaran.
Suatu hari, Pangeran Sidharta melihat Devadatta
dan teman-temannya berburu burung dengan panah. Devadatta memanah seekor burung
yang sedang berdiri di ranting pohon. Burung itu terkena panah Devadatta dan
jatuh ke bawah. Pangeran Sidharta cepat pergi menghampiri burung itu dan segera
mengobatinya. Devadatta meminta kembali burung itu dari Sidharta karena ia
merasa bahwa ia yang memanah burung itu dan harus menjadi miliknya. Tapi
Pangeran Sidharta mengatakan bahwa burung yang terpanah itu adalah miliknya.
Terjadilah pertengkaran diantara mereka untuk memiliki burung itu.
Akhirnya hal ini dibawa kepada seorang pejabat Dewan
Penasehat Kerajaan untuk dimintai pendapatnya. Pejabat Dewan Kerajaan
menjelaskan kepada mereka berdua bahwa burung yang terkena panah itu adalah
milik orang yang telah mengobati dan menyelamatkan hidupnya. Kemudian Pangeran
Sidharta melepaskan burung itu ke alam bebas.
Adalah suatu tradisi dalam lingkungan kerajaan di India
dimasa lampau di mana usia muda sudah dijodohkan dan dinikahkan. Ketika
pangeran mencapai usia 16 tahun, ayahnya menikahkan dia dengan sepupunya, Putri
Yasodhara yang sangat cantik juga berusia 16 tahun. Ini sebenarnya merupakan
janjinya di masa lampau kepada Sidharta untuk tetap mendampingi dan melayani
dengan setia.
Putri Yasodhara adalah kakak
perempuan dari Devadatta. Ibu mereka bernama Amita adalah adik perempuan
dari Raja Suddhodana yang menikah dengan Raja Suprabuddha.
Raja Suddhodana juga mempunyai tiga adik laki-laki,
masing-masing bernama Suklodana, Amrtodana, dan Drandana. Suklodana
mempunyai seorang putra bernama Ananda. Amrtodana mempunyai dua putra bernama Mahananma
dan Anuruddha. Dranana juga mempunyai dua putra, masing-masing
bernama Vibhasa dan Bhadrika.
Setelah pernikahan Pangeran Sidharta dengan Putri
Yasodhara, mereka hidup amat bahagia, karena mereka cocok satu sama lain.
Pangeran hidupnya sangat senang tapi hanya menikmati kesenangan hidup duniawi
dalam istananya. Namun demikian pangeran suka pergi menyendiri untuk merenung
di tempat yang sunyi dan tenang. Beliau tidak menderita, hanya mempunyai
perasaan belas kasihan yang mendalam terhadap semua makhluk.
Setelah beberapa kali berkunjung ke ibukota Kapilavastu,
beliau melihat empat pemandangan yang membuat dia terus berpikir, yakni : melihat
orang tua, orang sakit, orang mati, dan seorang pertapa mulia. Beliau
sangat tergugah hatinya oleh kejadian-kejadian tersebut. Beliau kembali ke
istana dan mendapat kabar bahagia bahwa seorang putra telah lahir. Namun beliau
tidak bahagia, karena menganggap bahwa kelahiran putra anak pertamanya hanya
sebagai belenggu. Maka kakeknya memberikan nama pada cucunya Rahula, artinya
belenggu.
1.4.KESADARAN
Empat peristiwa penting yang beliau lihat diluar istana
itu, yakni: tua, sakit, meninggal dan seorang pertapa mulia, menyadarkan beliau
bahwa semua itu harus dialami oleh semua makhluk, yakni setiap orang akan
menjadi tua, setiap orang dapat sakit, dan setiap orang tidak terelakkan pasti
suatu hari akan meninggal. Semua kejadian ini sungguh suatu penderitaan.
Peristiwa yang ketiga beliau lihat adalah orang
meninggal, sesosok mayat. Maka beliau berpikir bahwa baik buruk seorang lelaki
maupun perempuan, yang pandai maupun yang cantik, yang gagah maupun yang lemah,
semuanya pada suatu hari pasti akan meninggal dan tubuhnya akan menjadi mayat.
Mayat adalah suatu sosok tubuh yang tidak bagus dipandang.
Sejak saat itu, beliau mengundurkan diri dari sentuhan
para perempuan di istana, dan sebagai jawabannya atas bujuk rayuan Undayin,
penasehat raja, dia menjelaskan sikap barunya dengan kata-kata sebagai berikut
:
“bukanlah saya memandang rendah hakekat dari rasa, dan
saya mengetahui baik bahwa mereka itu membuat apa yang dinamakan dunia.
Tapi bila saya mempertimbangkan ketidakkekalan dari dunia ini, saya menemukan
tiada kebahagiaan di dunia ini. Usia tua, sakit, dan kematian tidak luput dari
kehidupan manusia. Jika kecantikan dari wanita adalah kekal abadi, pikiran saya
tentu sudah menuruti kata hati dan dalam hawa nafsu. Kenyataannya sejak
kecantikan perempuan tidak melekat lagi, maka tubuhnya menua karena usia
melunturkan kecantikannya. Menyenangi perempuan merupakan khayalan. Semua
kenyataan ini sungguh menakutkan. Bagaimana dapat seorang pintar tidak
memperdulikan akan bencana itu? Kapan dia mengetahui penghancuran yang akan
datang?”
1.5.MENINGGALKAN
ISTANA (DUNIAWI)
Setelah mantap pada pendiriannya maka beliau pergi
mencari obat agar orang tidak menjadi tua, tidak menjadi sakit, dan tidak
meninggal, untuk dipersembahkan kepada setiap orang. Pada saat itu beliau
berusia 29 tahun, dan dengan seijin Raja Suddhodana beliau meninggalkan
keduniawian. Pada malam sebelum kepergiannya, beliau sekali lagi memandang
kepada istrinya dan anaknya. Diam-diam tanpa memberitahukan kepada mereka,
beliau meninggalkan istana dengan kudanya yang bernama Kanthaka dan
ditemani oleh seorang pengawal, anak menteri, bernama Candaka.
Selama dalam perjalanan ke desa dia menikmati pemandangan
yang indah, tapi melihat para petani bercucuran keringat kelelahan membajak
sawah, tanah dipacul dan dibuang kesamping, dan kelihatan cacing dan binatang
melata lainnya terputus badannya oleh ayunan pacul. Semua ini membuat dia berpikir,
sungguh semua makhluk hidup menderita.
Karena kesucian yang tinggi dalam benaknya terbentuklah
sikap akan kepribadian yang luhur, dia melangkah turun dari kudanya dan
berjalan dengan hati–hati dan perlahan-lahan diatas tanah, melewatinya dengan
gundah-gulana. Pikirannya penuh dengan hal-hal kesengsaraan dan penderitaan
makhluk hidup.
Pikirannya perlu ketenangan. Dia memisahkan diri dari
temannya yang berjalan dibelakangnya dan pergi mencari suatu tempat sunyi dekat
sebuah pohon besar yang rimbun. Daun-daun yang menyejukkan dari pohon itu dalam
keadaan tidak bergerak, dan tanah dibawah itu nyaman. Disana ia duduk bersila,
memikirkan mengenai asal mula dan matinya dari semua makhluk hidup. Pikirannya
terus menerawang mengenai hal-hal tersebut. Pikirannya penuh konsentrasi dan
menjadi tenang. Ketika ia memenangkan kerisauan, dia tiba-tiba bebas dari semua
keinginan akan hakekat rasa dan kenafsuan duniawi. Dia telah mencapai tingkat
pertama mengenai ketenangan luar biasa, yaitu tenang di tengah-tengah pikiran
yang beraneka ragam. Dalam tempatnya itu, dia telah berada pada tingkat
kesucian pikiran yang luar biasa. Sekarang dia tidak gembira maupun duka, tidak
mengenal tawa atau tangis.
1.6.BERTEMU PERTAPA SECARA TIBA-TIBA
Pengertian yang sifatnya murni dan bersih ini tumbuh
lebih lanjut dalam jiwanya yang luhur. Dia melihat seorang pria muncul
kehadapannya yang tidak kelihatan oleh orang lain, yang muncul dalam samaran
sebagai seorang peminta-minta saleh.
Pangeran lalu bertanya, “Katakanlah kepada saya siapa
anda?”
Jawabannya adalah : “Oh bagaikan sapi jantan di antara
orang-orang, saya adalah pertapa, yang ditakuti oleh kelahiran dan kematian,
telah mengambil suatu kehidupan berkelana untuk mencapai keselamatan. Karena
seluruh akhirnya tidak kekal. Keselamatan dari dunia ini adalah apa yang saya
inginkan dan saya mencari kebahagiaan yang paling sempurna, di mana pemusnahan
tidak dikenal. Sanak keluarga dan orang asing sama saja bagi saya, perasaan
rakus serta kebencian juga telah sirna.
Pertapa ini bernama Arada Kalama dan Pangeran Sidharta
Gautama langsung berguru kepadanya. Sebagai gurunya yang pertama dalam hal
untuk mencari pembebasan penderitaan bagi dunia. Chandaka yang mendampinginya
di suruh pulang dengan kudanya, Kanthaka.
“Temanku, jangan bersedih, “ ujar pangeran, “ Bawalah
kuda ini serta pesan saya kepada raja dan rakyat di Kapilavastu yang selalu
memperhatikan saya. Hentikan rasa kasih sayang kepadaku dan dengarkanlah
ketetapan hatiku yang tak tergoyahkan. Apa aku akan meleyapkan usia tua dan
kematian, dan kemudian engkau akan segera melihat aku lagi. Atau aku akan
kehilangan semua, sebab aku gagal dan tidak dapat mencapai tujuan.”
Pangeran Sidharta Gautama telah menjadi pertapa kelana.
Beliau juga telah menjadi Bodhisattva. Beliau tidak puas mengikuti gurunya yang
pertama ini, karena ia hanya dapat belajar sampai pada tingkatan tertentu saja
dalam meditasi. Lalu beliau mencari lagi orang suci lain yang bernama Undraka
Ramaputra.
Dengan guru yang kedua ini beliau juga tidak puas, karena
hanya sampai pada tingkat meditasi yang lebih tinggi saja. Yang beliau ingin
cari adalah Kebahagiaan sejati, yaitu akhir dari segala penderitaan. Akhirnya
alkisah beliau memutuskan untuk berdaya upaya sendiri.
1.7.LATIHAN MENGENAI
KEKERASAN
Sejak waktu itu, pangeran yang sekarang telah menjadi
seorang Bodhisattva, dengan rajin belajar pelbagai latihan di antara para
pertapa dan para yogi. Dia berkelana mencari tempat pengasingan yang sunyi,
untuk tinggal pada tepi sungai Nainranjana. Lima orang pertapa telah tinggal pada
tepi sungai itu, sebelum ia menuju kesana.
Kesucian dari lubuk hati muncul dari keberanian dirinya
sendiri. Mereka menempuh kehidupan dengan disiplin keras sekali, dalam ketaatan
terhadap janji agama masing-masing mengenai lima perasaan.
Ketika para pertapa itu melihat dia disana , mereka
menunggu dia untuk memberikan ajaran perihal pembebasan, menunggu seorang yang
agung yang hakekat kebaikan dari kehidupan lampaunya telah memberikan berkah
dan karunia.
Mereka menyapa dengan hormat, membungkukkan badan mereka
di hadapan bodhisattva, mengikuti petunjuknya, dan menempatkan diri mereka
sendiri sebagai murid dibawah pengawasannya. Bagaimanapun juga, dia mulai pada
cara tapa yang keras, dan khususnya mengenai penderitaan akibat kelaparan sebagai
jalan mengakhiri kelahiran dan kematian. Karena keinginannya yang
sungguh-sungguh badannya menjadi kurus selama enam tahun, dengan melaksanakan
puasa secara ketat, yang sangat sukar bagi orang biasa untuk bertahan. Pada jam
makan, dia harus puasa bila hanya makan sebutir, yang maksudnya dia telah
memenangkan pantai Samsara. Sehingga tubuhnya menjadi kurus kering, hanya
tinggal tulang-belulang terbungkus kulit.
Pda suatu hari, dia sedang duduk dibawah pohon bodhi
terdengar suara lagu yang syairnya kira-kira mempunyai arti sebagai berikut:
“bila senar gitar ini dikencangkan,
Suaranya akan
semakin tinggi.
Kalau terlalu
kencang,
Putuslah senar
gitar itu, dan lenyaplah suara gitar itu.
Bila senar gitar
ini dikendorkan,
Suaranya akan
semakin rendah.
Kalau terlalu
dikendorkan,
Maka lenyaplah
suara gitar itu.
Karena itu wahai
manusia,
Mengapa belum
sadar-sadar pula,
Dalam segala hal
janganlah keterlaluan.”
Akhirnya Pertapa Gautama menghentikan tapanya yang sangat
ekstrim yang telah dijalani selama enam tahun di hutan Uruwela.
1.8.PEMBERIAN
NANDABALA
Kemudian pertapa Gautama pergi ke sungai untuk mandi.
Sesudahnya mandi, dia hampir tidak kuat bangun ke permukaan tepi sungai
disebabkan badannya sangat lemah. Dengan bersusah payah akhirnya sampai juga
didarat dan berjalan tidak terlalu jauh, dia duduk dibawah pohon Asetta.
Seorang wanita yang kebetulan lewat, melihat tubuh pertapa Gautama begitu
lemah. Wanita itu bernama Nandabala, memberikan dia semangkuk susu yang dimasak
dengan nasi. Setelah makan, badannya terasa hangat dan segar.
Kelima pertapa yang telah bersama-sama dia selama enam
tahun, menyaksikan kejadian ini lalu meninggalkan dia. Mereka sangat kecewa
hatinya dan menganggap pertapa Gautama telah gagal, dan pergi meninggalkan dia
seorang diri.
Pertapa Gautama berpikir bahwa cara yang selama ini
dilakukan adalah salah. Lagipula, dia selama ini belum dan bahkan tidak dapat
menemukan apa yang dicarinya. Dia berkesimpulan bahwa hanyalah dengan badannya
yang sehat dan pikiran yang jernih, barulah dapat meneruskan niatnya untuk
mencapai penerangan sempurna. Seterusnya, pertapa gautama makan kembali
sekedarnya.
Dengan kebulatan tekad dan keyakinan diri sendiri,
akhirnya pertapa Gautama memutuskan untuk bermeditasi. Dia mencari tempat yang
sunyi, tenang, Di bawah pohon bodhi (diceritakan bahwa pohon bodhi ini tumbuh
bersamaan waktu ia lahir). Selanjutnya dia duduk bermeditasi dengan sikap duduk
Padmasana dan berjanji kepada dirinya sendiri. Dia tidak akan bergeming
sedikit pun juga, dan berhenti bermeditasi ditempat ini sebelum tujuannya
memperoleh penerangan (Nirvana) tercapai.
1.9.MENGALAHKAN MARA
Pertapa Gautama adalah keturunan dari para pertapa yang
setia dan memiliki kebijaksanaan tinggi. Dia telah memutuskan untuk mengalahkan
kemelekatan dan memenangkan pembebasan. Dalam meditasinya datanglah Mara
untuk mengoda. Mara adalah musuh utama Bodhisattva, namun dia dapat menaklukkan
godaan Mara.
1.10.PENERANGAN
Setelah mengalahkan Mara, dengan kebulatan tekad dan
ketenangannya, Bodhisattva Gautama berhasil meneruskan meditasinya. Akhirnya
Bodhisattva Gautama secara berturut-turut telah mengalami :
Ketika Bodhisattva Gautama mampu mengalahkan para
pengikut Mara, beliau telah mengalami yang pertama kali dari empat tingkatan
dhyana.
Pengamatan pertama malam itu:
Dengan kekuatan mata batinnya yang luar biasa
(divyacaksus), Dia menghancurkan kegelapan (tamas) dan menghasilkan
terang (alokam).
Dalam pengamatan menengah, Dia mengingat kehidupan masa
lampaunya dan memperoleh pengetahuan seperti itu (vidya).
Dan pengamatan ketiga, ketika fajar menyingsing, Dia
menyadari dan memperoleh pengetahuan mengenai penghancuran dari asravas.
Selanjutnya, dia merenungkan sampai tiga kali tentang 12
jenis pratitya samutpada. Pertama-tama, dia mulai dengan usia tua
dan kematian, dan berpikir, “Apa yang terjadi mengenai jaramarana? Apakah
penyebabnya?” Dia mengulangi pertayaan itu sampai pada avidya.
Yang kedua kali, dia mulai dengan avidya, dan
berpikir demikian, Samakara timbul dari avidya sebagai
penyebabnya, dan seterusnya, sampai pada hubungan mata rantai pratitya-samutpada
yang terakhir.
Yang ketiga kali, dia mulai dengan jara-marana dan
berpikir demikian, “Apa yang tidak bereksistensi, jara-marana tidak akan
terjadi? Apa yang menyebabkan penghentian jara-marana? Dia meneruskan
dengan cara ini dan berakhir pada avidya. Kemudian Dia menyadari bahwa
Pengetahuan, Penglihatan ke dalam, Kebijaksanaan, dan Penerangan telah timbul
dalam dirinya.
Dia telah mengetahui fakta dan hakekat dari penderitaan
itu, mengenai asravas, dan perihal 12 faktor tentang sebab-musabab yang saling
bergantungan. Dia mengetahui pula tentang asal mula dan sebab penghentian semua
itu, dan juga jalan menuju ke Penghentian itu. Jadi Dia memperoleh Pengetahuan
kelipatan tiga dan memperoleh Penerangan sempurna yang tertinggi. Dia
mengetahui, mengerti, menyaksikan, dan merealisasikan semua yang di ketahui,
dimengerti, disaksikan, dan direalisasikan.
Dia kemudian bangun dan melompat ke angkasa dengan
ketinggian tujuh kali pohon bodhi. Dia berbuat demikian untuk meyakinkan para
deva bahwa Dia telah memperoleh Penerangan. Dia mengucapkan sajak berikut ini :
“Jalan itu telah diputuskan; debu itu telah
dihilangkan;
Asravas telah
dikeringkan, mereka tidak akan mengalir lagi.
Bila jalan itu
telah diputuskan, dia tidak kembali lagi,
Ini dinamakan akhir
dari Penderitaan.”
Semua Buddha harus menunjukkan tanda-tanda kemampuan
seperti itu. Para dewa menaburi aneka bunga kepada-Nya dan mengakui
ke-Buddha-an-Nya. Penerangan dan kebahagiaan menyebar ke seluruh alam semesta,
dan sampai menggoncangkan enam alam. Semua Buddha memuji Buddha yang baru itu
dan menghadiahkan Dia payung permata yang mengeluarkan sinar penerangan. Semua
Bodhisattva dan deva gembira dan memuji Buddha itu. (Penerangan ini
diterjemahkan dari Penerangan yang di edit oleh P.Ghosa, Calcutta, 1902-13,
Bibliotheca Indita, Catasahasrika Prajna Paramita, Bab I-XII)
Menurut versi Hinayana, beliau memperoleh Penerangan atau
Pencerahan Agung dan menjadi Buddha (Samyak-Sam-Buddha) dibawah pohon Bodhi di
Bodh-Gaya, pada saat bulan Purnama Sidhi pada hari Waisak, pada usia 35 tahun.
Sedangkan menurut versi Mahayana, Beliau mencapai Penerangan atau menjadi
Buddha Shakyamuni (Samyak-Sam-Buddha) pada tanggal 8 bulan 12 (lunar).
Setelah Beliau mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi
Buddha, dari tubuh suci Beliau memancarkan enam sinar yang disebut Buddharasmi
atau Sinar Buddha.
Sejak saat itu dan selama hidup-Nya, Beliau dapat
memancarkan enam sinar suci itu bilamana dikehendaki-Nya. Kadang-kadang Beliau
mengirim sinar suci-Nya dengan warna-warna itu untuk mengubah tabiat para
manusia.
Enam warna sinar-Nya adalah :
1.Nila = biru.
Berarti bakti
atau pengabdian. Dia telah menjadi Buddha mempunyai sifat bakti dan pengabdian
yang tiada taranya kepada manusia yang menderita.
2.Pita = kuning.
Berarti
kebijaksanaan, mahatahu, seorang Buddha adalah berpengetahuan luas dan mahatahu
(Sarvakarajnata).
3.Rohita = merah.
Berarti kasih
sayang dan welas asih. Seorang Buddha mempunyai rasa maha kasih sayang dan maha
welas asih yang tidak terbatas terhadap semua makhluk. Pada seorang Buddha
sudah tidak ada lagi rasa benci, sentimen, kejam, iri hati, dan dengki, yang
ada pada diri-Nya hanya maha welas asih kasihan tanpa perbedaan dan perasaan
bahagia bila mengetahui atau melihat orang lain dapat hidup senang dan bahagia.
4.Avadata = putih
Berarti suci.
Seorang Buddha telah suci batin-Nya dan pikiran-Nya tidak dapat dikotori lagi
oleh segala macam kekotoran dunia. Maka dari itu seorang Buddha atau
Bodhisattva dilukiskan sebagai mutiara yang berada di atas bunga teratai (mani-padma).
Bunga teratai
meskipun tumbuh dirawa yang penuh lumpur, diatas bunga teratai itulah seorang
Buddha atau Bodhisattva duduk atau berdiri laksana mutiara yang putih
berkilauan, yang bebas dari segala kekotoran dan tidak dapat kena kotoran
karena dialasi bunga teratai.
5.Manjistha
= orange, jingga.
Berarti giat,
Seorang Buddha mempunyai semangat yang luarbiasa, giat menyebar Dharma kepada dewa dan manusia serta melakukan
segala perbuatan baik yang berfaedah bagi orang banyak dan makhluk-makhluk
lainnya.
6.Prabhasvara =
bersinar-sinar, sangat terang, cemerlang merupakan warna campuran dari kelima
warna tersebut diatas; berarti campuran dari kelima sifat tersebut diatas.
Selama tujuh hari Beliau meneruskan meditasinya di tempat
yang sama. Tubuh-Nya tidak memberikan kesusahan pada-Nya, matanya tidak pernah
tertutup, dan pikiran-Nya terus bekerja. Dia merenung, “Di tempat inilah saya
menemukan Pembebasan.” Dia mengetahui kemauan-Nya akhirnya terpenuhi.
Ketika itu Indra dan Brahma sebagai dua kepala Deva yang
tinggal di langit, telah mengerti kemauan Tathagata Sugata (Shakyamuni) untuk
memprokamirkan jalan itu untuk kedamaian. Tubuh mereka yang bercahaya terang
mendatangi Dia, dengan hormat dan ramah berkata kepada-Nya,
“Harap jangan menyalahkan semua makhluk sebagai tidak
berguna, disebabkan keinginan harta benda seperti itu didunia ini! Jadi dengan
tidak membeda-bedakan mereka adalah amal Wiyata. Sementara sebagian dari mereka
masih memiliki hawa nafsu, sebagian lainnya hanya memiliki sedikit hawa nafsu.
Sekarang Engkau, oh Yang Maha Bijaksana,telah ber-Penerangan dan menyeberangi
lautan Samsara ini, tolonglah menyelamatkan juga makhluk lain yang telah
tenggelam sebegitu jauh dalam penderitaan.”
Kedua deva itu bersabda demikian, karena mereka tahu
bahwa dengan mata batin yang dimiliki seorang Buddha, Beliau telah melihat
dalam dunia itu banyak makhluk berpandangan rendah dan hidup secara keliru,
jiwanya tertutup tebal oleh kekotoran hawa nafsu. Dari sisi lain, dia menyadari
banyak kepelikan dari Dharma-Nya tentang Pembebasan. Dia cenderung untuk tidak
mengajarkan Dharma, namun ketika Dia cenderung untuk tidak mengajarkan Dharma,
namun ketika Dia mempertimbangkan arti dan janji-Nya untuk memberikan
Penerangan kepada semua makhluk, yang telah dia ucapkan pada masa lampau, dia
mempertimbangkan kembali untuk memproklamirkan Jalan itu untuk Kedamaian.
Sesudah membuat permintaan ini kepada Yang Maha Bijaksana
kedua deva itu memohon diri dan kembali ke surga tempat mereka. Yang Maha
Bijaksana mempertimbangkan kembali dengan hati-hati atas kata-kata mereka.
Akhirnya keputusan-Nya, Dia menyetujui untuk membebaskan dunia ini dari
Penderitaan.
Yang Maha Bijaksana teringat akan Arada dan Undraka
Ramaputra adalah dua orang yang terbaik dan cocok untuk memahami
Dharma-Nya. Namun dengan mata batin-Nya, Dia melihat kedua pertapa itu telah
meninggal dan berdiam diantara para deva dilangit. Pikiran-Nya kemudian
ditujukan kepada lima orang pertapa yang dahulu pernah bersama-sama Beliau
menjalani tapa yang sangat ekstrim.
Sebelum Beliau pergi sendiri ke kota Kashi, sekali lagi
Beliau memandang ke pohon Bodhi itu sebagai tanda ucapan terima kasih karena di
tempat inilah Beliau mencapai Penerangan.
1.11.BERTEMU DENGAN
SEORANG PERTAPA
Buddha Gautama telah menyelesaikan tugas utamanya, dan
sekarang Dia dengan tenang dan penuh keagungan pergi berkelana sendirian. Tapi
sesungguhnya para deva, Bodhisattva, dan Buddha selalu mendampingi Dia.
Ada seorang pertapa yang sungguh-sungguh berniat
mempelajari Dharma. Ketika dia melihat Buddha Gautama di jalan, karena
keheranan dia bersikap anjali dan berkata kepada-Nya,
“Perasaan orang lain tiada henti-hentinya bagaikan kuda,
tapi perasaan-Mu telah dijinakkan. Makhluk lain memiliki hawa nafsu, tapi hawa
nafsu-Mu telah berhenti. Tubuh-Mu bersinar bagaikan bulan di langit pada malam
hari. Anda muncul dengan Kebijaksanaan baru. Paras-Mu mencerminkan
intelektual. Anda telah menguasai perasaan-Mu dan memiliki mata bagaikan seekor
sapi jantan yang sangat kuat. Tiada diragukan lagi, Anda telah mencapai
tujuan-Mu. Siapa guru Anda, dan siapa yang telah mengajarkan Anda kebahagian
yang luar biasa ini?”
Buddha Gautama menjawab, “Saya tidak mempunyai guru.
Tidak satupun yang perlu saya muliakan, dan tiada seorang jua Saya harus
memandang rendah. Nirvana telah saya peroleh dan saya tidak sama seperti yang
lainnya. Saya tenang oleh Saya sendiri sebagaimana engkau lihat sendiri, karena
saya telah menguasai Buddha Dharma. Secara sempurna Saya telah mengerti apa
yang harus di mengerti hal itu. Itulah alasan mengapa Saya adalah seorang
Buddha.”
Setelah mendengarkan penjelasan itu, pertapa itu pergi,
walaupun dia melihat Hyang Buddha dengan penuh keheranan.
1.12.PERTEMUAN DENGAN
LIMA ORANG PERTAPA
Yang Maha Bijaksana tiba dikota Kashi, melihat kota ini
menyerupai daerah pedalaman bagaikan suatu bunga rampai. Kota Kashi yang
terletak diantara dua sungai, Sungai Bhagirathi dan Varanasi, yang saling
bertemu seperti sepasang kekasih yang bersatu. Beliau dengan tubuh gemerlapan
yang penuh keagungan, bersinar bagaikan sinar matahari, Dia pergi ke Taman
Rusa. Taman Rusa ini sering dikunjungi oleh para pertapa besar. Diwaktu malam
terdengar jelas gemerisik suara pohon-pohon dan gema dari bunyi burung-burung
elang malam ditaman tersebut.
Yang mendiami taman ini adalah kelima pertapa yang
bernama Ajnata Kaundiya, Mahanaman, Vaspha, Asvajit,
dan Bhadrajit. Ketika mereka melihat Dia dari kejauhan, mereka berkata
satu sama lainnya, “Itulah teman kita yang dulu simpatik dan baik, pertapa
Gautama, yang menyerah atas kekerasan. Bila dia datang kepada kita, sudah tentu
jangan menemuinya. Jelas dia tidak berharga untuk disalami. Orang-orang yang
telah melanggar janjinya tidak patut mendapat hormat.” “Sudah pasti, jika dia
ingin berbicara dengan kita, marilah kita dengan segala cara jangan
menghiraukan dia. Bagi orang suci tidaklah perlu menghargai para pengunjung,
siapapun mereka yang tidak taat pada disiplin.”
Para pertapa itu, ketika Hyang Buddha datang menghampiri
mereka dengan segera membatalkan rencana semula. Semakin dekat Dia datang,
semakin lemah niat mereka untuk menghindar. Salah satu mengambil jubahnya, yang
lain dengan tangan melipat mengeluarkan mangkuk-untuk-meminta-minta, yang
ketika menawarkan tempat duduk yang layak, dan yang dua lagi memberikan air
untuk mencuci kaki-Nya.
Dengan sikap hormat yang bermacam-macam ini, mereka
memperlakukan Dia sebagai guru mereka. Tapi mereka dengan tiada henti-hentinya
memanggil Dia dengan nama keluarganya, sebab kelima pertapa itu belum
mengetahui bahwa Gautama sekarang ini telah menjadi seorang Buddha.
Gautama memberitahukan bahwa sekarang ini Dia bukan lagi
Gautama seperti dulu selagi bersama-sama bertapa, tapi sudah menjadi seorang
Buddha. Kelima pertapa itu mengikuti disiplin yang keras saja tidak diindahkan.
“Bagaimana mungkin dengan perbuatan dulu itu sekarang Gautama dapat mengerti
Kebenaran yang sesungguhnya, “ pikir para pertapa, “apa dasarnya Engkau
mengatakan kepada kami bahwa engkau telah melihat Kebenaran?” tanya para
pertapa itu.
1.13.MEMUTAR RODA DHARMA
Para pertapa itu tidak mempercayai Kebenaran yang
ditemukan oleh Tathagata. Karena Jalan untuk Penerangan yang ditemukan Dia
adalah berbeda dari mereka dengan cara latihan kekerasan. Buddha Gautama
mengurai secara terinci kepada mereka jalan itu. Jalan itu adalah pengetahuan
yang ditemukan dan dialami langsung oleh Dia. Sedangkan ‘orang bodoh hanya
menyiksa diri mereka sendiri, dan mereka hanya melekat pada pengendalian
perasaan’. Kedua cara ini harus dianggap keliru, sebab cara mereka bukanlah
menuju pada jalan yang kekal. Inilah yang dinamakan jalan kekerasan yang
membingungkan pikiran sebab lebih dikuasai oleh keletihan tubuh.
Jadilah mereka kehilangan kemampuan untuk dapat mengerti
risalah doktrin. Mereka masih banyak kekurangannya. Apakah mereka bersedia
mengubah cara mereka hanya dengan penekanan hawa nafsu menuju Ketenangan? Dia
telah meninggalkan kedua cara yang ekstrim itu, dan telah menemukan Jalan lain,
yaitu Jalan Tengah.
Jalan tengah itu menuju ketentraman dari segala
Penderitaan, lagipula Jalan Tengah Itu bebas dari segala Kebahagiaan dan
Kesenangan. Hyang Buddha kemudian menguraikan dengan terinci kepada kelima
pertapa itu Empat Kesunyataan Mulia’(Catvari Arya Satyani) dan
Delapan Jalan Utama atau Jalan Benar dan Suci sebagai Jalan Tengah (Arya
Astangika Marga).
Khotbah Hyang Buddha yang pertama ini di Taman Rusa
dikenal dengan nama Pemutaran Roda Dharma (Dharmacakra Pravartana Sutra).
Ajnata Kaundiya adalah Bhiksu pertama yang ditahbiskan oleh Hyang Buddha,
menyusul keempat temannya.
1.14.PERTEMUAN ANTARA AYAH DENGAN ANAK
Pada suatu hari Hyang Buddha pergi ke Kapilavastu. Dia
ingin memberikan Khotbah kepada ayah-Nya tentang Dharma. Beliau juga
menunjukkan kemampuan-Nya yang menakjubkan kepada ayah-Nya. Maka hal itu
membuat ayah-Nya lebih mantap untuk menerima Dharma. Ayahnya meluapkan
kegembiraannya setelah mendengarkan Dharma. Dia melipat tangannya sebagai tanda
sebagai tanda hormat dan berkata kepada anaknya, “Bijaksana dan berhasil adalah
perbuatan-Mu, dan Engkau telah melepaskan saya dari Penderitaan besar.”
Kesenangan sebagai hadiah dari bumi ini, yang dinikmati
oleh kita tiada lain hanyalah duka. Sekarang saya merasa senang mempunyai
seorang anak yang berhasil. Engkau benar telah melakukan pekerjaan besar
seperti itu. Dan sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk-Mu menyelami
perasaan terharu kami, sanak keluarga-Mu yang tercinta, yang telah mencintai-Mu
dengan penuh kasih sayang, semua itu telah Engkau tinggalkan.
Demi kepentingan dunia yang penuh penderitaan, Engkau telah
menempuh kenyataan yang paling benar, yang tidak ditemukan bahkan oleh para
pertapa di masa lampau baik oleh para dewa maupun raja.
Jadi Engkau telah memilih jalan untuk menjadi Kepala Alam
Semesta, sebagaimana Engkau telah memberikan kepada saya kesenangan yang
melebihi segala sesuatu yang pernah saya rasakan, dan dengan menyaksikan
kemampuan-Mu yang menakjubkan dan mengenai Dharma-Mu yang suci. “
Ayah-Nya melanjutkan ucapannya, “Engkau telah menaklukan
penderitaan besar bagi dunia Samsara. Engkau telah menjadi seorang Maha
Bijaksana yang telah memproklamirkan Dharma demi kebahagiaan dunia.
Kemampuan-Mu yang Menakjubkan, intelektual-Mu yang cemerlang, Pelarian diri
yang pasti dari bahaya yang tidak terhitung miliknya dunia Samsara. Hal-hal
seperti ini telah membuat Engkau menjadi raja yang berdaulat atas dunia,
sekalipun tanpa lencana kerajaan.”
1.15.PERJALANAN
LEBIH LANJUT
Sesudah itu Hyang Buddha melanjutkan perjalanan pergi mengunjungi
Shravasti. Beliau menunjukkan kemampuan-Nya yang menakjubkan kepada rakyat
Shravasti dan menyangkal ajaran-ajaran setempat yang tidak benar. Shravasti
memberikan penghormatan besar dan memuja Dia. Hal ini mengingatkan Raja Prasenajit
dan menghadiahkan Dia sebuah hutan kecil Jetavana untuk tempat istirahat
dan memberikan Khotbah kepada rakyat.
Kemudian Beliau berpisah dengan rakyat Shravasti berhubung Beliau ingin
pergi berKhotbah ke tempat lain, yakni ke langit tingkat ke-33, di mana ibu-Nya
tinggal.
Dia berjalan tegak dengan penuh keagungan yang mulia dan menakjubkan bagi
siapa saja yang melihat-Nya. Dia pergi ke langit untuk menemui ibu-Nya dengan
maksud memberikan Khotbah Dharma demi kebaikan ibu-Nya. Pada saat menjelang
keberangkatan-Nya, pada raja bumi membungkuk rendah dan muka mereka menengadah
ke langit sebagai tanda hormat melepas keberangkatan Beliau. Dengan kemampuan
yang dimiliki-Nya, sebentar saja Beliau sudah sampai ke langit tempat tinggal
para dewa.
Dalam perjalanan-Nya menuju ke langit tingkat Ke 33, Beliau telah melewati
musim hujan di langit, dan menerima derma dari raja dewa yang tinggal di alam
non-materi. Sesudah melewati dunia dewa, Dia meneruskan perjalanan-Nya dan
pergi ke bawah ke wilayah Samkashya. Para dewa di wilayah ini, setelah menerima
kehadiran-Nya , masing-masing memperoleh pendalaman ketenangan dan kemajuan
spiritual yang lebih tinggi lagi. Ketika Beliau hendak meninggalkan mereka,
para dewa berdiri di depan rumah besar mereka untuk memberikan hormat sebagai
tanda ucapan terima kasih. Mata mereka terus mengikuti keberangkatan-Nya sampai
Beliau menghilang.
Setelah Beliau sampai dilangit
Ke-33 – tempat tinggal ibu-Nya – Buddha Gautama memberikan petunjuk dan Khotbah
kepada ibu-Nya dan juga para dewa sekalian yang berada di sana. Yang Maha
Bijaksana meluruskan jalan mereka dan semua juga telah siap untuk mendengarkan
Khotbah dan petunjuk-Nya karena mereka semua menaruh kepercayaan terhadap
Buddha Dharma.
Ibu-Nya – setelah mendengarkan Khotbah-Nya – juga mencapai tingkat Arahat.
Setelah selesai memberikan Khotbah dan petunjuk, Beliau kembali lagi ke Bumi.
1.16.PENYEBARAN BUDDHA DHARMA
Buddha Gautama semasa hidup-Nya selama empat puluh lima
tahun terus-menerus menyebarkan Buddha Dharma ke berbagai negeri. Beliau telah
pergi menyebar Dharma sampai ke tengah-tengah lembah Sungai Gangga bagian Utara-Timur
India, Benares,Uruvela, Rajagraha, Veasali, Sravasti, Kosambi, dan
Kapilavastu.
Murid ke enam Buddha Gautama bernama Yasa, anak
dari keluarga kaya. Yasa menjadi murid Hyang Buddha karena merasa jijik melihat
kesenangan duniawi yang penuh kepalsuan dan kekotoran batin.
Ayah dan ibunya juga menjadi Upasaka dan Upasika.
Teman-temannya sebanyak 54 orang juga menjadi murid Hyang Buddha. Jumlah semua
Bhiksu menjadi 60 orang. Semuanya anggota Sangha dan mencapai Arahat
(Ariya Sangha). Upasaka dan Upasika yang telah mencapai tingkat Arahat
disebut Ariya Punggala. Bhiksu yang anggota Sangha yang belum mencapai
tingkat Arahat di sebut Samsuri Sangha. Sangha untuk pertama kali dibentuk oleh
Hyang Buddha beranggotakan lima orang yaitu murid-muridnya kelima pertapa itu.
Hyang Buddha untuk pertama kali di Taman Rusa (Isipatana) kepada
siswa-Nya (60 orang Arahat) anggota sangha mengucapkan Saranataya atau Tisaranagamana
Upasampada yang berarti perlindungan ke pada Buddha, Dharma, dan Sangha.
60 bhiksu itu juga menyebarkan Buddha Dharma secara
sendiri-sendiri ke berbagai negeri. Karena tiap-tiap negeri di Jambudvipa atau
India kaya dengan bahasa-bahasa, maka Hyang Buddha mengijinkan murid-murid-Nya
dalam membabarkan Dharma boleh memakai bahasa setempat agar dapat dimengerti
oleh para pendengar. Hyang Buddha memberikan nasehat kepada mereka, “oh para
bhiksu, majulah terus dalam menyebarkan Buddha Dharma demi kebaikan manusia.
Siarkanlah Dharma ini untuk kebahagiaan orang banyak.”
Buddha Gautama sendiri juga menyebarkan Buddha Dharma.
Banyak orang yang telah mendengarkan Buddha Dharma yang
dibabarkan oleh para siswa Hyang Buddha ingin menjadi bhiksu juga. Para bhiksu
itu membawa mereka yang ingin menjadi bhiksu ke Hyang Buddha. Karena setiap
kali bila ada yang ingin menjadi bhiksu terlebih dahulu dibawa ke hadapan Hyang
Buddha, atas pertimbangan perjalanan yang jauh dari satu negeri dan kemudahan
maka Hyang Buddha mengijinkan para siswanya untuk mentahbiskan calon bhiksu
dengan syarat mengucapkan Saranatayaatau mengulangi Tisarana
yaitu TisaranagamanaUpasampada, calon bhiksu harus mencukur
rambut, jenggot, kumis, memakai jubah (warna kuning atau coklat), berlutut dan
bersikap anjali.
Ada tiga macam Bhiksu, yaitu :
1.Ehi
Bhikku yang ditabiskan oleh Hyang Buddha
2.Tisarana
Gamana Bhikku yang ditahbiskan oleh siswa Hyang Buddha ( 60 orang
Arahat itu).
3.Naticatutthakamma
Bhikku yang di tahbiskan melalui sangha (saat setelah Hyang
Buddha dan siswanya tidak memberikan pentahbisan lagi.
Untuk keperluan pentahbisan Sangha haruslah 5 orang
bhiksu dan semuanya Sthavira atau thera (10 Vasa). Satu stel jubah Bhiksu
terdiri dari: satu potong jubah dalam (Ancera rasaka civara), satu
potong jubah luar (Uttarasanga Civara), Satu potong jubah atas (sanghari
Civara).
Buddha Gautama banyak mendapat dukungan antara lain Raja
Bimbisara dari kerajaan Bimbisara (ada juga yang menyebutnya
kerajaan Magadha), kerajaan yang pertama kali dikunjungi Beliau. Setelah
mendengar Khotbah Hyang Buddha, Raja Bimbisara mempersembahkan Arama Hutan
Bambu (Veluvana Rama) bagian selatan Jambudvipa atau India kepada Hyang
Buddha dan Sangha untuk tempat istirahat dan sebagai tempat berKhotbah.
Anak Raja Bimbisara bernama Ajatasattu mula-mula
menyokong Buddha Gautama, namum kemudian terkena pengaruh dan berkelompot
dengan Devadatta. Delapan tahun sebelum parinirvana Hyang Buddha, mereka
mencoba membunuh Buddha Gautama, namun semua rencana mereka tidak berhasil.
Penyokong lainnya ialah Raja Kosala dari Visakha,
dan hartawan Anathapindika. Karena kemurahan hatinya Anathapindika
diingat sebagai kepala dermawan juga dikenal dengan nama Sudatta. Anathapindika
memberi hutan Jetavanadekat savatthi dan mendirikan
vihara bagi para bhiksu. Anathapindika selama hidupnya sangat menyokong dan
mengorbankan harta bendanya untuk perkembangan Agama Buddha.
Dalam tahun itu juga setelah Beliau mencapai Penerangan,
Buddha Gautama kembali ke Kapilavastu, disamping memberikan Khotbah kepada
rakyat Kapilavastu, dan ayah-Nya, Suddhodana, yang kemudian hari menjadi Arahat
dan masuk ke surga Sotapanna. Setelah hari ke-7 Hyang Buddha berada di
Kapilavastu, di saat Beliau sedang makan siang, Putri Yasodhara mengajak putranya
Rahula melihat dari jendela ke arah Buddha Gautama. Putri Yasodhara
menanyakan kepada Rahula, siapakah Dia yang sedang makan? Rahula menjawab bahwa
Dia yang sedang makan adalah Hyang Buddha. Mendengar jawaban putranya, putri
Yasodhara sangat sedih sampai meneteskan airmata dan berkata. “Beliau adalah
Buddha, dan juga ayah kandungmu. Dia rela meninggalkan segala harta benda,
kemewahan, kesenangan duniawi, kekuasaan, pangkat, ketenaran, meninggalkan
istana, dan sekarang menjadi Buddha. Dia telah memperoleh harta abadi melebihi
segala harta benda yang ditinggalkan.”
Pangeran Rahula yang pada saat itu berusia 7 tahun datang
menghadap Buddha Gautama dengan sapa hormat dan sopan santun. Hyang Buddha
Menasehatkan kepada Rahula bahwa segala harta benda yang telah ditinggalkan
tidak lebih bernilai dan abadi daripada harta yang telah diperoleh-Nya sekarang
yakni Dharma – Penerangan Sempurna. Rahula lalu ditahbiskan menjadi Samanera
atau Calon bhiksu. Melihat kejadian ini putri Yasodhara mula-mula merasa sedih
karena suaminya, Pangeran Sidharta, menolak menjadi raja dan sekarang putranya
juga kelak tidak akan menjadi Raja. Sejak saat itu, bagi yang masih dibawah
umur bila hendak ditahbiskan menjadi samanera haruslah mendapat persetujuan dan
ijin dari orang tua calon samanera itu. Rahula kemudian menjadi bhiksu dan
mencapai Arahat. Juga putri Yasodhara kemudian menjadi Bhiksuni dan mencapai
Arahat.
Hyang Buddha juga memberikan Khotbah kepada rakyat
Kapilavastu sehingga banyak rakyat menjadi Upasaka dan Upasika. Beliau
menjelaskan kepada para siswa-Nya dalam kehidupan sehari-hari, selalu
menjunjung tinggi Buddha Dharma dan mengajarkan kepada orang lain, semua itu
merupakan penghormatan yang tertinggi kepada-Nya, Buddha Gautama.
1.17.DEVADATTA
Devadatta, saudara sepupu-Nya, juga seorang anggota
Sangha, tapi ia memiliki sifat dengki dan sombong. Melihat kebesaran dan
keberhasilan-Nya, hati Devadatta sangat terluka dan timbul niat buruk untuk
mencelakakan Buddha Gautama.
Devadatta juga membuat perpecahaan dalam Sangha, juga
berani berbuat hal-hal yang tercela.
Pada suatu hari, dia mengetahui Hyang Buddha Gautama akan
melewati jalan yang berada dibawah puncak Burung Bering. Devadatta lantas
menjatuhkan sebuah batu gunung besar dari puncak itu dengan maksud agar batu
gunung itu menimpa Yang Maha Bijaksana. Tapi batu gunung itu tidak mengenai dan
melukai Dia, batu itu pecah menjadi dua dan jatuh ke arah lain sebelum menimpa
Dia.
Devadatta mengulangi lagi rencana jahatnya dengan cara
melepaskan seekor gajah liar pada jalan utama yang dilalui raja, dimana jalan
ini akan dilalui oleh Maha Bijaksana. Gajah liar berlari-lari dengan kencang ke
arah Dia, dengan suara mendengus kencang bagaikan guntur yang akan membelah
bumi, bagaikan angin kencang di angkasa di malam gelap gulita.
Orang-orang yang mengetahui rencana jahat Devadatta,
semua mengucurkan air mata dan banyak orang berusaha untuk menghalangi gajah
itu tapi tidak berhasil. Yang Maha Bijaksana diberitahukan akan bahaya, tapi
Yang Maha Bijaksana terus berjalan dengan tenang dan tanpa ada rasa takut.
Karena Dia memang punya perasaan prihatin dan sayang terhadap semua makhluk
hidup, para Dewa dan Dewi, para Bodhisattva dan Buddha juga turut
melindungi-Nya.
Para bhiksu yang mengikuti Buddha Gautama telah lari
tunggang-langgang karena ketakutan, hanya tinggal Ananda sendiri yang
mendampingi Dia. Buddha Gautama tetap tenang dan terus berjalan. Gajah itu
berlari-lari dengan kencang ke arah Hyang Buddha untuk menubruk-Nya. Tapi
sebelum gajah itu datang mendekat, Yang Maha Bijaksana dengan kekuatan
Spiritual-Nya dapat membujuk gajah besar liar itu jinak, dan tidak menyentuh
sedikit juga tubuh Hyang Buddha. Gajah besar liar itu menundukkan kepalanya dan
menjatuhkan badannya ke tanah di hadapan Hyang Buddha dengan menimbulkan suara
yang gemuruh. Yang Maha Bijaksana dengan penuh kasih sayang, dengan kelembutan
tangan-Nya mengusap-usap kepala gajah besar liar itu.
Devadatta setelah menyaksikan kejadian tersebut, menjadikan
dia lebih dengki, kejam, dan jahat. Akhirnya atas perbuatannya sendiri telah
mengakibatkan karma buruk, setelah meninggal dunia dia jatuh ke alam neraka.
1.18.MAHA PRAJJAPATI
DAN PANGERAN NANDA
Maha Prajjapati adalah bibi Buddha
Gautama, yang mengasuh-Nya di waktu masih kecil (Pangeran Sidharta), kemudian
menjadi permaisuri kedua dari Raja Suddhodana. Dia mempunyai seorang putra
bernama Nanda. Karena Pangeran Sidharta tidak ingin menjadi raja yang
sekarang telah menjadi Buddha Gautama. Juga Rahula akhirnya menjadi bhiksu dan
mencapai Arahat. Pangeran Nanda yang kelak akan menggantikan Raja Suddhodana,
mempunyai istri yang cantik bernama Sundari. Pangeran Nanda hidupnya hanya
bersenang-senang dengan istrinya, tidak memikirkan masa depan kerajaan
Kapilavastu.
Ketika Buddha Gautama di Kapilavastu
mengetahui segala tindakannya, Dia Menasehati Pangeran Nanda dan memberikan
Khotbah kepadanya. Siapapun kelak akan menjadi Raja Kapilavastu walaupun bukan
keturunan raja, asalkan dia cakap dan bijaksana serta memperhatikan rakyatnya,
dapat memerintah secara adil dan bijak, dia boleh saja menjadi raja. Akhirnya
Pangeran Nanda meninggalkan istana dan menjadi bhiksu. Sariputra yang mencukur
rambut Nanda ketika ia akan menjadi bhiksu.
Akhirnya Maha Prajjapati juga menjadi
bhiksuni. Ananda dalam hal ini juga sangat mendukung dibentuknya Sangha
Bhiksuni.
1.19.SARIPUTRA DAN
MAUDGALYAYANA
Sebelum menjadi siswa Hyang Buddha,
Sariputra bernama Upatisya. Dia dari keluarga Brahmana dan tinggal di
kota Rajagrha. Teman baiknya bernama kolita, yang kemudian juga menjadi
siswa Buddha Gautama dan bernama Maudgalyayana.
Sariputra terkenal karena pandai bicara
dan sangat bijaksana. Ibunya seorang pendiam. Ketika mengandung Sariputra,
ibunya menjadi sangat pandai bicara dan dalam hal-hal tertentu menjadi lebih
bijaksana. Maudgalyayana dikenal karena pandai dan memiliki kekuatan gaib.
Sebelum mereka berdua menjadi murid
Hyang Buddha, Sariputra dan Maudgalyayana berguru kepada Sanjaya.
Sanjaya adalah seorang guru dari golongan Tirtyas yang mempunyai dua ratus lima
puluh orang murid.
Sariputra, Maudgalyayana beserta dua
ratus lima puluh temannya itu akhirnya menjadi murid Buddha Gautama. Mereka
menjadi murid Hyang Buddha karena mendengar Khotbah bhiksu Ashvajit, dia lalu
membawa mereka bertemu dengan gurunya, Buddha Gautama.
Maudgalyayana pada suatu hari ketika
sedang ber-meditasi, merasa ngantuk. Kebetulan Buddha Gautama ada disekitarnya.
Melihat dia mengantuk, Buddha Gautama datang menghampirinya dan dengan penuh
kasih sayang berbicara lembut kepada Maudgalyayana. Supaya dia tidak merasa
ngatuk dan dapat ber-meditasi dengan baik, Beliau berkata kepada Maudgalyayana,
“Engkau harus selalu ingat bahwa seorang
bhiksu bila diminta oleh umatnya untuk datang ke rumah mereka sudah tentu
karena ingin memerlukan bantuanmu. Dirumah umat awam, engkau sebagai seorang
bhiksu tidak boleh merasa harus di hormati dan harus dilayani secara
berlebihan. Sebab mungkin disebabkan di rumah ada hal yang sangat penting untuk
diselesaikan terlebih dahulu, sehingga engkau agak diabaikan.
Maudgalyayana, engkau jangan seketika
berperasaan tidak dihormati juga atau mereka mendadak berubah sikap terhadapmu.
Jika demikian halnya ada dalam perasaan dan pikiranmu dan ketenanganmu, dan
bila terus teringat maka engkau tidak akan dapat menjalankan meditasi-mu dengan
baik.
Demikian juga engkau tidak boleh
mengucapkan perkataan yang dapat menimbulkan pertengkaran, juga tidak boleh berusaha
mencari kesalahan orang lain. Jika engkau, Maudgalyayana, melakukan hal-hal
yang demikian maka engkau akan terganggu ketenanganmu sehingga engkau tidak
dapat memusatkan pikiranmu untuk dapat bermeditasi dengan baik.”
1.20.TIGA SAUDARA
KASYAPA
Di Uruvela, sebelah hulu sungai
Nairanjana, berdiam seorang guru pemuja api bernama Uruvela Kasyapa yang
mempunyai lima ratus orang sebagai pengikutnya. Dia merupakan kakak tertua di
antara tiga orang saudaranya. Mereka berdua juga pemuja api. Adiknya yang
pertama bernama Nadi Kasyapa mempunyai tiga ratus orang pengikut yang
tinggal di hilir sungai Nairanjana. Adik Uruvela Kasyapa yang kedua bernama Gaya
Kasyapa mempunyai dua ratus orang pengikut, dan bertempat tinggal lebih
hilir dari kakaknya Nadi Kasyapa.
Suatu ketika Buddha Gautama datang ke
Uruvela mengunjungi Kasyapa dengan maksud untuk memberikan petunjuk dan
mengajarkan Buddha Dharma kepadanya agar ia dapat kembali ke jalan yang benar
dalam mencari ilmu. Buddha Gautama minta kepada Uruvela Kasyapa untuk menginap
di rumahnya. Permintaan-Nya dikabulkan, tapi Uruvela Kasyapa menjelaskan bahwa
di pondoknya terdapat seekor ular kobra besar dan ganas menjaga api sucinya.
“Asalkan Engkau tidak takut tinggal di pondok saya itu, saya tidak keberatan,”
ujar Uruvela Kasyapa.
Buddha Gautama menginap di pondoknya,
beliau tidak tidur melainkan ber-meditasi dikamar yang dimaksudkan Uruvela
Kasyapa. Pada tengah malam, betul saja seekor ular kobra besar muncul dan
mendekati-Nya dengan suara mendesis dan dari mulut ular itu menyemburkan hawa
beracun dan bergerak hendak menggigit-Nya.
Buddha Gautama sedikit pun tidak
bergeming, dalam meditasi-Nya dengan kekuatan spiritual dan mengembangkan rasa maitri
karuna terhadap semua makhluk hidup, cahaya welas asih memancar dari
tubuh-Nya hingga segala macam kejahatan dan benda atau hawa beracun tidak mampu
menembus cahaya maitri karuna dan prajna-Nya.
Pada keesokan paginya, Uruvela Kasyapa
datang kekamar Beliau, dikira Buddha Gautama sudah mati digigit ular kobranya.
Namun dia melihat Hyang Buddha sedang ber-meditasi dengan tenang. Dia bertanya
apakah Beliau tidak melihat ular kobra yang dimaksudkan itu. Hyang Buddha
menjawab bahwa tidak ada ular kobra. Kemudian Hyang Buddha menjelaskan kepada Uruvela
Kasyapa tentang Buddha Dharma.
Pada hari berikutnya, ada upacara
sembahyang pemujaan api. Tapi Buddha Gautama tidak hadir menyaksikan upacara
tersebut. Ketika Uruvela menanyakan kepada Beliau mengapa tidak turut hadir
dalam upacara itu, Hyang Buddha menjawab, “Bukankah engkau tidak menginginkan
Saya ikut hadir.”
Uruvela Kasyapa sangat terkejut
mendengar jawaban Hyang Buddha yang telah mengetahui isi hatinya.
Beberapa hari berikutnya, turunlah hujan
lebat. Ini kali Hyang Buddha menunjukkan tanda-tanda gaib spiritual-Nya. Hyang
Buddha berjalan keluar. Anehnya hujan tidak membasahi-Nya dan jalanan yang akan
dilewati-Nya menjadi kering seolah-olah tidak turun hujan. Melihat kemampuan
Hyang Buddha, Uruvela menjadi kagum dan hormat kepada-Nya.
Setelah mendengar lagi Khotbah Hyang
Buddha tentang Buddha Dharma, akhirnya Uruvela Kasyapa dan kedua adiknya serta
para pengikut mereka menjadi siswa Hyang Buddha. Uruvela Kasyapa juga dikenal
dengan nama Maha Kasyapa.
1.21.ANANDA
Buddha Gautama ketika mengunjungi
Kapilavastu, telah beberapa kali memberikan Khotbah Buddha Dharma baik kepada
raja, pangeran, bangsawan kerajaan Kapilavastu. Beliau juga memberikan Khotbah
Dharma kepada penduduk suku Shakya. Mereka yang telah mendengar Khotbah Dharma
dari Hyang Buddha di hati dan batin mereka tumbuh ke-Bodhi-an untuk menjadi
siswa Buddha dan banyak yang menjadi bhiksu. Diantara pangeran yang menjadi
bhiksu adalah Pangeran Devadatta, Pangeran Anuruddha, Pangeran Vibhasa,
Bhadrika, Pangeran Ananda.
Ananda dikenal sangat pandai yang
mempunyai ingatan luar biasa. Dia juga yang paling setia dan senantiasa
mendampingi Buddha Gautama selama 27 tahun. Ananda mencapai tingkat Arahat pada
saat akan menjelang pagi dimana akan diadakan Pertemuan Agung I tidak
lama setelah Mahaparinirvana Hyang Buddha. Ananda mengulangi semua Khotbah
Hyang Buddha yang pernah didengar langsung olehnya dengan mengucapkan ‘Evam
Maya Sutram’ artinya’Demikianlah telah aku dengar’ (aku di sini
dimaksudkan adalah Ananda). Maka semua sutra pembukaannya dimulai dengan
kalimat tersebut.
Ananda berjasa dalam memberikan dorongan
berdirinya Sangha Bhiksuni, dimana Maha Prajjapati di tahbiskan menjadi
bhiksuni. Pada hari dia ditahbis menjadi bhiksuni merupakan hari berdirinya Sangha
bhiksuni. Atas permintaan Hyang Buddha kepada Ananda untuk merancang jubah
Sangha, Ananda mengambil contoh petak-petak sawah di negeri Magadha yaitu
kotak-kotak yang ada pada jubah Sangha.
Pada saat akhir sebelum Ananda
meninggal, beliau pergi ke tepi sungai Rohini, memberikan Khotbah Dharma
terakhir kepada sanak keluarganya dan para umat awam di sana. Setelah itu
beliau pergi menuju sungai Rohini, dari tubuhnya keluar api suci membakar
dirinya sendiri dan meninggal. Ananda meninggal dalam usia 120 tahun dan juga
mencapai tingkat Arahat.
1.22.UPALI
Upali adalah berasal
dari Kasta Sudra. Sejak kecil ia telah bekerja dalam lingkungan kerajaan
Kapilavastu, mengabdi kepada Pangeran Bhadrika. Setelah memutuskan untuk
menjadi siswa Hyang Buddha, sebelum bertemu dengan Beliau, Pangeran Bhadrika
meminta rambutnya dicukur bersih oleh Upali. Upali telah mengenal Hyang Buddha
ketika Beliau memberikan Khotbah di istana Kapilavastu, yang pada saat itu
didampingi oleh Sariputra.
Upali tidak berani menyatakan niatnya
langsung kepada Hyang Buddha untuk menjadi siswa-Nya, karena ia merasa
dari Kasta Sudra. Setelah bertemu dengan Sariputra, Upali menjelaskan maksudnya
dan menanyakan apakah dia dari Kasta Sudra boleh menjadi murid Hyang Buddha.
Dijelaskan Sariputra ‘boleh’ Hyang Buddha tidak pernah membedakan kasta dan
memandang beda terhadap semua makhluk. Sewaktu Beliau masih menjadi
Bodhisattva, Beliau sudah tidak membeda-bedakan derajat manusia. Dengan
mengikuti Sariputra, Upali diperkenalkan langsung kepada Hyang Buddha.
Hyang Buddha menjelaskan kepada Upali
bahwa dia mempunyai bakat sejak lahir memiliki kebajikan, dan kelak pasti dapat
membantu Beliau menyebarkan Buddha Dharma. Kemudian Upali langsung ditahbiskan
menjadi bhiksu.
1.23.SUBHADRA
Subhadra menjadi siswa
Hyang Buddha dan ditahbiskan menjadi bhiksu pada saat beliau memberikan Khotbah
Dharma yang terakhir.
1.24.KEINGINAN UNTUK
MENINGGAL
Tahun berganti tahun, tibalah waktunya,
Hyang Buddha berada di Vaisali. Ditepi kolam Markata, Beliau duduk di bawah
pohon Sala. Dari tubuh-Nya memancarkan Sinar Keagungan. Tiba-tiba Mara muncul,
dan berkata kepada-Nya, “ Dahulu di tepi sungai Nairanjana, saya pernah
berbicara kepada-Mu di saat akan memperoleh Penerangan.”
“Oh, Orang Bijaksana, Engkau telah
memperoleh apa yang hendak diperoleh yaitu Penerangan Sempurna. Engkau telah
mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Sekarang masukilah Nirvana,” kata Mara
kepada Yang Maha Bijaksana.
Yang Maha Bijaksana menjawab, “Saya tidak
akan memasuki Nirvana terakhir sebelum mereka yang menderita karena kekotoran
batin diselamatkan. Sekarang diantara mereka telah banyak yang diselamatkan,
sebagian lagi berkeinginan untuk diselamatkan, dan lainnya sedang diselamatkan,
“ demikian ucapan selanjutnya dari Yang Maha Bijaksana.
Yang Maha Bijaksana, Guru Agung itu
menjawab, “ Dalam tiga bulan lagi sejak sekarang, Saya akan memasuki Nirvana
terakhir, Saya mengetahui kapan saat yang paling tepat bagi Saya memasuki Maha
Parinirvana, tapi engkau janganlah tidak sabar.”
Janji ini meyakinkan Mara bahwa
keinginannya akan terkabul. Mara bersorak kegirangan lalu menghilang.
Tathagata mempunyai kekuatan untuk hidup
sampai akhir kalpa. Tetapi PertapaAgung
itu sekarang sudah memasuki suatu keadaan yang tenang sempurna. Beliau akan
menyerahkan fisik-Nya yang masih menjadi hak-Nya. Sesudah itu, beliau akan
melanjutkan untuk hidup dalam suatu cara yang unik dengan kemampuan dan
kekuatan fisik-Nya yang menakjubkan.
Tibalah pada waktunya, disaat-saat
beliau segera akan memasuki Maha Parinirvana, bumi bergetar-getar dan batu
pijar berjatuhan dari angkasa. Halilintar Indra menyambar tiada henti-hentinya
dengan turunnya hujan api dibarengi kilat. Di mana-mana api berkobar,
seolah-olah dunia akan berakhir dengan lautan api alam semesta. Puncak-puncak
gunung beruntuhan dan jatuh menimpa pohon-pohon yang tumbang dan patah.
Terdengar suara yang sangat dahsyat dan menggetarkan oleh tambur-tambur di
langit yang bergemuruh di angkasa. Selama kegaduhan ini terjadi, hal ini sangat
mempegaruhi bumi yang dihuni oleh manusia, langit, dan angkasa.
Yang Maha Bijaksana bangun dari
meditasi-Nya dengan ketenangan sempurnanamun dalam keadaan mahasadar. Kemudian Beliau mengucapkan kata-kata
ini:
“Sekarang Saya telah menyerahkan hak
saya untuk hidup sampai akhir kalpa. Tubuh Saya harus berjalan secara
perlahan-lahan dengan kekuatan yang saya miliki, bagaikan sebuah kereta perang
bila rodanya telah dilepaskan. Untuk waktu selanjutnya secara pasti, Saya telah
bebas dari segala ikatan bagaikan penjelmaan dari seekor burung yang sedang
mengerami, yang telah pecah seluruh kulit telurnya.”
Ketika Ananda melihat kegaduhan dalam
dunia ini, rambutnya sampai berdiri tegak. Dia heran, apakah gerangan yang
terjadi. Seluruh keberanian dan ketenangannya hilang. Ananda bertanya kepada
Yang Maha Tahu, yang berpengalaman dan telah menemukan Hukum Sebab dan Akibat,
untuk mencari sebab-akibat dari peristiwa ini. Yang Maha Bijaksana menjawab,
“Gempa Bumi ini menunjukan bahwa Saya telah menyerahkan sisa-sisa tahun
kehidupan yang menjadi hak Saya. Hanya selama tiga bulan saja, terhitung sejak
hari ini, Saya akan meninggalkan kehidupan Saya.” Setelah mendengar penjelasan
ini dari Yang Maha Tahu, Ananda sangat pilu dan air matanya mengalir deras
keluar.
1.25.BERPISAH
DENGAN VAISALI, TULISAN TERAKHIR, PERINTAH KEPADA MALLAS
Tiga bulan sesudah peristiwa tersebut,
Yang Maha Bijaksana datang melihat ke kota Vaisali, dan mengucapkan kata-kata
ini, “Oh, Vaisali ini adalah terakhir kalinya Aku melihat, Sebab kita akan
berpisah dan Saya pergi ke Nirvana.”
Kemudian Beliau pergi ke Kusinagara,
mandi di sungai dan memberikan pesan berikut kepada Ananda, “Susunlah sebuah
tulisan untuk Saya di antara pohon kembar Sala itu. Pada waktu malam ini,
Tathagata akan memasuki Maha Parinirvana.”
Ketika Anandamendengar kata-kata ini, air matanya
berlinang. Ananda sambil mengatur tempat peristirahatan terakhir bagi Yang Maha
Bijaksana, masih terus meratap memberitahu kepada Beliau bahwa dia telah
mengerjakan semuanya sebagaimana yang dipesan. Dengan langkah yang teratur,
Yang Terbaik dari manusia berjalan perlahan menuju tempat peristirahatan-Nya
yang terakhir, untuk tidak kembali lahir.
Dengan pandangan biasa yang penuh
perhatian dari para siswa-Nya, Beliau berbaring dengan tenang di bawah pohon di
antara pohon kembar Sala. Beliau berbaring dengan sisi kanan-Nya, kepalanya-Nya
disanggah dengan tangan kanan-Nya. Pada saat-saat itu semua burung diam dengan
kepala merunduk dan tubuh tidak bergerak sedikit pun. Para siswa-Nya semua
duduk dengan tubuh yang lemas. Angin berhenti berhembus, bagaikan mengucurkan
air mata, daun-daun dari pepohonan jatuh berguguran dan bunga-bunga menjadi
layu terlepas dari pohonnya.
Dalam suasana penuh keharuan, Yang Maha
mengetahui sambil berbaring di tempat peristirahatan-Nya yang terakhir, berkata
kepada Ananda yang sedang bersedih hati dan menangis. “Waktunya telah tiba bagi
Saya memasuki Maha Parinirvana. Engkau pergilah dan katakanlah kepada Mallas
tentang hal ini. Karena mereka akan menyesalinya di kemudian hari, jika mereka
sekarang tidak datang menyaksikan Nirvana.”
Ananda hampir jatuh pingsan karena
sangat duka. Bagaimanapun pesanya, Ananda mematuhi perintah itu dan dia pergi
untuk mengatakan kepada Mallas bahwa Yang Maha Bijaksana sedang berbaring di
atas tempat peristirahatan-Nya yang terakhir.
Setelah mendengar ucapan Ananda, Mallas
dengan muka sedih dan air matanya mengalir, dia datang melihat Yang Maha
Bijaksana. Mereka semua memberi penghormatan kepada-Nya, dan dengan sedih
mendalam mereka berdiri mengelilingi-Nya. Yang Maha Bijaksana berkata kepada
mereka,
“Dalam waktu senang adalah tidak tepat
untuk berduka . Kalian merasa putus asa sungguh tidak pada tempatnya, kalian
harus memperoleh kembali ketenangan kalian. Tujuan itu, sangatlah sulit
dicapai. Selama beberapa kalpa Saya telah menginginkannya, sekarang tujuan itu
akhirnya sampai juga.
Bila telah tiba waktunya, dan telah
dimenangkan semuanya, maka tiada lagi unsur tanah, air, api, dan angin.
Kebahagiaan sempurna yang abadi berada diluar alam non-materi, di luar semua
hakekat perasaan, suatu kedamaian yang sulit bagi seseorang untuk dapat
memperolehnya. Sesuatu yang paling tinggi adanya.
Bagaimana masih ada waktu dan ruang
untuk berduka dalam pikiran kalian? Di gaya, pada waktu Saya mengalahkan godaan
Mara, memperoleh Penerangan Sempurna, Saya telah memutuskan mata rantai
sebab-Musabab yang saling bergantungan, yang mana bukanlah apa-apa melainkan hanya
suatu kelompok ular berbisa dan jahat.
Sekarang waktunya telah semakin dekat,
bila Saya sebentar lagi akan berpisah dari tubuh ini, yang merupakan rumah
tempat tinggal dari perbuatan atau karma dari masa lampau. Sekarang, akhirnya
tubuh ini yang mempunyai begitu banyak penderitaan, telah menemukan jalan
keluarnya. Dan juga, bahaya yang sangat menakutkan dari penciptaan itu akhirnya
dapat dipadamkan. Akhirnya sekarang Saya keluar dari penderitaan yang sangat
banyak itu dan tanpa akhir. Apakah itu waktunya kalian berduka?”
Yang Maha Bijaksana dari suku Shakya
dengan mengucapkan demikian, dibarengi dengan gemuruh dari suara-Nya, yang
telah menjelaskan kepada mereka segala sesuatunya secara maha bijaksana, dengan
ketenangan sempurna Beliau sebentar lagi akan memasuki Maha Parinirvana.
Yang Maha Terbaik dan Teragung dari para
dewa dan manusia mencapai kesejahteraan dan kesentosaan, menyampaikan kepada
mereka pesan-pesan terakhir yang penuh arti. “sudah tentu adalah suatu
kenyataan bahwa pengolahan diri tidak dapat datang dari hanya melihat-Ku.
Tetapi jika seseorang telah mengerti dan menghayati serta menjalankan seluruh
Buddha Dharma-Ku, dia tidak melihatku, tetapi bila dia telah mengerti dan
menghayati serta menjalankan Buddha Dharma-Ku, dia sudah pasti akan terbebas
dari segala penderitaan. Sekalipun dia tidak melihat-Ku, tetapi bila dia telah
mengerti dan menghayati serta menjalankan Buddha Dharma-Ku, dia telah
melihatku. Bila seseorang sakit, dia haruslah memakan obat supaya sembuh, hanya
melihat kepada dokter saja tidaklah cukup. Demikian juga hanya melihat kepada
Saya tidak mungkin seseorang menaklukan penderitaan tingkat tertinggi perihal
kebenaran spiritual sebagaimana yang telah Saya khotbahkan.
Karena itu bergiatlah, bertekunlah dan
mencoba mengendalikan pikiranmu!Lakukanlah perbuatan yang baik, dan cobalah menangkan kesadaran! Karena
kehidupan ini selalu digoyahkan oleh berbagai macam penderitaan sebagaimana
nyala dari sebuah pelita yang dapat padam karena ditiup angin.”
Dalam keadaan ini, Yang Maha Bijaksana,
Yang Terbaik dari para dewa dan manusia serta semuanya yang pernah hidup,
memperkuat pikiran mereka semua. Namun airmata masih tetap mengalir dari mata
meraka, dan pikiran-pikiran mereka yang gelisah kembali ke Kusinagara. Setiap
orang merasa tidak berdaya dan tidak terlindungi. Mereka seolah-olah sedang
menyeberang di tengah-tengah sungai yang sangat dalam.
1.26.MAHA PARINIRVANA
Sesudah itu, Hyang Buddha mengalihkan
perhatian kepada para siswa-Nya, dan berkata kepada mereka, “Segala sesuatu
datang pada akhirnya, walaupun itu berlangsung selama satu kalpa. Waktu
berpisah pasti datang pula pada akhirnya. Sekarang Saya telah mengerjakan apa
yang harus saya kerjakan. Kedua-duanya baik untuk Saya sendiri maupun orang lain.
Untuk tinggal disini, sekarang dan selanjutnya harus dengan suatu tujuan. Saya
telah berdisiplin dan saya telah membawa mereka cara yang sama.
Selanjutnya inilah Dharma Saya, Oh para
bhiksu, kalian harus mematuhi Dharma-Ku untuk sekarang dan seterusnya dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Karena itu kenalilah hakekat yang sebenarnya
dari kehidupan dunia. Janganlah cemas, karena perpisahaan tidaklah mungkin
dapat dihindari. Kenalilah juga bahwa semua yang hidup adalah berpokok pada
Hukum Kesunyataan ini, dan berjuanglah mulai hari ini dan seterusnya sampai
kehidupan itu tidak ada lagi! Bila penerangan yang Saya babarkan sudah
menghalau kegelapan karena ketidaktahuan, bila semua eksistensi yang telah
terlihat semua dengan tanpa substansi. Kedamaian akan terjadi pada akhirnya
bila mengerti kehidupan ini, yang dapat mengobati penyakit yang telah lama ada.
Pada akhirnya, segala sesuatunya, apakah
yang dapat bergerak, dipastikan akan binasa. Karena itu, ingatlah dan
waspadalah! Sekarang telah tiba saatnya bagi Saya untuk memasuki Maha
Parinirvana! Inilah kata-kata Saya yang terakhir.”
Ketika yang Maha Bijaksana memasuki Maha
Parinirvana – pada tanggal 15 bulan 2 (lunar, menurut versi Mahayana) – bumi
bergetar-getar, mendadak turun hujan badai, batu pijar berjatuhan dari angkasa,
langit bagaikan disulut api yang menyala-nyala tanpa bahan bakar, tanpa asap,
tanpa tiupan angin. Halilintar yang menakutkan menggelegar-gelegar, kemudian
datanglah angin kencang mengamuk di angkasa. Sinar bulan meredup, angkasa gelap
gulita. Suatu kegelapan aneh sekali menutupi dimana-mana. Air sungai di mana
saja bagaikan air mendidih mengatasi kesedihannya.
Bunga-bunga yang indah merekah di luar
musimnya pada pepohonan Sala dan membentuk tulisan di atas tempat pembaringan
Hyang Buddha. Pohon-pohon merunduk memayungi Dia dan menaburi tubuh
keemasan-Nya dengan bunga-bunga beraneka warna nan indah. Tampak di angkasa,
para dewa dan dewi, lima pimpinan Naga berdiri dengan tidak bergerak sedikit
pun. Mata mereka merah karena duka, surai mereka menutup tapi mereka tetap
tegak berdiri. Dengan kesayangan yang amat mendalam, mereka memandang tubuh
Yang Maha Bijaksana.
Tetapi mereka yang telah mendalami
Dharma dan mengolah diri, para dewa yang mengelilingi raja Vaishravana tidaklah
berduka dan mengeluarkan air mata, sebab mereka telah menghayati Dharma yang
cukup mendalam. Para dewa yang mendiami semua tempat suci juga hadir untuk
memberikan penghormatan terakhir kepada Pertapa agung itu yang telah mencapai
Samyak Sam Buddha. Mereka tetap tenang , dan pikiran mereka terpengaruh lagi
oleh suka dan duka, karena mereka telah mengetahui semua hal di dunia ini yang
penuh kekotoran. Para raja dari Gandharvas, Nagas, Yakshas,
dan Devas, semua berdiri di angkasa, turut berkabung dan menahan duka
yang dalam.
Pda saat-saat terakhir, ketika Buddha
Shakyamuni akan memasuki Maha Parinirvana, Beliau memberikan Khotbah-Nya yang
terakhir kepada para siswa-Nya agar mereka sejahtera. Beliau membabarkan
intisari ajaran-Nya itu yang terdapat dalam kitab Mahayana Buddha
Pacchimovada Pari Nirvana Sutra. Sutra ini menjelaskan ajaran Hyang
Buddha mengenai :
1.Pematuhan
pada sila-sila Hyang buddha
2.Pengendalian
Pikiran
3.Masalah
makan, tidur
4.Mengendalikan
amarah dan hawa nafsu
5.Melenyapkan
kesombongan
6.Menghindari
pujian
7.Mengurangi
keinginan
8.Rasa Puas
9.Menyendiri
10.Tekun berusaha
11.Mengendalikan
pikiran
12.Dhyana dan
samadhi
13.Prajna
14.Menghindari
perdebatan
15.Waspada
16.Keragu-raguan
17.Menyelamatkan
setiap manusia
18.Dharmakaya yang
kekal.
1.27.PEMATUHAN PADA
SILA-SILA HYANG BUDDHA
Hyang Buddha Bersabda:
“Wahai para Bhiksu! Setelah Aku mencapai
Maha Parinirvana, kalian para bhiksu dan bhiksuni harus patuh pada Pratimoksa.Perbuatan-perbuatan yang melanggar ketentuan Sila adalah terlarang bagi
bhiksu dan bhiksuni. Kalian (para bhiksu dan bhiksuni) harus berusaha
memperoleh ketenangan dan kesucian dalam kehidupan ini. Kalian harus tidak
berurusan dengan hal-hal duniawi, menghindarituduhan tuduhan dan pujian rendah. Kalian jangan terlibat dalam
pergaulan yang berakibat menjadi pergunjingan orang, dan hanya bergaul dan
mencari teman orang kaya dan punya nama saja. Kalian harus memusatkan pikiran
yang benar guna pembebasan. Kalian jangan hanya mau menutupi kesalahan sendiri,
janganlah berbuat hal-hal yang dapat membingungkan orang lain. Kalian harus
mengetahui batasan pemberian oleh umat kepada bhiksu dan bhiksuni. Haruslah
mengetahui apa arti kecukupan. Kalian setelah menerima dana seharusnya jangan
punya niat untuk menyimpannya. Inilah arti dari Sila.
Mematuhi sila adalah jalan untuk
Pembebasan. Karena itu Sila di sebut Pratimoksha. Hanya dengan Sila akan
mencapai Dhyana dan Samadhi serta Prajna.
Wahai para Bhiksu, hanya dengan patuh
pada Sila barulah akan diperoleh kesucian dan ketenangan. Tanpa adanya Sila
yang murni, kalian tidak akan memperoleh pahala-pahala yang baik. Sila
merupakan dasar pegangan kalian untuk berbuat baik.”
1.28.PENGENDALIAN PIKIRAN
Setelah mematuhi sila, wahai para
bhiksu, kalian harus mengendalikan panca indra, supaya kalian dapat
mengendalikan hawa nafsu indria. Jika tidak mampu menguasai panca indera dan
membiarkan keinginan kalian maka penderitaan akan terus datang. Ketahuilah
wahai para bhiksu, seorang bhiksu, seorang bijaksana harus mampumenguasai panca indera dan tidak terikat oleh
kemelekatan duniawi. Pikiran adalah yang paling utama dari panca indera. Kalian
harus dapat mengalihkan keinginan rendah. Wahai para bhiksu, berusahalah keras
mengendalikan pikiranmu.”
1.29.
PERIHAL MAKAN DAN TIDUR
“Wahai para bhiksu, jika kalian diberi
makan oleh umat janganlah meminta yang berlebihan, sehingga membuat niat
baiknya menjadi hilang.
Demikian juga perihal tidur, kalian
seharusnya tekun belajar dan menghayati Dharma di siang hari, juga di malam
hari bahkan di tengah malam. Kalian hanya akan mensia-siakan waktu saja jika
waktumu dihabiskan hanya untuk tidur. Janganlah hanya lelap tidur saja,
cepatlah menuju Pembebasan.”
1.30. PRAJNA
“wahai para bhiksu, dengan memiliki
Prajna kalian terbebas dari segala hawa nafsu. Kalian harus merenungkan diri.
Hanya dengan Buddha Dharma maka kalian akan memperoleh Pembebasan. Jika kalian
tidak menyadarinya maka kalian tidak pantas disebut Siswa Hyang Buddha.”
1.31.RELIK
Mereka yang belum mampu mengendalikan perasaan
telah mencucurkan air mata. Sebagian besar para bhiksu merasa sangat sedih dan
duka. Hanya mereka yang telah menyelesaikan pemutaran Roda Dharma hatinya tetap
tenang, karena mereka sadar hakekat dari semua kehidupan dapatlah mati.
Setelah segala sesuatu untuk keperluan
kremasi disiapkan, mereka mengangkat dengan hati-hati tubuh Yang Maha Bijaksana
ke atas tumpukan kayu cendana, kayu gaharu, dan kayu kasia.
Tiga kali mereka mencoba menyalakan
tumpukan bahan bakar itu, tetap saja tidak dapat menyala. Hal ini disebabkan
Maha Kasyapa yang agung dan memiliki kekuatan gaib sedang datang menuju tempat
kremasi itu. Kasyapa sedang ber-meditasi dengan memusatkan pikirannya yang suci
untuk terakhir kalinya melihat tubuh Hyang Buddha.
Dengan kekuatan gaibnya, Kasyapa
mencegah terbakarnya tumpukan kayu. Sekarang bhiksu Kasyapa semakin menghampiri
dengan langkah-langkah cepat, dia ingin melihat gurunya terakhir kali. Setelah
mendekat dengan segera dia memberikan penghormatan terakhir kepada gurunya Yang
Maha Bijaksana. Kemudian barulah api mulai menyala dengan sendirinya. Semuanya
satu persatu terbakar dengan sempurna. Kulit, daging, rambut, dan anggota
tubuh, namun tulang-tulang-Nya tidak dapat hancur walaupun telah di tambahkan
lagi bahan bakar. Akhirnya tulang-tulang ini dibersikan dengan air suci, dan
ditempatkan dalam kendi keemasan di kota Mallas.
Selama beberapa hari mereka melakukan
pemujaan terhadap relik sesuai dengan ketaatan yang mendalam. Kemudian
datanglah satu persatu, masing-masing utusan dari tujuh kerajaan tetangga
datang ke kota itu untuk meminta bagian relik itu. Tetapi Mallas, seorang
sombong dan juga ingin memuja relik itu, menolak untuk menyerahkan sebagian
dari relik Buddha.
Setelah mendengar nasehat dari para
penasehat yang bijaksana, Mallas membagikan relik itu menjadi delapan bagian.
Satu bagian disimpan untuk mereka sendiri. Tujuh bagian lainnya diberikan
kepada tujuh utusan kerajaan, masing-masing mendapat satu bagian. Para utusan
kerajaan ini dan Mallas saling memberi hormat dan kembali kekerajaan masing-masing. Mereka semua merasa
gembira karena keinginannya tercapai. Dengan upacara yang sepantasnya dan
khidmat, mereka membangun stupa di ibukota mereka masing-masing untuk menyimpan
relik dari Yang Maha Bijaksana.
1.32.KITAB
SUCI
Tidak lama setelah Hyang Buddha Maha
Parinirvana, berkumpullah lima ratus orang bhiksu yang telah mencapai tingkat
Arahat di Rajagriha, di lereng dari salah satu lima pegunungan Himalaya. Di
sana mereka berkumpul untuk mengadakan Pertemuan Agung guna mengumpulkan semua
Khotbah yang telah diajarkan oleh Yang Maha Bijaksana. Konsili pertama ini
dipimpin oleh Maha Kasyapa.
Ananda yang selalu mendampingi Hyang
Buddha ke mana saja Beliau pergi membabarkan Dharma mempunyai ingatan yang luar
biasa. Maka Ananda diminta oleh sekalian bhiksu yang hadir dalam pertemuan itu
untuk lebih dulu mengulangi semua Khotbah yang diajarkan Hyang Buddha. Yang
Bijaksana dari Vaideha, kemudian disempurnakan oleh para bhiksu yang hadir. Ananda
memulai dengan ucapan “Demikianlah yang telah aku dengar.” Aku di sini
dimaksudkan adalah Ananda.
Maka semua sutra dimulai dengan kalimat
itu, dengan keterangan mengenai waktu, tempat, kejadian, dan orang-orang yang
menyampaikannya.
Demikianlah Ananda bersama-sama dengan lima ratus Arahat
membuat semua Kitab Suci atau Sutra yang berisikan Dharma dari Yang Maha
Bijaksana dan Agung. Mereka telah memiliki karma baik di masa lampau untuk
menuju nirvana. Mereka berusaha sepenuhnya menguasai Buddha Dharma. Semua Kitab
Suci tersebut yang adasampai dengan
hari ini telah membantu mereka menuju Nirvana. Dan umat Buddha juga akan
melanjutkan dengan cara yang sama untuk berbuat demikian dari satu masa ke masa
yang akan datang. ٭
