Main Logo
Pusat Informasi dan Komunikasi Umat Buddha
Forum Komunikasi Umat Buddha - DKI Jakarta
Home > Artikel Buddha Dharma > Pengertian Dasar Buddha Dharma
Pengertian Dasar Buddha Dharma
1. Tri Ratna

Seorang telah menjadi umat Buddha bila ia menerima dan mengucapkan Tri Ratna (Skt) atau Tiga Mustika (Ind) yang berarti Buddha, Dharma, Sangha. Pada Saat sembahyang atau kebaktian di depan altar Hyang Buddha. Tri Ratna secara lengkap diucapkan dengan tenang dan khusuk sampai tiga kali atau disebut Trisarana. Trisarana adalah sebagai berikut:

Bahasa Sansekerta :

Buddhang Saranang Gacchami
Dharmang Saranang Gacchami
Sanghang Saranang Gacchami

Dwipanang Buddhang Saranang Gacchami
Dwipanang Dharmang Saranang Gacchami
Dwipanang Sanghang Saranang Gacchami

Tripanang Buddhang Saranang Gacchami
Tripanang Dharmang Saranang Gacchami
Tripanang Sanghang Saranang Gacchami

Bahasa Indonesia :

Aku Berlindung kepada Buddha
Aku Berlindung kepada Dharma
Aku Berlindung kepada sangha

Kedua kali Aku Berlindung kepada Buddha
Kedua kali Aku Berlindung kepada Dharma
Kedua kali Aku Berlindung kepada sangha

Ketiga kali Aku Berlindung kepada Buddha
Ketiga kali Aku Berlindung kepada Dharma
Ketiga kali Aku Berlindung kepada sangha

1.1. Buddha

Berasal dari bahasa Sansekerta budh berarti menjadi sadar, kesadaraan sepenuhnya; bijaksana, dikenal, diketahui, mengamati, mematuhi. (Arthur Antony Macdonell, Practical Sanskrit Dictionary, Oxford University Press, London, 1965).

Tegasnya, Buddha berarti seorang yang telah mencapai Penerangan atau Pencerahan Sempurna dan Sadar akan Kebenaran Kosmos serta Alam Semesta. “Hyang Buddha” adalah seorang yang telah mencapai Penerangan Luhur, cakap dan bijak menuaikan karya-karya kebijakan dan memperoleh Kebijaksanaan Kebenaraan mengenai Nirvana serta mengumumkan doktrin sejati tentang kebebasan atau keselamatan kepada dunia semesta sebelum parinirvana.

Hyang Buddha yang berdasarkan Sejarah bernama Shakyamuni pendiri Agama buddha. Hyang Buddha yang berdasarkan waktu kosmik 1) ada banyak sekali dimulai dari Dipankara Buddha.

1.2. Dharma

Hukum Kebenaran, Agama, hal, hal-hal apa saja yang berhubungan dengan ajaran agama Buddha sebagai agama yang sempurna.

Dharma mengandung 4 (empat) makna utama :
1. Doktrin
2. Hak, keadilan, kebenaran
3. Kondisi
4. Barang yang kelihatan atau phenomena.

Buddha Dharma adalah suatu ajaran yang menguraikan hakekat kehidupan berdasarkan Pandangan Terang yang dapat membebaskan manusia dari kesesatan atau kegelapan batin dan penderitaan disebabkan ketidakpuasan. Buddha Dharma meliputi unsur-unsur agama, kebaktian, filosofi, psikologi, falsafah, kebatinan, metafisika, tata susila, etika, dan sebagainya.
Tripitaka Mahayana termasuk dalam Buddha Dharma.

1.3. Sangha

Persaudaraan para bhiksu, bhiksuni (pada waktu permulaan terbentuk). Kemudian, ketika agama Buddha Mahayana berkembang para anggotanya selain para bhiksu, bhiksuni, dan juga para umat awam yang telah upasaka dan upasika dengan bertekad pada kenyataan tidak-tanduknya untuk menjadi seorang Bodhisattva, menerima dan mempraktekkan Pancasila Buddhis ataukah Bodhisattva Sila.

Bhiksu (sebutan untuk lelaki) dan bhiksuni (sebutan untuk perempuan) adalah seseorang yang kehidupanya sudah tidak lagi mencampuri urusan duniawi, telah menjalankan kehidupan suci, dan patuh serta setia menghayati dan mengamalkan Buddha Dharma, patuh menjalankan Pratimoksa (Sila-sila untuk para bhiksu dan bhiksuni) terdapat di dalam buku Buddha Mahayana yakni Pacchimovada Pari Nirvana Sutra terjemahan oleh Kumarajiva.

Arya Sangha

Semata-mata terdiri dari para Bodhisattva yang telah memasuki tingkat kedua atau lebih mengenai Jalan Penerangan atau Pencerahan Tertinggi. Sebagian dari para Bodhisattva mungkin kehidupannya sebagai bhiksu dan lainnya sebagai umat awam. (A Survey of Buddhism, Bab : The Mahayana Sangha, hal : 263-267).

2. Catvari Arya Satyani

Khotbah Hyang Buddha Shakyamuni yang pertama kali kepada lima pertapa bekas teman seperjuangan-Nya sewaktu bertapa menyiksa diri di hutan Uruvela selama enam tahun lamanya. Khotbah pertama kali ini di taman Rusa Isipatana, di Mrigadava, Veranasi, atau dikenal dengan nama Pemutaran Roda Dharma (Skt. Dharmacakra Pravartana Sutra) yakni mengenai 4 (empat) kesunyataan Utama atau Kebenaran Mulia (Skt. Catvari Arya Satyani) dan 8 (delapan) Jalan Utama atau Jalan Benar dan Suci sebagai Jalan Tengah (Skt. Arya Astangika Marga).

Catvari Arya Satyani atau 4 Kesunyataan Utama :
a) Derita (Duhkha),
b) Asal mula derita (samudaya),
c) Penghentian derita (nirodha),
d) Jalan menuju penghentian derita (Marga).

Jalan itu adalah 8 (delapan) Jalan Utama/Mulia/Benar dan Suci adalah:

Bhs. Sansekerta
1. Pengertian Yang Benar (Samyag-drsti) Prajna = Ke-
2. Pikiran Yang Benar (Samyag-samkalpa) 2) bijaksanaan
---------------------------------------------------------------------------------
3. Berbicara Yang Benar (Samyag-vak) Sila = Moral
4. Perbuatan Yang Benar (Samyag-karmanta)
5. Penghidupan Yang Benar (Samyag-ajiva)
--------------------------------------------------------------------------------
6. Berusaha Yang Benar (Samyag-Vyayama) Samadhi =
7. Perhatian Yang Benar (Samyag-smrti) Mental
8. Konsentrasi Yang Benar (Samyag-samadhi)


Penjelasan
a) Apa itu derita atau penderitaan (Duhkha) ?
- Hidup dalam bentuk apa pun dialam samsara ini adalah derita atau penderitaan (Duhkha),
- Penderitaan (Duhkha) berarti juga :kesedihan, keluh-kesah, sakit atau kesakitan, kesusahan, dan putus asa yang sering dialami oleh jasmani maupun batin kita,
- Dilahirkan, Usia tua, sakit, meninggal adalah penderitaan.
- Berhubungan atau berkumpul dengan orang yang tidak disukai adalah penderitaan,
- Berpisah atau ditinggalkan oleh orang yang dicintai adalah penderitaan,
- Tidak memperoleh apa yang kita inginkan atau tidak mencapai apa yang kita cita-citakan adalah penderitaan,
- Masih memikul beban tanggung jawab baik dalam hubungan keluarga maupun guru terhadap murid adalah juga penderitaan,
- Masih memiliki 5(lima) Skandha atau Panca-Skandha yang bekerja aktif adalah juga penderitaan,
(Panca-skandha adalah lima kumpulan penderitaan yang melekat pada jasmani kita yaitu:

1. Rupa : bentuk, tubuh, badan jasmani,
2. Sanna : pencerapan
3. sankara : pikiran,benruk-benruk mental,
4. vedana : perasaan
5. Vinnana : kesadaran.)

Secara singkat diuraikan Kesunyataan Yang Pertama seperti di atas dan sebagai tambahan: bahwa semua kehidupan dengan tidak ada terkecualinya, termasuk dalam panca-skandha adalah sesuatu yang menyedihkan dan dicengkeram oleh penderitaan, sesuatu yang tidak kekal, sesuatu yang tidak berpribadi, dan hampa adanya.

b) Apa itu Asal-mula derita atau penderitaan) (Samudaya) ?
- Idaman ini (trsna), yang menuju pada eksistensi yang diperbaharui, ditemani oleh nafsu keinginan rendah (tanha), yang mengambil kesenangan dalam berbagai obyek, di mana sebagai sebab dari kelahiran dan terlahir kembali (tumimbal lahir). Dikarenakan didorong oleh Tanha yang sangat kuat sekali pada pikiran, sebagai contoh : keinginan kita untuk memiliki apa yang kita inginkan, atau keinginan untuk melenyapkan semua keadaan yang kita benci atau tidak disukai. Dengan Tanha untuk kenikmatan dan kesenangan duniawi, haus dengan cinta, rakus dengan harta, gila hormat atau khilaf dengan kuasa atau kedudukan dikarenakan kemelekatan, kebodohan atau kegelapan batin (avidya), semua ini menyebabkan asal-mula derita.

Tanha atau nafsu keinginan rendah yang tiada habis-habisnya. Orang yang pasrah kepada Tanha sama saja dengan orang meminum air asin untuk menghilangkan rasa hausnya.

Penjelasan tambahan bahwa Kesunyataan yang Kedua ini, mengajarkan bahwa semua penderitaan, atau dengan kata lain, semua kehidupan dikarenakan keinginan (tanha), dikarenakan nafsu keserakahan (lobha), kebencian (dosa), dan kebodohan (moha), yang mengakibatkan Tumimbal Lahir dan penderitaan, yang menjelma sebagai gerak-gerik atau aktivitas dari badan, ucapan atau perkataan, dan pikiran. Tidak dapat mengerti dengan jelas bahwa segala sesuatu didunia ini adalah tidak kekal (anitya). Karena itu, Kesunyataan yang Kedua ini juga termasuk dalam pelajaran Karma dan Tumimbal Lahir, juga sebagai Hukum Sebab-Akibat Yang saling bergantungan (Hukum Pratitya Samutpada) dari semua lelakon kehidupan.

c) Apa itu Penghentian atau Lenyapnya derita/penderitaan (Nirodha)?

- Nirodha berarti Lenyapnya Penderitaan yang sama artinya dengan lenyapnya nafsu keinginan rendah (tanha) atau lenyapnya keinginan dari pikiran. Kalau Tanha dapat disingkirkan, maka kita akan berada dalam keadaan berbahagia sekali, karena telah terbebas dari semua kekotoran batin yakni Loba, Dosa, dan Moha.

Kesunyataan yang Ketiga ini mengajarkan tentang lenyapnya sama sekali mengenai “Aku” (atta) dan pembebasan diri dari Roda Samsara atau Roda Tumimbal lahir dan menuju Nirvana.

Penjelasan tambahan bahwa Kesunyataan yang Ketiga ini mengajarkan tentang lenyapnya sama sekali rasa “Aku” atau keinginan dari kehidupan, dan semua bentuk khayalan atau idaman yang berhubungan dengan itu, membersihkan segala kekotoran batin dari Loba, Dosa, Moha, yang sewajarnya harus ditujukan pada Pembebasan dari Tumimbal lahir dan Penderitaan, yaitu menuju tercapainya Nirvana.

d) Apa itu Jalan Menuju Lenyapnya atau Penghentian derita (Marga)?

Marga berarti Jalan untuk melenyapkan penderitaan, yaitu 8 (delapan) Jalan Utama (Hasta Arya Marga) : Pengertian yang benar, pikiran yang benar, berbicara yang benar, perbuatan yang benar, penghidupan yang benar, berusaha yang benar, perhatian yang benar, konsentrasi yang benar. Jalan beruas delapan ini memberikan petunjuk untuk menuju Pembebasan dari Penderitaan, dan pula mengandung praktek dari pelajaran Hyang Buddha.

1. Pengertian yang benar (samyag-drsti)
Artinya : Suatu pengertian intelektuil tentang Empat Kesunyataan utama atau Kebenaran Mulia, atau tentang kebenaran nyata dari kehidupan secara umum maupun secara sederhana, memiliki pengertian yang benar mengenai Buddha Dharma, juga menembusi arti dari Tiga Sifat Universal (atau Tiga Corak Umum dari alam fenomena, Skt. : Tri-Laksana), dan Hukum Sebab Akibat Yang Saling bergantungan (Hukum Pratitya Samutpada), Sunyata.

Catatan : Pengertian yang benar adalah isyarat dan tanda-tanda yang pertama kali dari karma-karma yang baik.

2. Pikiran yang benar (Samyag-samkalpa)
Artinya : Pengertian lainnya adalah kehendak yang benar yang berarti bahwa mempunyai pikiran atau kehendak untuk membebaskan segala ikatan-ikatan Duhkha (penderitaan). Pikiran atau Kehendak yang demikian haruslah bebas dari segala keserakahan, kebencian, dan keinginan untuk merugikan orang lain dan diri sendiri. Termasuk juga pikiran yang bebas dari hawa nafsu keduniawian, dan juga bebas dari kekejaman, serta pikiran yang terbebas dari keinginan atau kemauan jahat.

3. Berbicara yang benar (Samyag-vak)
Artinya : Pantang untuk berdusta, memfitnah, bercerita yang dapat menyebabkan kemarahan orang lain, kata-kata kasar dan kotor, dan cerita omong kosong dan tidak bertanggung jawab. Termasuk membicarakan atau menjelaskan Buddha Dharma secara benar bukan dengan unsur sengaja memutarbalikkan yang benar menjadi yang salah dan sebaliknya. Disebut berbicara yang benar bila dapat memenuhi persyaratan berikut ini : bicara itu yang benar berdasarkan fakta maupun pengalaman sendiri, bicara itu sungguh-sungguh beralasan, bicara itu mempunyai manfaatnya, berbicara itu tepat pada waktunya dan tempatnya.

4. Perbuatan yang benar (Samyag-karmanta)
Artinya : Tidak melakukan atau menyuruh melakukan pembunuhan, penyiksaan, pencurian, dan perzinahan.

5. Perbuatan yang benar (samyag-ajiva)
Artinya : berarti juga Mata Pencaharian yang benar, berarti menghindari atau menolak mata pencaharian yang salah dan berusaha untuk hidup yang benar.

Catatan : 5 (lima) macam pencaharian yang salah haruslah dihindari, yaitu penipuan, ketidaksetiaan, penujuman, kecurangan, praktek lintah darat (meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi).
Seorang siswa Buddha harus pula menghindari 5 (lima) macam perdagangan, yaitu : berdagang alat senjata, berdagang makhluk hidup, berdagang daging (atau segala sesuatu yang berasal dari penganiayaan makhluk-makhluk hidup), berdagang minuman alkohol atau menimbulkan ketagihan seperti narkotika, berdagang racun.

6. Berusaha yang benar (Samyag-vyayama)
Artinya : Usaha untuk menghilangkan kejahatan yang belum muncul, usaha untuk mengatasi kejahatan dan sifat buruk yang telah muncul, usaha untuk mengembangkan kebaikan dan sifat berguna dari pikiran, dan berusaha memelihara sifat-sifat baik yang telah ada.

Catatan : Jadi ada 4 (empat) macam usaha, yaitu : menghindari, usaha untuk mengatasi, usaha mengembangkan, dan usaha untuk memelihara.

7. Perhatian yang benar (Samyag-smrti)
artinya : Tetap dalam perenungan pada keadaan dari pikiran, perasaan, badan, dengan rajin dan dengan sadar dan penuh pengertian serta menolak kerakusan dan kesedihan duniawi. Contoh : Empat perhatian pada perenungan tentang rupa (tubuh), perasaan, kesadaraan, dan Dharma.

Catatan : Samyag-Smrti terdiri dari latihan-latihan Vipasyana (yaitu : Meditasi untuk memperoleh Pandangan Terang tentang kehidupan).

8. Konsentrasi yang benar (samyag-samadhi)
Artinya : Menempatkan pikiran pada suatu perbuatan yang kita ingin lakukan sesuai dengan cara yang benar.

Catatan: Memusatkan pikiran pada suatu obyek yang tunggal yang berarti terpusatnya pikiran, inilah yang disebut konsentrasi.
Didalam arti yang luas, konsentrasi ada hubungannya dengan kesadaraan juga. Di dalam pencerapan rasa ia sangat lemah.

Tambahan Penjelasan :
Perenungan tingkat pertama (Dhyana-I); bila seorang siswa bebas dari perasaan nafsu, bebas dari sesuatu yang tidak baik, ia masuk dalam tingkat ini, tapi masih disertai gelombang pikiran dan renungan, terlahir kebebasan yang mengandung kenikmatan dan kebahagiaan.

Perenungan tingkat kedua (Dhyana-II); bila seorang siswa setelah mengendapkan gelombang pikiran dan renungan, mulailah tercapai ketenangan batin, pikiran mulai memusat, ia atau siswa tersebut masuk dalam tingkat ini.

Perenungan tingkat ketiga (Dhyana-III); bila seorang siswa telah dapat melenyapkan kegiuran, ia berdiam diri dalam keseimbangan dan kesadaraan yang kuat. Ia memasuki tingkat ini.

Perenungan tingkat keempat (Dhyana-IV); bila seorang siswa akhirnya dapat mengatasi kenikmatan, karena lenyapnya kegembiraan dan kesedihan. Ia memasuki tingkat keempat ini (Dhyana-IV), yang penuh keseimbangan dan kesadaraan inilah yang disebut samadhi yang benar.


3. Tri-Laksana

Tri-Laksana atau disebut juga Tiga Sifat Universal atau Tiga Corak Umum dari Alam Fenomena (Skt. : Tri-Laksana), yaitu :
a. Anitya : Semua bentuk yang berkondisi adalah tidak kekal,
b. Duhkha : Semua bentuk yang terkondisi adalah tidak sempurna
c. Anatman : Semua bentuk yang terkondisi dan bentuk yang tidak terkondisi adalah tanpa “Aku”
Penjelasan :
a. Anitya : artinya Semua bentuk yang terkondisi adalah tidak kekal atau selalu berubah-ubah. Segala benda yang ada atau sudah terbentuk pasti berubah. Segala benda atau sesuatu yang sudah terbentuk adalah tidak abadi atau hanyalah bersifat sementara saja

Anitya adalah doktrin Hyang Buddha mengenai ketidakkekalan dari semua bentuk yang terkondisi; kata yang pertama ini dari 3 (tiga) corak umum dari alam fenomena (Hukum Tri-Laksana).

Anitya adalah suatu karakteristik mengenai semua existensi keduniawian; adalah kenyataan-kenyataan empiric 3) yang tampak pada tingkat jasmani di dalam tubuh manusia, dengan unsur pokok memiliki elements adalah didalam pengaliran darah atau air dari dalam tubuh secara konstant, betul-betul jauh melebihi kenyataan ketidak-kekalan jasmaniah yang tampak dalam perbedaan di antara masa kecil (bayi), masa kanak-kanak, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua. Bahkan lebih tidak kekal, namun demikian, dalam pandangan agama Buddha, adalah pengetahuan, pikiran, atau kesadaran, di mana timbul dan berhenti dari waktu ke waktu. Mengingat ketidakkekalan dari hal-hal jasmaniah adalah secara empiric tampak dengan mudah, ketidakkekalan mengenai kesadaraan tidaklah mudah terlihat, hingga ditunjukkan (yakni dalam ajaran Agama Buddha). Sifat yang khas dari ketidakkekalan tidak menjadi jelas kelihatan disebabkan ketika naik dan jatuh tidak diberikan perhatian, hal itu tersembunyi oleh kesinambungan... Namun demikian, ketika kesinambungan diganggu oleh naik dan jatuh yang tajam. Sifat yang khas dari ketidakkekalan menjadi jelas kelihatan di dalam sifat dasar yang sebenarnya, hal itu adalah dugaan mengenai “naik dan jatuh”, atau terjadinya diikuti oleh pelenyapan, dimana pada dasarnya dugaan mengenai ketidakkekalan.

Tubuh dan pikiran adalah serupa yang dianggap sebagai pemandangan mengenai kejadian-kejadian, secara jasmaniah atau mental. Setiap waktu dari kesadaran dianggap sebagai terbentuk dari sebab dan musabab dan sebagaimana tidak stabil, dan oleh karena itu dengan segera buyar.

Anologi mengenai suara dari sebuah kecapi dipakai : suara kecapi ini tidak datang dari sesuatu “gudang” suara, begitu juga suara itu pergi kemana-mana ketika suara itu telah berhenti; daripada itu, setelah suara itu tidak ada, suara itu dibawa existensi oleh kecapi dan usaha pemain kecapi itu, kemudian, setelah terdengar, suara itu lenyap. Jadi dengan semua jasmaniah dan kejadian-kejadian mental; mereka datang ada, dan telah berada, lenyap

Kelenyapan ini yang tidak dapat dihindari dari apa saja adalah dibawa ke dalam badan, atau Anitya, menyajikan pokok persoalan untuk perenungan bagi umat Buddha. “Perenungan mengenai ketidakkekalan” adalah salah satu dari 3 (tiga) cara utama di dalam meditasi agama Buddha untuk melihat ke dalam (vipassana). Yang lainnya adalah perenungan mengenai duhkha, dan perenungan mengenai anatman.

b. Duhkha : semua bentuk yang terkondisi adalah tidak sempurna.
Segala sesuatu yang tidak kekal menimbulkan penderitaan, atau penderitaan terjadi karena adanya perubahan yang terus-menerus. Segala sesuatu pasti berubah cepat atau lambat atau terus menerus dan kemudian menjadi lapuk atau rusak. Keberadaan mereka berakibat menderita sebanyak apa adanya hal atau sesuatu barang itu. Contoh : Tubuh kita tidak sehat oleh karenanya kita menjadi sakit.

Duhkha : Istilah ini digunakan dalam tradisi agama Buddha mengenai salah satu dari Hukum Tri Laksana. Kepastian bahwa existensi semua manusia adalah dicirikan oleh Duhkha dan merupakan yang pertama dari khotbah Hyang Buddha yakni 4 (empat) Kesunyataan Utama atau Kebenaran Mulia.

c. Anatma : Semua bentuk yang terkondisi dan bentuk yang tidak terkondisi adalah tanpa “Aku”. Arti lainnya adalah bahwa segala sesuatu tidak mempunyai inti yang kekal abadi, atau tidak adanya existensi pribadi (tanpa “Aku”).

Anatma dapat juga diterangkan dalam 3 (tiga) tingkatan, yaitu:
1) Tidak terlalu mementingkan diri sendiri.
Contoh : terlalu egoistis, maka seseorang merasa yakin pada dirinya bahwa dialah yang paling benar dan atau paling berhak untuk melakukan sesuatu, tapi sebenarnya ia tidak berhak dan salah sama sekali.

2) Kita tidak dapat memerintah terhadap siapa dan apa saja, termasuk tubuh-jasmani dan pikiran kita supaya tetap seperti apa yang kita inginkan.
Contoh : kita tidak dapat memerintahkan supaya kita tetap awet muda, tetap cantik, tetap jaya, tetap bahagia, tetap waspada, tetap abadi.

3) Bila tingkat pengetahuan tinggi telah dicapai dan telah mempraktekkan akan mengetahui dan menemukan bahwa jasmani dan batinnya sendiri adalah tanpa “Aku”, atau tanpa pribadi. Orang yang mempunyai kebijakan tinggi tidak terikat pada segala sesuatu didunia ini, dimana saja mereka berada dapat bertindak dengan cara yang benar.

Anatma adalah doktrin agama Buddha bahwa tidak terdapat suatu kekekalan “Aku” (atta) yang terdapat di dalam tiap-tiap individu manusia. Anatman ini adalah yang ketiga dari Hukum Tri Laksana dan adalah suatu doktrin keseluruhan khas terdapat dalam agama Buddha, membedakannya dari agama lain dan filsafat India di masa dahulu.

Tanpa pengertian atau pengetahuan mengenai arti dari Anatma adalah tidak mungkin dapat mengerti pemikiran agama Buddha. Ajaran agama Buddha mengenai pokok ini adalah suatu penyangkalan atau penolakan mengenai kenyataan dari aku atau jiwa yang mendiami individu, suatu kesatuan yang lahir dengan masing-masing tahan lama di mana perantara dari tindakan-tindakan individu. Sebagai gantinya individu terlihat sebagai suatu sanding kata sementara dari panca-skandha, atau kumpulan faktor unsur pokok. Skandha sendiri tidaklah bertahan lama, tetapi adalah rangkaian dari kejadian-kejadian sebentar, tiap-tiap kejadian seperti itu bertahan dalam suatu hubungan sebab-musabab terhadap yang berikutnya. Sementara terdapat suatu perubahan yang terus-menerus dari faktor-faktor perubahan secara konstant di dalam sesuatu empiric yang diberikan “individu”, juga terdapat suatu kesinambungan yang tetap di dalam proses tersebut cukup untuk memberikan rupa atau penampilan, kedua-duanya pada badaniah dan tingkat psykologis, mengenai kepribadian.

Pengakuan mengenai kesinambungan seperti itu, dan menggunakan istilah-istilah setiap harinya dan nama-nama yang tepat untuk menunjukkan para individu yang khusus, diperkenankan sebagai kelonggaran dan bantuan demi effisiensi bahasa. Hal-hal ini adalah penggunaan kata-kata yang berlebihan , bahasa secara kata-kata, istilah komunikasi secara kata-kata, uraian secara kata-kata dimana Tathagata berkomunikasi tanpa salah memahami ungkapan-ungkapan tersebut.

Doktrin mengenai Anatma dianggap di dalam tradisi agama Buddha sebagai kebenaran yang paling sulit mengenai segala-galanya untuk dipahami karena dugaan mengenai suatu “Aku” yang kekal adalah berakar sangat dalam di dalam kebiasaan-kebiasaan pemikiran sehari-hari. Ide mengenai individu aku diperkenalkan kembali dan ditegaskan oleh pudgala-vadin, dimana pandangannya tidak diterima sebagai kebenaran oleh sekte agama Buddha lainnya. (E. Conze, Buddhist Thought in India, 1962).


4. Pratitya-Samutpada dan Nidanas

Pratitya-Samutpada memberikan arti: “Timbul atas dasar dari suatu sebab sebelumnya, terjadi dengan cara dari sebab,kejadian sebab musabab, ketergantungan asal mula”.
12 (dua belas) hal dari formula ini juga dinamakan Nidanas.
Kata ini,berasal dari Da (dyati; mengikat) dan Ni (terus),memberikan kesan suatu rangkaian atau rantai yang berhubungan. Kata itu berarti ; suatu permulaan atau sebab utama, dasar, suatu sebab utama atau jauh; sumber, asal mula, sebab. 12 (dua belas) Nidanas itu dalam risalat Sansekerta adalah sebagai berikut:

“Dari ketidaktahuan (avidya) sebagai sebab timbul bentuk-bentuk karma (Samskaras);
dari Samskaras sebagai sebab timbulnya kesadaran (Vij-ñana);
dari kesadaran sebagai sebab timbulnya Nama dan wujud (Nama-Rupa);
dari Nama dan Wujud sebagai sebab timbulnya 6(enam) bidang pengertian (Sad-ayatana);
dari 6 (enam) bidang penertian sebagai sebab timbulnya hubungan (Sparca);
dari Hubungan sebagai sebab timbulnya perasaan (Vedana);
dari Perasaan sebagai sebab timbulnya Idaman (Trsna);
dari Idaman sebagai sebab timbulnya Tamak/kemelekatan (Upadana);
dari Tamak sebagai sebab timbulnya Kejadian (Bhava);
dari Kejadian sebagai sebab timbulnya Kelahiran (Jati);
dari Kelahiran sebagai sebab timbulnya usia tua, kematian, duka cita, ratapan, perasaan sakit, kekesalan dan keputusasaan.”
Demikianlah kehidupan itu timbul, berlangsung dan bersambung terus menerus tanpa berhenti. Hyang Buddha Shakyamuni menerangkan hukum sebab-musabab yang saling ketergantungan ini dalam suatu rangkaian yang terdiri dari 12 (dua belas) rantai, yaitu kondisi-kondisi dan sebab-musabab yang saling bergantungan dari penderitaan manusia dan pengakhirannya.

Dengan memahami seluruh fenomena kehidupan ini, Agama Buddha memandangnya sebagai suatu lingkaran dari kehidupan, yang tidak dapat diketahui permulaan dan akhirnya. Dengan demikian masalah ’sebab-pertama’ bukanlah menjadi masalah dalam filsafat agama Buddha.

’’Tidak dapat dipikirkan akhir roda Tumimbal lahir; tidak dapat dipikirkan asal-mula makhluk-makhluk yang karena diliputi oleh ketidaktahuan dan terbelenggu dari nafsu keinginan rendah (Tanha) mengembara kesana kemari.’’

Sehubungan dengan masalah asal-mula dan sebab pertama ini, Hyang Buddha Shakyamuni mengajarkan bahwa asal-mula alam semesta ini tidak dapat dipikirkan. Alam semesta ini bergerak menurut proses pembentukan dan penghancuran yang berlangsung terus-menerus.

Pratitya-Samutpada di sisi lain juga memperlihatkan bahwa berhentinya segala rangkaian peristiwa fenomena 4) kehidupan ini adalah dengan berhentinya syarat-syarat yang mendahuluinya. Berhentinya rangkaian peristiwa fenomena kehidupan ini dapat dicapai oleh mereka yang telah memiliki pandangan terang atau kebijaksanaan sempurna (Prajna).

Pratitya-Samutpada ini adalah untuk memperlihatkan kebenaran dari keadaan sebenarnya, dimana tidak ada sesuatu itu timbul tanpa sebab. Bila Hukum ini dipelajari dengan sungguh-sungguh, maka kita akan terbebas dari pandangan yang salah dan dapat melihat ’hidup’ dan ‘kehidupan’ ini secara wajar.

Dengan demikian, berdasarkan prinsip dari saling menjadikan, relativitas dan saling ketergantungan ini, maka seluruh kelangsungan dan kelanjutan hidup dan juga berhentinya hidup dapat diterangkan dalan 12 (dua belas) Nidanas atau sebab-musabab sebagaimana telah diterangkan diatas.

Didalam Da.Bhu.,”lima indera’’ disebutkan pada tempat dari “enam bidang mengenai perasaan” dan Abhinandana (menyenangkan, kesenangan) disisipkan sebagai suatu sinonim dari Trsna.
Sebagai ganti Jati, Da.Bhu. membahas tentang “munculnya lima skandhas (kumpulan)”. Lal.V. juga menyebutkan semua Nidanas di dalam urutan kebalikannya, tetapi kebanyakan risalat selalu mulai dengan Avidya.

“Dengan berhentinya seluruh dari ketidaktahuan (avidya) maka kan terhenti pula bentuk-bentuk karma (Samskaras); dengan berhenti seluruh Samskaras, maka akan terhenti pula kesadaran (Vijñana); dst. ... dengan berhentinya kelahiran kembali (tumibal lahir), maka berhenti pula usia tua, kematian, dll.”

4.1. Penjelasan arti 12 nidanas

1. Avidya : ditegaskan sebagai “kekurangan pengetahuan tentang 4 (empat) Kebenaran Mulia”, tepatnya dalam cara yang sama sebagai moha.

Da. Bhu, menjelaskan avidya sebagai “khayalan atau kebodohan (moha) yang berhubungan dengan segala sesuatu, sebagaimana merupakan bahan-bahan pokok.” Avidya tergila-gila menyukai makhluk.

2. Samskaras : Ksemendra menunjukkan 3 (tiga) bagian dari samskaras yang miliknya tubuh, ucapan, pikiran. Suatu lukisan dinding Ajanta, mereka (tubuh, ucapan, pikiran) digambarkan dengan pekerjaan seorang pembuat barang-barang tembikar pada jentera pembuata tembikar, dikelilingi oleh banyak pot; tetapi lukisan orang tibet hanya memiliki jentera pembuat tembikar dan banyak pot, tanpa pembuatnya
Lukisan simbolik orang Tibet mengenai nidanas menggambarkan sebagai seorang buta meraba-raba jalannya dengan sebuah tongkat.
barang-barang tembikar. Da. Bhu. mengajarkan bahwa Samskaras menghasilkan realisasi dari hasilnya (dari perbuatannya dimasa mendatang.

3. vijñana : Ksemendra memperkenalkan Vijñana dengan 6 (enam) “alat indera” (termasuk manas). Menurut Da. Bhu., Vijñana menyebabkan penyatuan kembali dari Penjadian. Dalam lukisan dinding Ajanta dan orang tibet, Vijñana digambarkan sebagai seekor kera, atau seekor sedang memanjat pohon. Vijñanajuga dianggap bedasarkan 6 aspek menurut hubungannya dengan 6 (enam) indera.

4. Nama-rupa : Istilah ini menunjukkan “pikiran dan tubuh”.
Nama termasuk 4 (empat) “kumpulan” yang tidak pokok mengenai perasaan, persepsi, kemauan, dan kesadaran, sedangkan rupa berarti “wujud”, tubuh itu terdiri dari 4 (empat) unsur/element.
Hubungan dan perhatian juga termasuk dalam nama, sebagaimana suatu istilah yang komprehensif bagi kehidupan mental individu.

5. Sad?yatanam : Kata ini menunjukkan kedua-duanya (enam) “alat indra” (termasuk manas) dan obyek yang saling berhubungan. Bagian yang pertama itu dinamakan ?yatanas bagian dalam , dan bagian satunya lagi adalah ?yatanas bagian luar. Dalam lukisan Ajanta dan orang Tibet, mereka digambarkan dengan penutup muka dari muka manusia, atau sebuah rumah dengan 6 (enam) jendela.

6. Sparca : sparca atau Hubungan adalah dari 6 (enam) jenis menurut hubungan itu dihasilkan oleh tiap-tiap dari 6 (enam) indera. Sparca digambarkan dalam lukisan orang Tibet dengan seorang pria yang duduk dengan sebuah anak panah memasuki mata.

7. Vedana : (Sensasi atau Perasaan). Vedana juga diuraikan sebagai 6 (enam) bidang menurut alat- indera yang memiliki hubungan berasal dari Vedana. (caksuh-sparcaja vedana, crotra-sparcaja vedana, dst.)

P.E. Foucaux setuju menterjemahkan vedana disini sebagai “sensasi”. Tetapi vedana nampaknya juga berarti “perasaan”, sebagaimana dikatakan ada 3 (tiga) macam perasaan : menyenangkan (sukkha), derita (duhkha), dan tidak derita begitu juga menyenangkan, yakni netral, tidak berbeda-beda (aduhkha – asukha).

Di dalam lukisan orang Tibet gambarannya mengenai 12 (dua belas) nidanas, simbol dari vedana adalah sepasang kekasih. Seorang bodhisatttva, yang melatih Kesadaraan berhubungan dengan Perasaan, belajar untuk menahan dan mengendalikan semua perasaan. (yakni 3 macam perasaan itu) ke dalam keharuan universal.
Dia mengurangi arti atas perasaannya dalam suatu cara seperti itu yang dia capai pada 2 (dua) hasil : dia merasa sangat terharu demi semua makhluk, dia memajukan kepribadiannya dengan memusnahkan atau pengurangan r?ga (indera keinginan), dvesa (kebencian, rasa dengki), dan moha (khayalan, kebodohan). Kesadaran yang berhubungan dengan Perasaan dapat membantu disiplin seorang bodhisattva yang terakhir.

8. Trsna : Setelah avidya, trsna (Idaman, Kehausan) adalah akar menyebabkan kejahatan. Trsna ada 3 (tiga) macam menurut sebagaimana Trsna menghasilkan keinginan untuk kesenangan yang berhubungan dengan panca-indera, yang bereksistensi, dan yang tidak bereksistensi (vibhava). Trsna menuju ide yang salah mengenai relitas mengenai phenomena. Lankhavatara-Sutra menerangkan arti avidya adalah bapak dan trsna ibu dari dunia phenomena.
Trsna adalah juga nama seorang putri dari Mara, deva dari Keinginan dan kematian. Menurut Da.Bhu. Trsna menghasilkan kemelekatan pada obyek kesenangan. Dalam lukisan orang Tibet, Trsna digambarkan sebagai seorang pria sedang minum anggur.

9. Upadana : Dalam Filsafat agama Buddha, Upadana menunjukkan “tamak/lobha, kemelekatan pada existensi atau pada obyek keadaan luar”, sebagaimana kecenderungan ini menghidupi Api itu dari kejadian dan menuju pada tumimbal-lahir. Menurut Da.Bhu,. Upadana menciptakan pertalian kemerosotan moral.
Terdapat 4 (empat) macam Upadana, timbul dari Keinginan yang berhubungan dengan panca-indera, bidah (memegang suatu pandangan yang bertentangan dengan agama atau ajaran yang telah diterima kebenarannya), percaya pada tatacara dan upacara, dan ide yang keliru mengenai suatu substansi Ego (atman).
Dalam lukisan orang Tibet, Upadana digambarkan sebagai seorang pria memetik bunga-bunga dan mengumpulkan bunga-bunga itu ke dalam keranjang-keranjang besar.

10. Bhava : Ksemendra menyebutkan 3 (tiga) bagian mengenai bhava, yaitu bidang kama (keinginan-rasa), rupa (wujud) dan arupa (arupya, tanpa wujud).
H. Oldenberg menginterpretasikan bhava sebagai tumimbal lahir dan kesinambungan dari existensi. Lukisan orang Tibet menggambarkan Bhava sebagaimana seorang nyonya.
L.A. Waddell mengatakan : “ Nyonya, adalah istri dari individu, yang memiliki sejarah kehidupan yang sedang dijajaki Bhava adalah Kejadian yang benar-benar lebih lengkap. Bhava adalah kejadian yang benar-benar lebih lengkap. Kehidupan sebagai diperkaya oleh kepuasan keinginan duniawi akan rumah dan sebagai suatu cara perolehan seorang ahli waris pada kekayaan yang dihimpun dengan Kerakusan.

11. Jati (Kelahiran). Da. Bhu. Menjelaskan Jati sebagai kemunculan atau penampilan dari panca-skandha. Ksemendra mengarahkan pada putaran kehidupan yang berbeda-beda. Lukisan orang Tibet menunjukan kelahiran itu dengan seorang anak kecil.

12. Jara-marana, dst. Hanya Jara-marana kadang kala disebutkan. Lukisan orang Tibet menunjukkan sosok mayat, yang sedang diusung ke kremasi (pembakaran mayat) atau penguburan.
Seorang bodhisattva mengerti kebenaran dari pratityasamutpada pada tingkat bhumi yang ke-6 (enam). Dia kemudian bebas dari semua khayalan dan kesalahan (moha).


5. Tumimbal Lahir

Kelahiran dari makhluk-makhluk, atau keputusan dari makhluk-makhluk mereka akan lahir, rencana mereka akan munculnya ke dalam kehidupan, perwujudan dan kelompok-kelompok kehidupannya, timbulnya aktivitas indriyanya; inilah yang dinamai Tumimbal-Lahir. Dengan “lahir” dimaksudkan di sini ialah, keseluruhan proses dari atau bakal bayi, mulai dengan rencananya atau konsepsinya, dan berakhir dengan pembabarannya.

Seseorang yang setelah meninggal tidaklah berarti bahwa ia telah bebas dari penderitaan dan kesusahan, tergantung pada selama ia hidup di dunia ini yakni di alam samsara perbuatan-perbuatan apa yang yang telah ia lakukan, jika selama ia hidup telah berbuat lebih banyak baiknya daripada berbuat jahat maka kemungkinan ia akan terlahir kembali ke dunia ini atau ke alam yang lebih tinggi, bila perbuatan jahatnya lebih banyak ia akan terlahir jatuh ke bawah ke alam yang lebih sengsara atau neraka.

Enam alam Tumimbal-Lahir atau enam jalan kecil mengenai kelahiran kembali adalah : dewa, manusia, asura, preta, binatang, dan penghuni neraka.

Bila selama seseorang hidup di dunia ini telah banyak melakukan perbuatan amal yang sangat baik maka kemungkinan besar ia tidak akan terlahir kembali di alam tumimbal-lahir dari enam jalan kecil mengenai kelahiran kembali, ia yang selama hidup di alam manusia ini rajin dan patuh mengikuti Buddha Dharma maka ia dapat terlahir di alam tingkatan suci atau di alam yang tidak dapat tumimbal lahir yakni di alam Sravaka, Pratyeka Buddha, Bodhisattva, Buddha.
(Catatan : Seorang Buddha sebenarnya tidak termasuk di dalam tingkatan ini, akan tetapi bilamana seorang Buddha mewujudkan diri-Nya di hadapan para makhluk hidup dimana Beliau untuk memberikan penerangan Dharma, Beliau menduduki tingkat tersebut.

Sepuluh alam atau tingkatan itu adalah sebagai berikut :
1. Buddha
2. Bodhisattva
3. Pratyeka Buddha
4. sravaka
(empat alam ini adalah alam atau tingkatan makhluk suci)
5. Dewata
6. Manusia
7. Asura
8. Preta
9. Alam Binatang
10. Penghuni Neraka
(Pandangan ini adalah dari Sekte Thien Thai)

6. Hukum Karma

Hukum Karma adalah Hukum Sebab-Akibat.
Karma berarti perbuatan, arti umumnya meliputi semua jenis kehendak dan maksud perbuatan, yang baik maupun yang buruk, lahir atau batin dengan pikiran, ucapan atau kata-kata, dan tindakan.
Karma dalam arti yang luas : semua kehendak atau keinginan dengan tidak membeda-bedakan apakah kehendak atau keinginan itu baik (bermoral) atau tidak baik (tidak bermoral).

Karma bukanlah satu ajaran yang membuat manusia dapat menjadikan orang cepat berputus asa, juga bukanlah suatu ajaran tentang adanya satu nasib yang sudah ditakdirkan. Prinsip utama dari Hukum Karma adalah bahwa seseorang akan memetik buah seperti apa yang telah ia taburkan benihnya, apakah itu karmabaik atau buruk.

Hyang Buddha Bersabda :

“Sesuai dengan benih yang telah ditaburkan begitulah buah yang akan dipetiknya, pembuat kebaikan akan mendapat kebaikan, pembuat kejahatan akan memetik kejahatan pula. Taburlah oleh-mu biji-biji benih dan enkau pulalah yang akan merasakan buah-buah daripadanya.”

Memang segala sesuatu yang lampau mempengaruhi keadaan sekarang, namun tidaklah menentukan keseluruhannya, dikarenakan karma itu mencakup karma yang telah lampau dan karma sekarang ini, karma yang telah lampau bersama-sama dengan apa yang terjadi sekarang ini (karma baik atau karma buruk) akan mempengaruhi pula karma yang akan datang.

Apa yang telah lampau sebenarnya merupakan dasar dimana hidup yang sekarang ini berlangsung dari satu saat ke lain saat dan apa yang akan datang masih akan dijalankan. Oleh karena itu, saat sekarang inilah yang nyata dan ada “ditangan kita sendiri” untuk digunakan dengan sebaik-baiknya. Oleh sebab itu, kita harus hati-hati sekali dengan perbuatan kita, supaya akibatnya senantiasa akan bersifat baik. Kita hendaklah selalu berbuat baik, yang dengan maksud menolong makhluk-makhluk lain, membahagiakan makhluk-makhluk lain, perbuatan baik ini pasti akan membawa suatu akibat yang baik pula serta memberikan kekuatan pada diri kita untuk melakukan karma yang lebih baik lagi.

Apa pun yang datang pada diri kita, yang menimpa pada diri kita, sesungguhnya benar adanya. Kalau kita mengalami sesuatu yang membahagiakan, yakinlah bahwa karma yang telah kita perbuat adalah benar. Sebaliknya, bila ada sesuatu yang menimpa kita dan membuat kita tidak berbahagia, tidak senang, adalah karma-vipaka (akibat), itu menunjukkan bahwa kita telah berbuat suatu kesalahan. Janganlah sekali-kali dilupakan bahwa karma-vipaka itu senantiasa benar.
Karma-vipaka tidaklah mencintai maupun membenci, juga tidak marah dan juga tidak memihak sama sekali, Karma-vipaka merupakan hukum alam, dipercaya atau tidak dipercaya diaakan tetap berlangsung terus-menerus.

Bentuk karma yang baik sekali/bermutu/yang lebih berat dapat menekan bahkan menggugurkan bentuk karma-karma yang lain. Jadi, karma dapat diperlunak, dibelokkan, ditekan, bahkan digugurkan.

Hyang Buddha bersabda :

“Tidak dilangit, tidak pula di tengah-tengah lautan atau pun dengan memasuki gua-gua di gunung-gunung tidak terdapat suatu tempat untuk menyembunyikan diri; orang tidak dapat menghindari diri dari akibat perbuatan jahatnya sendiri.”

Seseorang (individu) adalah penyebab dari kebahagiaan atau kesusahan hidup seseorang.

Perbedaan hasil karma, dapatlah diumpamakan dengan buah-buah di alam semesta ini, ada yang lama baru berbuah setelah ditanam, tetapi ada pula yang cepat berbuah. Adalah suatu kekeliruan sendiri bila kita meragukan tentang karma yang berlangsung lama dengan karma yang berlangsung cepat, kita akan kecewa, ini bukanlah berarti Hukum Karma tidak berfungsi atau tidak tepat, tetapi sekali lagi ditegaskan bahwa adalah karena kekeliruan sendiri.


Hyang Buddha bersabda :

“Pembuat kejahatan melihat kebahagiaan selama perbuatan jahatnya belum masak; tetapi bilamana perbuatan jahatnya telah masak, maka barulah ia melihat penderitaan.”

Diingatkan kembali bahwa ada 3 (tiga) macam penyebab dari perbuatan yaitu :
1) Loba (Keserakahan),
2) Dosa (Kebencian), dan
3) Moha (Kebodohan).

Jenis-jenis Karma : a) Karma yang ditentukan oleh waktu,
b) Karma yang ditentukan oleh kekuatan,
c) Karma yang ditentukan oleh fungsi.

Akhirnya, menurut Buddha Dharma, sekalipun akibat dari karma yang buruk tidak dapat diubah, ini bukan berarti bahwa seseorang tidak berdaya sama sekali untuk memperbaikinya. Oleh karena itu, menurut Buddha Dharma, tidaklah terlalu telat untuk segera melakukan kebaikan, dan siapa pun juga yang telah menyadari kesalahannya dan berbalik menuju kebaikan selamanya harus diberi kesempatan dan disambut.

6.1. 10 (sepuluh) Jenis Karma Baik

1. Gemar beramal dan bermurah hati, akibatnya adalah diperolehnya kekayaan dalam kehidupan ini atau kehidupan yang akan datang.
2. Hidup bersusila, akibatnya adalah penitisan dalam keluarga luhur yang keadaannya bahagia.
3. Sering melakukan meditasi, akibatnya adalah penitisan di alam bahagia.
4. Berendah hati dan hormat, akibatnya adalah penitisan dalam keluarga luhur
5. Berbakti, akibatnya akan diperoleh penghargaan dari masyarakat
6. Cenderung untuk membagi kebahagiaan kepada orang lain.
7. Bersimpati terhadap kebahagiaan orang lain, akibatnya adalah menyebabkan terlahir dalam lingkungan yang menggembirakan.
8. Sering mendengarkan Dharma, akibatnya adalah berbuah dengan bertambahnya kebahagian.
9. Gemar menyebarkan Dharma, akibatnya adalah berbuah dengan bertambahnya kebijaksanaan (sama dengan no. 8)
10. Meluruskan pandangan orang lain yang keliru, akibatnya berbuah dengan diperkuatnya keyakinan.

6.2 10 (Sepuluh) Jenis Karma Buruk.

1. Pembunuhan, akibatnya pendek umur, berpenyakitan, senantiasa dalam kesedihan karena terpisah dari keadaan atau oang yang dicintai, dalam hidupnya senantiasa berada dalam ketakutan.
2. Pencurian, akibatnya kemiskinan, dinista dan dihina, dirangsang oleh keinginan yang senantiasa tidak tercapai; penghidupannya senantiasa tergantung kepada orang lain.
3. Perbuatan asusila, akibatnya mempunyai banyak musuh, beristri atau suami yang tidak disenangi, terlahir sebagai pria atau wanita yang tidak normal perasaan seks-nya.
4. Berdusta, akibatnya menjadi sasaran penghinaan, tidak dipercaya khalayak ramai.
5. Bergunjing, akibatnya kehilangan teman-teman tanpa sebab yang berarti.
6. Kata-kata atau ucapan kasar dan kotor, akibatnya sering didakwa yang bukan-bukan oleh orang lain.
7. Omong kosong, akibatnya bertubuh cacat, berbicara tidak tegas, tidak dipercaya oleh khalayak ramai.
8. Keserakahan, akibatnya tidak tercapai keinginan yang sangat diharap-harapkan.
9. Dendam, kemauan jahat/niat untuk mencelakakan makhluk lain, akibatnya rupa buruk, macam-macam penyakit, watak tercela.
10. Pandangan salah, akibatnya tidak melihat keadaan yang sewajarnya, kurang bijaksana, kurang cerdas, penyakit yang lama sembuhnya, pendapat yang tercela.


6.3. 5 (Lima) Bentuk Karma Celaka

Lima perbuatan durhaka berikut ini mempunyai akibat yang sangat berat ialah penitisan di alam neraka.
1. membunuh ibu,
2. membunuh ayah,
3. membunuh orang suci, Arahat, Bodhisattva,
4. melukai seorang Buddha,
5. menyebabkan perpecahan dalam Sangha (hanya berlaku untuk para bhiksu yang mematuhi vinaya secara taat).

“Karma, oh para siswa, haruslah diketahui, demikian pula sebab-musababnya, macam-macamnya, akibatnya, pelenyapnya, dan jalan yang menuju pelenyapnya...

Tetapi, oh para siswa, apakah Karma itu? Gerak-gerik pikiran itulah yang disebut karma, atau Perbuatan karena dengan gerak-gerik pikiran orang yang melakukan karma dengan jasmani, dengan pembicaraan atau dengan pikiran . inilah yang dinamakan Karma.

Tetapi apakah sebab-musabab Karma itu? Karena sadar akan kesan-kesan, itulah asal-mulanya karma.

Tetapi apakah macam-macamnya Karma itu? Terdapatlah Karma yang masak di alam Neraka, Karma yang masak di alam kerajaan binatang, Karma yang masak di alam dari setan, Karma yang masak di alam dunia dari manusia, Karma yang masak di alam dewa. Inilah yang disebut macam-macamnya Karma.

Tetapi apakah akibat dari Karma itu? Terdapatlah tiga macam akibat dari Karma, ialah : akibat yang timbul di alam kehidupan yang sekarang ini, atau di dalam kelahiran yang di depan ini, atau di dalam waktu yang akan datang nanti. Inilah yang disebut akibat dari karma.

Tetapi apakah lenyapnya Karma itu? Di dalam lenyapnya kesadaraan terhadap Kesan-kesan, terdapatlah pula lenyapnya Karma. Dan Delapan Jalan Utama, Prajna, Sunyata, menuju lenyapnya Karma itu.”


7. Sila

Sila adalah prinsip prilaku manusia yang membantu melancarkan dengan teratur kekompakan dan kerjasama yang baik bagi masyarakat. Secara khusus, Sila menghalalkan sesuatu kemajuan, manfaat tertentu juga. Peraturan-peraturan tentang tingkah laku atau sila terdapat di semua agama. Tinggi dan rendahnya Sila tergantung pada guru atau sistem agama yang mengajarkannya.

Biasanya sila menerangkan tentang peraturan-peraturan yang harus dihindarkan, dalam hal ini termasuk juga perbuatan-perbuatan yang biasa tetapi tidak pantas untuk dilakukan.

Panca (lima) Sila Buddha : Mengajarkan kepada umat Buddha agar menghindarkan diri dari membunuh makhluk hidup, mengambil sesuatu atau barang yang tidak diberikan oleh pemiliknya, menghindarkan diri dari perbuatan a-susila (berzinah), menghindarkan diri dari minuman-minuman yang dapat mengakibatkan ketidak-sadaran.

Ke-lima Sila ini merupakan prinsip dasar bagi Agama Buddha dan telah di ketahui oleh kebanyakan umat Buddha.

Upasaka (untuk pria) dan Upasika (untuk wanita) adalah nama yang diberikan kepada umat Buddha yang selain berlindung kepada Tri Ratna (Tiga Mustika) juga ingin menjalankan Lima-Sila.

Penjelasan

Sila Pertama : (Membunuh makhluk hidup). Semua makhluk hidup takut dihukum atau mati. Kehidupan diinginkan oleh semua makhluk. Dengan menempatkan diri kita pada posisi mereka, kita dapat menyadari bahwa kita secara pribadi tidak perlu membunuh atau dibunuh (bunuh diri). Dengan prinsip Dharma ini, Hyang Buddha bermaksud supaya kita dapat mengerti dan merasakan perasaan orang lain, bahwa semua makhluk hidup mencintai kehidupannya seperti kita sendiri dan takut akan kematian.

Catatan : Untuk memutuskan apakah kuman-kuman adalah makhluk hidup atau tidak (makhluk yang dimaksud dalam sila pertama), kita harus melihat sejarah kehidupan Hyang Buddha sendiri.

Bilamana Hyang Buddha sakit. Beliau mengijinkan dokternya yang bernama Jivakakomarabhaca untuk menggunakan obat luar atau obat dalam. Para bhiksu pun diizinkan untuk mengambil atau mempergunakan obat agar dapat sembuh dari sakit. Dengan demikian maka kita dapat menyimpulkan bahwa sila pertama tidak meliputi kuman-kuman. Bila tidak demikian, maka tidak dapat makan atau minum sesuatu, ataupun bernafas yang bebas dari adanya kuman-kuman, maka tidak mungkin seorang pun dapat melaksanakan Sila-pertama.

Sila Kedua : (Tidak mencuri). Digariskan untuk mengembangkan saling hormat-menghormati hak masing-masing pada milik kita masing-masing.

Sila Ketiga : (Tidak berzinah). Digariskan untuk mengembangkan rasa hormat pada keluarga masing-masing.

Sila Keempat : (Tidak berbohong). Bertujuan untuk melindungi kepentingan kita masing-masing dengan selalu benar.

Sila Kelima : (Tidak bermabukan). Membantu kita untuk terhindar dari ketidak-waspadaan atau sifat alpa.

Karena pada hakekatnya tujuan daripada Sila adalah untuk mencegah Kita tidak menyusahkan orang lain. Disamping itu pula Sila merupakan langkah pertama pada Meditasi (Samadhi) dan Kebijaksanaan (Prajna). Dan di dalam melaksanakan Sila, bukan melaksanakan sila itu secara kata-kata atau harfiah saja tetapi harus sesuai dengan tujuan yang sebenarnya, tetapi pelaksanaan itu sendiri akan berbeda karena tergantung pada kemampuan dan keadaan masing-masing individu. Contoh : pelaksanaan sila bagi umat awan, orang biasa, yang berkeinginan untuk mendapatkan kedamaian dan keamanan bagi dirinya, keluarganya dan bangsanya; sedangkan pelaksanaan sila bagi para bhiksu (umat Buddha lainnya) bertujuan untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi dalam Dharma. Lebih lanjut, Sila merupakan faktor yang penting sekali dalam pembangunan negara , dan juga merupakan kekuatan yang menunjang kemajuan ekonomi serta keamanan bangsa. Tanpa sila maka produktivitas atau usaha manusia akan berkurang dan akhirnya ia sendiri hancur. Bilamana seseorang itu maju sekali teteapi mempunyai tendensi atau motif yang tidak baik bagi orang lain, maka dengan demikian tidak ada sesuatu pun yang diabdikannya untuk masyarakat, dengan kata lain ia hanya menghalangi kemajuan masyarakat dan menyebabkan kesulitan untuk mengembangkan kesejahteraan serta kebahagiaan masyarakat tersebut. Dari sudut ini kita dapat melihat bahwa ada juga orang yang melaksanakan sila demi memperbaiki atau menyesuaikan posisi atau statusnya, dan juga menyadari bahwa sila dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan masyarakat pula.

Anjuran untuk supaya melaksanakan sila sempurna dari semua peraturan, bukan berarti bahwa pelaksanaannya sudah harus benar sejak pertama melakukannya. Karena bila harus sempurna sejak saat mulai melakukannya maka hal ini adalah sulit sekali bagi kebanyakan orang. Pelaksanaan sila sebaiknya berangsur-angsur, selangkah demi selangkah dari yang rendah ke yang tertinggi. Itulah sebabnya mengapa kata-kata ini digunakan sewaktu mengucapkan janji untuk melaksanakan sila : “ saya berjanji untuk berusaha menghindarkan diri dari melakukan ... dan seterusnya”. Kata-kata ini adalah bertujuan untuk berusaha melatih melatih sila-sila tersebut.
Biasanya para bhiksu tidak memberikan sila atas kemauan bhiksu itu sendiri atau ia mengira-ngira bahwa umat akan melaksanakannya. Tetapi para bhiksu memberikan sila tersebut karena permohonan atau permintaan dari umat itu sendiri. Bilamana kita (umat) memohon sila, itu berarti kita mau atau siap melaksanakannya.


8. Nirvana

Kata Nirvana secara harfiah berarti : memadamkan dan karena itu “tenang, hening, sentosa, kekal abadi”.
Kata Nirvana adalah salah satu kata yang sulit sekali untuk secara tepat dijelaskan.

Dalam bentuk Agama Buddha yang paling tua, akhir dari Jalan itu adalah pencapaian ke-Arahat-an, bila kehidupan telah lewat. Arti dasar dari kata itu adalah pemadaman dari api bila bahan bakarnya telah semua dihabiskan. Yaitu dalam Agama Buddha dari Aliran Selatan (Hinaya), bila api dari hawa nafsu bersifat keduniawian hilang, dan siswa itu menjadi seorang Arahat, bebas dari semua keinginan dan kehidupan yang telah lewat, dia dikatakan telah mencapai Nirvana, atau Pari Nirvana.

Dalam Agama Buddha aliran Utara (Mahayana), Nirvana mempunyai pengertian philosofi yang melebihi : Nirvana berarti keadaan dimana tidak hanya api dan hawa nafsu keduniawian telah hilang dan kehidupan keduniawian telah lewat, tetapi semua keinginan berhubungan dengan karma bagi kehidupan individu dipadamkan dan siswa itu telah melewati kedalam kehidupan yang menyatu dari ke-Buddha-an.
Nirvana secara pandangan umum adalah :

1. tidak dapat dijelaskan atau diungkapkan secara tepat atau sempurna,
2. tanpa awal, tidak berubah, tanpa pelapukan, abadi,
3. harus direalisasikan di dalam diri pribadi sendiri, hanya dimungkinkan bilamana keinginan akan kesenangan perasaan telah total dipadamkan atau disingkirkan,
4. ke-aku-an seperti itu berhenti di dalam Nirvana. Jalan Masuk ke Nirvana hanya memungkinkan mengenai leburnya pribadi sendiri,
5. Nirvana ialah kedamaian (Sama atau Upasama),
6. Nirvana memberikan keselamatan terakhir.?

--------------------------------------------------------------------------------------------------------
1) waktu kosmik adalah kalpa. Satu kalpa adalah suatu periode waktu yang sangat lampau yaitu 4326 juta tahun.
2) Samyag-samkalpa (Skt.) atau Samma-sankappa (Pali) yaitu terdiri dari keadaan mental mengenai alobha (tidak rakus); adosa (tidak membenci); dan ahimsa (tidak melukai)
3) empiric (Eng.) : berdasarkan observasi/pengamatan dan pengalaman, bukan berdasarkan teori.
4) Fenomena : Hal-hal yang dapat diselesaikan dengan Panca Indera, dan dapat diterangkan dan dinilai secara ilmiah.

© Budiman Sudharma - FKUB DKI Jakarta, 2007 | (021) 6624620 | info@infobuddhis.com
Designed and Developed by i2 Solutions