Main Logo
Pusat Informasi dan Komunikasi Umat Buddha
Forum Komunikasi Umat Buddha - DKI Jakarta
Home > Artikel Buddha Dharma > Makna Hari Raya Agama Buddha
Makna Hari Raya Agama Buddha

MAKNA HARI RAYA AGAMA BUDDHA

Upacara-upacara, baik yang bersifat keagamaan maupun kenegaraan sebenarnya adalah suatu cetusan hati manusia terhadap keadaan. Dengan sendirinya, bentuk-bentuk upacara itu disesuaikan dengan keadaan,dan cara berpikir di pembuat atau pelaksanannya

Dari berbagai macam upacara yang dilakukan oleh umat Buddha dengan corak ragam yang berlainan, bila diteliti mempunyai makna yang sama. Dalam semua upacara Buddhis, sebenarnya terkandung prinsip-prinsip sebagai berikut :

1.Menghormati dan merenungkan sifat-sifat luhur Triratna (Buddha, Dharma dan Sangha)

2.Memperkuat Saddha/Sradha (keyakinan yang benar) dengan tekad

3.Membina Paramita (sifat baik yang luhur)

4.Mengulang dan merenungkan kembali khotbah-khotbah Sakyamuni Buddha, para Buddha dan para Bodhisattva

5.Melakukan Anumodana (membagi perbuatan baik kita kepada makhluk lain)

Secara terperinci, manfaat langsung yang dapat diperoleh dari upacara yang baik adalah :

1.Saddha/Sradha (keyakinan yang benar) akan berkembang

2.Paramita (sifat bajik yang luhur) akan berkembang

3.Samvara (indria) akan terkendali

4.Santuthi (puas)

5.Santhi (damai)

6.Sukha (bahagia)

Untuk dapat memiliki manfaat yang sebesar-besarnya maka kita harus melaksanakan upacara yang benar sesuai dengan makna yang terkandung dalam upacara tersebut.

Adapun Hari Raya umat Buddha yang sering dirayakan baik secara individu maupun kelompok adalah :

5.1. HARI PUJABHAKTI (UPOSATHA)

Hari Upavasatha jatuh pada tanggal 1, 8, 15, 22, 23 dan 30 menurut Lunar Kalender, bagi umat Buddha menjalankan Asthanga Sila atau Asta Sila dan mendengarkan khotbah Buddha Dharma di Vihara. Umat Buddha biasanya mengambil pada hari tanggal 1 dan 15. Sedangkan tanggal 1 bulan lunar Kalender merupakan Hari lahir Maitreya Bodhisattva yang disebut Hari Maitri.

Tradisi ini memang oleh Sang Buddha diambil dari tradisi Hindu, atas usul raja Bimbisara dari Magadha. Hari Pujabhakti umat Buddha tersebut dikenal sebagai hari Uposatha. Kata Uposatha berasal dari kata “Upavasatha” yang menunjuk pada malam menjelang upacara Soma, sebuah tradisi agama Hindu.

Pada hari Uposatha tersebut umat Buddha melakukan pujabhakti, berupa :

1.melakukan persembahan bunga / dupa / lilin di tempat ibadah agama Buddha (Vihara, Cetya dll.).

2.melakukan puja pada Sang Triratna dan membaca paritta-paritta / sutra suci.

3.memohon pada bhiksu/bhikkhu untuk bimbingan melaksanakan Pancasila Buddhis (lima sila) atau Atthasila (delapan sila).

4.mendengarkan khotbah Dharma dari para bhiksu/bhikkhu atau pandita.

5.ada pula umat Buddha yang melakukan makan sayurnis (vegetarian/tidak memakan makanan yang bernyawa).

6.memperbanyak meditasi.

Para Bhiksu/Bhikkhu pada purnama siddhi menjalankan upacara samaggi uposatha yaitu sesudah mereka bercukur kepala, melakukan upacara parisudhi (pensucian batin dan mohon maaf atas perbuatan salah yang telah diperbuat) dan selanjutnya membaca ulang Patimokha (227 peraturan kebhikkhuan).

Daftar bulanTilem Purnama 2006 – 2012

Tahun

Tilem / Bulan Baru

Purnama/Bulan Penuh

Puja

2006 M



Jan

14


2550TB

Jan

29

Feb

13 *

Maghapuja


Feb

28

Mar

15



Mar

29

Apr

13



Apr

28

Mei

13 *

Waisak


Mei

27

Juni

12



Juni

25

Juli

11 *

Asadhapuja


Juli

25

Ags

09



Ags

24

Sep

08



Sep

22

Okt

07 *

Pavarana/ Kathina


Okt

22

Nop

05



Nop

21

Des

05



Des

20




Tahun

Tilem / Bulan Baru

Purnama/Bulan Penuh

Puja

2007 M



Jan

03


2551TB

Jan

19

Feb

02



Feb

17

Mar

04 *

Maghapuja


Mar

19

Apr

03



Apr

17

Mei

02



Mei

17

Juni

01



Juni

15

Juni

01 *

Waisak


Juli

14

Juli

30 *

Asadhapuja


Ags

13

Ags

28



Sep

11

Sep

27



Okt

11

Okt

26 *

Pavarana/ Kathina


Nop

10

Nop

24



Des

10

Des

24


Tahun

Tilem / Bulan Baru

Purnama/Bulan Penuh

Puja

2008 M

Jan

08

Jan

22


2552TB

Feb

07

Feb

21 *

Maghapuja


Mar

08

Mar

22



Apr

06

Apr

20



Mei

05

Mei

20 *

Waisak


Juni

04

Juni

19



Juli

03

Juli

18 *

Asadhapuja


Ags

01

Ags

17



Ags

31

Sep

16



Sep

29

Okt

15 *

Pavarana/ Kathina


Okt

29

Nop

13



Nop

27

Des

12



Des

27




Tahun

Tilem / Bulan Baru

Purnama/Bulan Penuh

Puja

2009 M



Jan

11


2553TB

Jan

26

Feb

09



Feb

25

Mar

11 *

Maghapuja


Mar

26

Apr

09



Apr

25

Mei

09 *

Waisak


Mei

24

Juni

09



Juni

23

Juli

07



Juli

22

Ags

06 *

Asadhapuja


Ags

20

Sep

04



Sep

19

Okt

04



Okt

18

Nop

06 *

Pavarana/ Kathina


Nop

17

Des

02



Des

16




Tahun

Tilem / Bulan Baru

Purnama/Bulan Penuh

Puja

2010 M



Jan

01


2554 TB

Jan

15

Jan

30



Feb

14

Feb

28 *

Maghapuja


Mar

16

Mar

30



Apr

14

Apr

28



Mei

14

Mei

28 *

Waisak


Juni

12

Juni

26



Juli

12

Juli

26 *

Asadhapuja


Ags

10

Ags

25



Sep

08

Sep

23



Okt

08

Okt

23 *

Pavarana/ Kathina


Nop

06

Nop

22



Des

06

Des

21


Tahun

Tilem / Bulan Baru

Purnama/Bulan Penuh

Puja

2011 M

Jan

04

Jan

20


2555 TB

Feb

03

Feb

18 *

Maghapuja


Mar

05

Mar

20



Apr

03

Apr

18



Mei

03

Mei

17 *

Waisak


Juni

02

Juni

16



Juli

01

Juli

15 *

Asadhapuja


Juli

31

Ags

14



Ags

29

Sep

12



Sep

27

Okt

12



Okt

27

Nop

11 *

Pavarana/ Kathina


Nop

25

Des

10



Des

25




Tahun

Tilem / Bulan Baru

Purnama/Bulan Penuh

Puja

2012 M



Jan

09


2556TB

Jan

23

Feb

08 *

Maghapuja


Feb

22

Mar

08



Mar

22

Apr

07



Apr

21

Mei

06 *

Waisak


Mei

21

Juni

04



Juni

19

Juli

04



Juli

19

Ags

02 *

Asadhapuja


Ags

17

Ags

31



Sep

16

Sep

30



Okt

15

Okt

30 *

Pavarana/ Kathina


Nop

14

Nop

28



Des

13

Des

28


Tabel diambil dari Buku Hari Raya Umat Buddha dan Kalender Buddhis 1996-2026, Herman S. Endro, Yayasan Dharmadiepa Arama

5.2. HARIRAYA WAISAK

Hari Trisuci Waisak adalah memperingati Tiga Peristiwa Agung yang terjadi pada diri kehidupan Sang Buddha Gotama lebih dari 2500 tahun yang lalu. Referensi tentang Hari Trisuci Waisak ini dapat dilihat pada Kitab Suci Tripitaka, bagian Jakataka (J.i), Kitab Buddhavamsa Commentary (Bu.A. 248) dan Mahavamsa, edisi Geiger (Mhv. Iii.2), Tiga Peristiwa tersebut adalah :

1. Bodhisattva (Calon Buddha) yang bernama Pangeran Siddharta Gotama dilahirkan di Taman Lumbini, Nepal pada tahun 623 S.M.

2. Pangeran Siddharta Gotama, yang kemudian menjadi pertapa, dibawah Pohon Bodhi (pohon Asetha), di Buddha Gaya, India dengan kekuatan sendiri mencapai Penerangan Sempurna dan menjadi Buddha pada tahun 592 SM ketika beliau berusia 31 tahun.

3. Sesudah 45 tahun lamanya mengembara danmemberi pelayanan Dharma kepada umat manusia dan para Dewa, Sang Buddha wafat pada usia 80 tahun di bawah pohon sala kembar, Kusinara, India dan mencapai Parinibbana pada tahun 543 S.M.

Menurut Sekte Mahayana dalam merayakan Hari Trisuci Waisak pada waktu yang berbeda-beda, yaitu :

1.Lahirnya Bodhisattva Siddharta Gotama pada tanggal 8 bulan 4 Imlek.

2.Pencapaian Penerangan Sempurna (menjadi Buddha) pada tanggal 8 bulan 12 Imlek.

3.Wafatnya Sang Buddha Gotama pada tanggal 15 bulan 2 Imlek.

Sesuai dengan Resolusi Kongres Persaudaraan Sangha Sedunia Keempat No. RES/5, tanggal 10 Januari 1986 menyatakan bahwa hari bulan purnama di bulan Mei setiap tahun sebagai “Hari Buddha”

Hari Trisuci Waisak di Indonesia ditetapkan menjadi Hari Libur Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 09/1983 tanggal 19 Januari 1983.

Detik-detik Waisak Tahun 2002 – 2026 adalah sebagai berikut :

Tahun Masehi

Tahun Buddhis

Tanggal

WIB

2006

2550

13 Mei

13.50.51

2007

2551

01 Juni

08.03.27

2008

2552

20 Mei

09.11.08

2009

2553

09 Mei

11.01.10

2010

2554

28 Mei

06.07.03

2011

2555

17 Mei

18.08.23

2012

2556

06 Mei

10.34.49

2013

2557

25 Mei

11.24.39

2014

2558

15 Mei

02.15.37

2015

2559

2 Juni

23.18.43

2016

2560

22 Mei

04.14.06

2017

2561

11 Mei

04.42.09

2018

2562

29 Mei

21.19.13

2019

2563

19 Mei

04.11.00

2020

2564

07 Mei

17.44.51

2021

2565

26 Mei

18.13.30

2022

2566

16 Mei

11.13.46

2023

2567

04 Juni

10.41.19

2024

2568

23 Mei

20.52.42

2025

2569

12 Mei

23.55.29

2026

2570

31 Mei

15.44.44

Tabel diambil dari buku Hari Raya Umat Buddha dan Kalender Buddhis 1996-2026, Herman S. Endro, Yayasan Dharmadiepa Arama

5.3. HARI BESAR ASADHA

Asadha adalah nama bulan lunar kedelapan, dari bahasa Sansekerta, sedangkan bahasa palinya adalah Asalha. Kebaktian untuk memperingati Hari besar Asadha disebut Asadha Puja / Asalha Puja.

Hari besar Asadha, diperingati 2 (dua) bulan setelah Hari Raya Waisak, guna memperingati kejadian yang menyangkut kehidupan Sang Buddha dan Ajarannya, yaitu :

1. Untuk pertama kali Sang Buddha membabarkan Dharmanya pada 5 pertapa (Panca Vagiya), bekas siswa-siswanya sepertapaan sebelum menjadi Buddha, bertempat di Taman Rusa Isipatana, dekat Varanasi, India, pada bulan purnama sidhi di bulan Asadha. Khotbah pertama Sang Buddha ini tercantum dalam Kitab Suci Tripitaka berbahasa Pali, dengan nama : Dhammachakka Pavattana Sutta (Perwartaan Dharmacakra / Perputaran Roda Dharma).

2. Kelima pertapa tersebut adalah Kondanna, Bhadiya, Vappa, Mahanama dan Asajji, dan sesudah mendengarkan khotbah Dharma, mereka mencapai arahat, dan terbentuklah Arya Sangha (Persaudaraan Para Bhikkhu Suci).

5.4. HARI BESAR MAGHA

Magha adalah nama bulan chandra (lunar) dan kebaktian tersebut disebut Magha Puja.

Hari Besar Magha memperingati disabdakannya Ovadha Patimokha, Inti Agama Buddha dan Etika Pokok para Bhikkhu. Sabda Sang Buddha dihadapan 1.250 Arahat yang kesemuanya arahat tersebut ditasbihkan sendiri oleh Sang Buddha (Ehi Bhikkhu), yang kehadirannya itu tanpa diundang dan tanpa ada perjanjian satu dengan yang lain terlebih dahulu, Sabda Sang Buddha bertempat di Vihara Veluvana, Rajagaha.

Pada tahun terakhir dari kehidupan Sakyamuni Buddha yaitu sewaktu Sakyamuni Buddha berdiam diCetiya Pavala di kota Vaisali. Setelah beliau memberikan khotbah “Indhipada Dharma” kepada siswa-siswanya, beliau berdiam sendiri dan membuat keputusan untuk Parinibbana tiga bulan kemudian, yaitu pada bulan purnama sidhi di bulan Waisak.

5.5. HARI BESAR KATHINA

Hari Kathina biasanya dirayakan tiga bulan setelah Asadha. Perayaan ini dapat berlangsung dalam waktu sebulan sesudah hari pertama berakhirnya masa vassa. Masa vassa berlangsung selama tiga bulan setelah hari Asadha.

Perayaan hari Kathina diadakan sebagai ungkapan perasaan terima kasih umat Buddha kepada anggota Sangha (persaudaraan para Bhiksu/Bhikkhu) yang telah menjalankan masa vassa selama tiga bulan di daerah mereka.

Pada perayaan ini umat Buddha mempersembahkan dana kepada anggota Sangha, barang-barang berupa jubah, perlengkapan vihara, dan kebutuhan hidup sehari-hari. Hari Kathina ini merupakan hari bhakti umat Buddha kepada Sangha.

5.6. HARI LAHIRNYA MAITREYA BODHISATTVA

Perayaan hari lahirnya Maitreya Bodhisattva dilangsungkan setiap tanggal satu bulan pertama penanggalan bulan Imlek. Hari ini juga bertepatan dengan Tahun Baru Imlek yang dirayakan oleh umat Buddha keturunan tionghoa.

Kendati secara teoritis dikatakan bahwa Maitreya Bodhisattva belum dilahirkan namun secara simbolis, umat Buddha mengenal arca Maitreya Bodhisattva dengan tubuh yang gemuk dalam keadaan tertawa yang menggambarkan rasa sukacita dan cinta kasih.

5.7. HARI AVALOKITESVARA BODHISATTVA

Ada tiga hari raya yang berkenaan dengan Avalokitesvara Bodhisattva (Kwan Im Po Sat), yaitu :

1.Tanggal 19 bulan 2 Imlek sebagai Hari Kelahiran Avalokitesvara Boddhisattva.

2.Tanggal 19 bulan 6 Imlek sebagai Hari Tercapainya Kesempurnaan Avalokitesvara Bodhisattva.

3.Tanggal 19 bulan 9 Imlek sebagai Hari Parivirvana (wafat) Avalokitesvara Bodhisattva

Hal tersebut seperti yang tertera di dalam Sadharma Pundarika Sutra Bab XXV bahwa Avalokitesvara Bodhisattva Mahasattva dapat berwujud dalam berbagai macam bentuk. Namun yang terpenting adalah pengertian makna Maitri Karuna (Cinta Kasih dan Welas Asih).

5.8. HARI ULAMBANA

Perayaan Ulambana berlangsung setiap tanggal 15 bulan 7 Imlek. Hari Ulambana ini juga bertepatan dengan Hari Sembahyang Rebutan (Cio Ko) dari Taoisme.

Pada Hari Ulambana ini persembahyangan berlangsung untuk menyembahyangi mereka yang telah meninggal dunia baik saudara, famili, orang tua, teman, atau orang yang tidak dikenal. Dengan Ulambana merupakan pelaksanaan dari ajaran Maitri Karuna (Cinta Kasih dan Welas Asih) terhadap semua makhluk.

Hari Ulambana tersebut berhubungan erat dengan Riwayat Maudgalyayana (Mogalana) salah satu siswa Sakyamuni Buddha yang amat berbakti kepada ibunya.٭

© Budiman Sudharma - FKUB DKI Jakarta, 2007 | (021) 6624620 | info@infobuddhis.com
Designed and Developed by i2 Solutions