| InfoBuddhis |
I. Perbandingan antara Hinayana dan Mahayana
- Dalam Hinayana adalah berdasarkan etika dan sejarah; dalam Mahayana adalah keagamaan dan metafisika, adalah suatu fase belakangan dari Buddhism (abad ke-2 atau ke-1 S.M.).
- Dalam Hinayana Kitab Sucinya berbahasa Pali dan kemudian campuran Sanskrit; sedangkan Mahayana murni dalam bahasa Sanskrit.
Kitab suci Hinayana tertulis dalam bahasa pali yang dinamakan Tipitaka, sedangkan kitab suci Mahayana tertulis dalam bahasa Sanskrit yang dinamakan Tripitaka-Mahayana dengan 12 bagiannya, Tripitaka-Mahayana mencakup Tipitaka Hinayana, tetapi Tipitaka Hinayana tidak mencakup Tripitaka-Mahyana.
- Hinayana konsepsinya mengenai non-ego (anatman) yaitu percampuran dari lima unsur atau elemen (Panca Skandha), yang terus berubah (anitya) atau sementara (ksanika).
- Dalam Hinayana pembebasannya (Nirvana) ialah bersifat individu tapi harus dicatat bahwa pada waktu yang bersamaan itu bukanlah merupakan penghancuran melainkan keadaan kekal, damai, bahagia dan baik sekali; sementara dalam Mahayana Nirvana itu adalah perolehan dari kesempurnaan pengetahuan yaitu; Prajnaparamita atau Ke-Buddha-an.
- Dalam Hinayana Nirvana diperoleh sengan pembersihan atau pemberantasan mengenai kekotoran batin disebabkan oleh ketidaktahuan/kebodohan (avidya), sedangkan Mahayana pembebasannya tidak hanya dengan pemberantasan mengenai kekotoran batin yang disebabkan oleh ketidaktahuan/kebodohan (avidya) tapi juga pembasmian mengenai ketidakjelasan mengenai ketenangan yang abadi, murni, dan kekal (jneyavarana).
- Dalam Hinayana pengikutnya dikenal sebagai Sravaka, yang mencari ke-Arhat-an pada masa kehidupannya yaitu Nirvana; sedangkan Mahayana pengikutnya dikenal sebagai Bodhisattva, yang diajarkan untuk memperoleh Bodhi-pranidhi-citta dan Bodhi-Prasthana-citta (Bodhicaryavatara of Santi-Deva, hal. 23-25), yaitu; istilah yang pertama dimaksudkan bahwa mereka harus bernadar dan mereka berkeinginan memperoleh Bodhi dan akhirnya menjadi Buddha, dan istilah berikutnya ialah dimaksudkan bahwa Bodhisattva harus memulai mencoba untuk mencapai kesempurnaan melalui Sad-Paramita dan Dasa-Bhumi.
Tujuan mereka (Mahayana) haruslah merealisasikan kebenaran tertinggi (paramartha-satya), yang sangat luas dan mengenai satu rasa sepeeti lautan di mana semua sungai kehilangan identitas mereka.
- Dalam Hinayana umat awamnya adalah yang terutama sebagai penunjang Sangha dengan memberikan hadiah-makanan, pakaian, dan dengan membangun vihara untuk tempat tinggal bhiksu. Mereka semata-mata pendengar khotbah yang disampaikan bhiksu dan pengamat 5 atau kadang-kadang 8 aturan Sila; sedangkan dalam Mahayana umat awamnya dicalonkan sebagai Bodhisattva, yang mempunyai tugas seperti telah dijelaskan di atas.
- Menurut Hinayana, Buddha hanya muncul satu kali dalam satu Kalpa; sedangkan menurut Mahayana semua makhluk mempunyai sifat dasar atau benih-benih Buddha, secara tekhnis dikenal sebagai Tathagata-garbha (Rahim Tathagata), yang merupakan tempat perpaduan kedua-duanya yang baik dan buruk, dan hanya bilamana yang buruk itu dibasmi secara total, maka dia akan menjadi Tathagata.
- Mahayana, konsepsi Madhyamika dan Yogacara menganggap makhluk dunia dan obyek adalah tidak kekal, sementara (ksanika), dan karena itu mereka sebenarnya non-eksistensi (sunya) atau kesadaran murni secara mutlak.
- menurut konsepsi Hinayana mengenai kebenaran tertinggi ialah hanya Pudgala-sunyata; sedangkan Mahayana kedua-duanya yakni Pudgala-sunyata dan Dharma-sunyata.
- Menurut Hinayana mengenai 4 tingkatan kesucian atau Jana, yaitu: Sotapatti, Sakadagami, Anagami, dan Arahatta; sedangkan Mahayana mengenal 10 tingkat atau Dasa-Bhumi (menurut Bodhisattva-Bhumi ada 12) mulai Bodhisattva melewatinya untuk memiliki pembebasan sempurna dan menjadi Buddha.
II. Persamaan antara Hinayana dan Mahayana
- Memusnahkan kemelekatan, kebencian, dan khayalan atau ilusi (raga,dvesa, moha),
- Dunia tiada permulaan atau awal (anamataggo-ayam-samsaro) begitu juga akhir.
- Empat Kesunyataan Mulia atau Kebenaran Utama; dukkha, samudaya, nirodha, marga, dan 8 Jalan Utama,
- Semua makhluk dunia dan obyek adalah tidak kekal (anitya), bersifat sebentar (ksanika) dan di dalam keadaan terus menerus berubah (santana), dan tanpa adanya sesuatu subtansi nyata (anatmakam),
- Hukum Sebab-Akibat yang saling bergantungan (pratitya-samutpada) adalah berlaku secara universal.
(Mahayana Buddhism, oleh Prof. Nalinaksha Dutt, Calcutta university, Delhi, 1978, hal. 80-82)
III. Perbedaan antara hinayana dan Mahayana
Th. Stcherbatsky, Ph.D. Di dalam bukunya The Conception of Buddhist nirvana (With Sanskrit Text of Madhyamaka-Karika) Motilal Banarsidass, Varanasi, 7968, halaman 22-36, menjelaskan perbedaan antara Hinayana dan Mahayana secara garis besar sebagai berikut :
- Perbedaan di dalam Interpretasi mengenai Pratityasamutpada,
- Perbedaan di dalam konsep mengenai Nirvana,
- Perbedaan di dalam tujuan akhir,
- Perbedaan yang berhubungan dengan usaha untuk pencapaian Nirvana,
- Perbedaan yang berhubungan dengan penghapusan mengenai avaranas atau rintangan,
- Perbedaan di dalam konsep mengenai Dharma,
- Perbedaan di dalam konsep mengenai Buddhology,
- Hinayana intellektual, Mahayana intellektual juga bakti-puja,
- Hinayana pluralistik, Mahayana non-dualistik,
- Hinayana rasionalistik, Mahayana gaib.
