Main Logo
Pusat Informasi dan Komunikasi Umat Buddha
Forum Komunikasi Umat Buddha - DKI Jakarta
Home > Artikel Buddha Dharma > Sekte Kebaktian
Sekte Kebaktian

Sekte Kebaktian Mahayana yang menitikberatkan pada keyakinan dan kebaktian keagamaan secara tulus dan iklas kepada Buddha. Menurut sejarah Buddha Dharma Sekte Kebaktian berhubungan erat dengan Madhyamikavada yang menekankan pada keunggulan kebijaksanaan. Pendalaman luar biasa dari Nagarjuna yang mempunyai pengetahuan bagian dalam spiritual, banyak menunjukkan secara jelas oleh pengakuannya bahwa bagisiapa saja yang secara sungguh-sungguh berpandangan terang, dua jalan terbuka yang ingin menuju kehidupan suci Buddha, yakni:

(1)Jalan yang sulit dari kepercayaan kepada diri sendiri dan bertabah hati.

(2)Jalan yang mudah dengan bergantung atau pasrah pada welas-asih (maitri-karuna) dari Buddha.

Karena alasan ini, Nagarjuna dianggap sebagai Patriarch atau Pendiri bukan saja oleh sekte Madhyamika tapi juga oleh para pengikutnya, sekte Bumi-Suci di China, Jodo-Shu di Jepang, dan sekte-sekte Kebaktian di Timur Jauh. Menurut Nagarjuna, Jalan yang sulit itu haruslah dengan melatih atau mempraktekkan 'Sepuluh Kesempurnaan' dan 4 Dasar Ajaran Kesadaran atau Penerangan (Smriyupasthana (Skt.); Satipathana (Pali)).

Bagi yang memilih Jalan-Mudah: hanya menjalankan sembahyang kepada Buddha Amitābha dan Bodhisattva Maitreya. Penyebutan Maitreya sebagai Buddha hanyalah Penghormatan, karena baik Hinayana maupun Mahayana secara tradisi Bodhisattva Maitreya adalah Buddha yang akan datang dan sekarang berdiam dilangit Tusita, dia akan ke bumi untuk tumimbal-lahir terakhir kali sebagai manusia dan akhir dari periode dunia sekarang.

Di negeri Buddhist Theravada hanya Bodhisattva Maitreya yang bermartabat tinggi disembah sujud. Maka dari itu, ada yang mengusulkan bahwa ketaatan kepada iede ke-Bodhisattva-an sebagai menunjukkan karier Maitreya, yang cinta kasih, Buddha yang akan datang (Calon Buddha) dijadikan faktor pemersatu yang harmonis dalam Buddha Dharma modern.

1.Buddha Amitābha

Buddha Amitābha, dengan gelar Buddha Yang Bercahaya Tidak Terbatas atau Buddha 'Yang Berkehidupan Tak Terbatas', mencapai ke-Buddha-an atau Samyak-Sambuddha atau Kesadaraan Agung-Nya pada suatu kalpa yang tidak terhitung. Sukhāvati-Vyūha-Sūtra (teks Panjang) menjelaskan bahwa Beliau adalah Buddha yang Transendental atau di luar pengetahuan dan penggalaman manusia. Buddha yang telah mengatasi alam duniawi,dihormati dan dipuja di India, Nepal, Tibet, dan Mongolia sebagai salah satu dari Panca-Dhyani-Buddha (terdapat relief-nya didalam Candi Borobudur).

Di negeri China dan Jepang dianggap sebagai penjelmaan dari Dharma-Kāya, mengatasi segala persaingan dan pada-Nya menyerap semua atribut kesempurnaan. Dia memancarkan Kebijaksanaan dan Welas Asih yang tiada terbatas. Dia merupakan transenden tertinggi dan tetap ada sepanjang waktu. Pada-Nya Realitas Absolut ber-manifestasi sebagai Yang Teragung dari Welas Asih yang tak terbatas. Karena itu, menurut keyakinan dan keimanan dari para penganut-Nya sampai dengan sekarang di negeri-negeri Timur Jauh, Buddha Amitābha merupakan Buddha Teragung dan Terpuja sebagai curahan sanubari dan pikiran bagi umat-Nya.

Kita jangan lupa bahwa Amitābha ialah obyek utama bukan dari sesuatu system filsafat tetapi Agama buddha mengenai keyakinan dan Kebaktian Keagamaan. Karena itu apa yang dihubungkan di sini ialah suatu usaha bukan untuk meyakinkan kepada atau pikiran tetapi untuk menggerakkan hati-sanubari. Karena hati-sanubari lebih gampang digerakkan dengan kekuatan sepenuhnya oleh suatu mitologi daripada suatu perdebatan Budism menurut sejarah. Hakekat dari mitologi adalah dengan sendirinya Dharma dalam segala kelimpahan dan dalam semua integritasnya (ketulusan hati, kejujuran, keutuhan). Tepat sebagaimana dialektika Nagarjuna, ialah suatu perubahan dari dogmatis menuju mode ajaran Buddha yang logika mengenai transendental dari yang nyata ke rasional, jadi Buddhism kebaktian keagamaan dalam tingkat terakhirnya, terutama dalam ajaran Shinran-Shonin, ialah suatu perubahan mengenai semua Doktrin dari mode intellektual ke dalam emosional. Berbicara dari sudut pandang lain boleh dikatakan bahwa sebegitu cepat, begitu komprehensif, adalah cita-cita Buddhist Mahayana, begitu mendalam filsafatnya, bahwa tidak ada kenyataan yang dikaji secara ilmiah mampu melengkapi dengan suatu pengejawantahan yang cukup konkrit. Suatu mitologi karena itu telah ditemukan.

Agama Buddha merupakan kebenaran abadi dan universal mitologi ini adalah mengenai dimensi kosmik. Bukan dunia ini sendirian, tetapi seluruh alam semesta adalah latar belakangnya. Hanya ruang yang tak terbatas dan waktu yang tak terbatas dapat melengkapi satu tingkat cukup luas dan suatu tata-cara yang bagus sekali secara lengkap untuk presentasi drama mengenai emansipasi alam semesta. Jika kita berbicara intelek hanyalah ikhtisar gagasan atau gagasan abstrak dari perasaan kasihan akan melayani tujuan kita : 'Berbuatlah rasa kasihan' adalah semua yang perlu dibicarakan; tapi jika kita berbicara secara hati-sanubari, perasaan kasihan haruslah ditunjukkan yang membuka jalan pikirannya sendiri didalam rangkaian perbuatan konkrit. Itulah yang paling utama terhadap faktor seperti ini bahwa kita harus mentelusuri asal Buddhism kebaktian keagamaan, dlam mana Kebenaran Transendental bersinar dengan terang yang tidak berkurang dan sudah pasti lebih indah melalui alat- jalur atau perantara mitologi kosmik daripada yang dilakukan melalui formulasi pengertian dari Doktrin.

Sumber utama mengenai mitologi Amitabha dan Kitab Suci Utama dari Sekte Kebaktian Keagamaan Buddhism ini, khususnya sekte ini yang ada di China dan Jepang adalah :

(1)Sukhāvati-Vyūha-Sūtra (atau Sutra-Amitabha teksa pendek terjemahan: Kumarajiva).

(2)Māha-Sukhāvati-Vyūha-Sūtra (atau Sutra-Amitābha teks panjang terjemahan Bhiksu Yueh-Chih Lokaraksha tahun 186 M., Bhiksu Sanghavarman tahun 252 M.).

(3)Amitāyurdhyāna-Sūtra (Sutra mengenai Meditasi terhadap Surga Sukhavati, terjemahan dari Sansekerta ke bahasa Mandarin oleh Kalayasa tahun 424 M.).

Suatu uraian singkat mengenai teks fundamental ini, dan suatu referensi dengan beberapa naskah mengenai kebaktian keagamaan atau puja-bakti adalah sutra sebagai kepentingan pokok, termasuk yang taat pada Buddha dan Bodhisattva, harus mendahului setiap usaha untuk membentangkan doktrin ini secara jelas dan metodenya dari sekte ini.

Walaupun tidak mungkin untuk menentukan waktu adanya Māha-Sukhavāti-Vyūha-Sūtra, batasanyang belakangan secara pasti tahun 186 M., dalam tahun mana di Loyang bhiksu Yueh Chih Lokaraksha, yang pertama kali menterjemahkannya dari bahasa Sansekerta ke dalam bahasa Mandarin, mengingat karier literatur Lokaraksha menghabiskan jangka waktu 4 dekade (40 tahun), dan sutra itu sudah menjadi pegangan paling sedikit satu abad lamanya untuk mendapat prestise yang cukup barulah berguna di terjemahkan. Maka kita dapat secara aman menyatakan bahwa teks aslinya telah ada pada awal abad 1 M.

Naskah Pali Theravada pertama kali dilakukan secara tertulis dalam tahun 80 S.M. tidak lebih dari satu abad, barangkali banyak lebih kurang, memisahkan Tipitaka dan Sukhāvati-Vyūha-Sūtra yang kedua-duanya ada secara tertulis dan terpisah dari Pari-Nirvana - Guru Agung sekitar lebih dari 400 tahun.

Theravadin modern mempertahankan bahwa selama periode ini tradisi itu kemudian tercatat dalam Tipitaka yang diteruskan secara lisan. Sangatlah serupa mereka itu adanya. Tetapi apa yang ada di situ untuk menjaga ajaran-ajaran yang terdapat di dalam Sukhāvati-Vyūha-Sūtra juga dari adanya penyampaian terus-menerus secara lisan. Apakah ingatan yang kuat hanya suatu monopoli dari Hinayana? Bahan yang sama dari argumentasi untuk membentuk 'ke-authentik-an' dari Tipitaka-Pali dapat digunakan untuk membentuk ke-authentik-an tidak hanya mengenai Sukhāvati-Vyūha-Sūtra tetapi mengenai setiap Sutra Mahayana lainnya dalam bahasa Sansekerta.

Jika suatu tradisi dapat diteruskan secara lisan selama 500 tahun itu dapat juga diteruskan secara lisan selama 1.000 tahun.

Kitab Suci Agama Buddha berdiri dan jatuh secara bersama-sama. Setiap usaha untuk membuktikan mengenai dasar ini naskah bahwa satu perangkat tradisi lebih authentik daripada lainnya ialah seperti bumerang yang kembali mengenai sekte yang didirikan itu. Di samping itu, ke-authentik-an mengenai suatu ajaran transendental ialah usaha terakhir yang ditentukan oleh yang lain daripada pertimbangan berdasarkan naskah. Indikasi lainnya dari awal waktu sebagai perbandingan mengenai sutra itu dipastikan oleh prolognya. Disini para pembaca kitab suci baik Pali maupun Sansekerta menemukan dirinya pada dasar yang telah dikenal secara baik. Kumpulan dari sutra-sutra ini secara tersurat dan tersirat suatu uraian yang indah mengenai karier seorang Bodhisattva intisarinya, dimana tercapai Samyak-Sambuddha karena tiga jalan ini : Sila atau Moraliatas, Dhyana atau Meditasi, Prajna atau Kebijaksanaan. Pada pokoknya sutra ini kita juga menemukan di tengah-tengah dari kecepatan yang tak terbatas mengenai alam semesta spiritual. Kita telah melewati waktu ke dalam kekekalan, dari duniawi menuju transendental, dan dari sekarang dan selanjutnya kejadian-kejadian diatur bukan oleh ilmiah tetapi oleh hukum spiritual. Sejarah telah jauh ditinggalkan: Mitologi besar mulai.

Terdapat sebuah dialog antara Raja Melinda dengan Bhiksu Nagasena (tahun 115 M.) sebagai berikut :

"Bila seseorang semasa hidupnya banyak berbuat jahat dan kemudian dia merasa menyesal dan tobat serta menyerahkan diri atas pasrah di dalam kebaktian keagamaan atau bakti-puja, bila dia setelah meninggal dunia, dia akan diselamatkan."

Nagasena memberikan penjelasannya dengan sebuah contoh berikut ini :

"Sebuah batu dapat tenggelam ke dasar air, namun sebuah batu dapat terapung bila ditaruhkan di dalam sebuah kapal."

Pengertiannya: Kapal di sini dimaksudkan sebagai kekuatan Kusala-Karma dan batu adalah akibat dari Akusala-Karma.

48 (empat puluh delapan) Maha-Pranidhana yang paling penting adalah pranidhana yang ke-18 dan ke 20, dalam mana Genko guru dari Sekte Shinran, pendiri Jodo Shin-Shu, menamakannya 'Raja Nadar'. Kitab Nanjiro menterjemahkannya dari Sanghavarman terjemahan dalam bahasa Mandarin dari bahasa Sansekerta.

Pranidhana ke-18 : apabila Aku telah menjadi Buddha, para makhluk yang berada di 10 penjuru dunia setelah mendengar namaku lalu timbul keyakinan dan ingin dilahirkan di negeri-Ku dengan cara merenung dan menyebut nama-Ku (Namo Amitābha Buddhaya) genap 10 kali, bila mereka tidak dilahirkan di negeri-Ku, maka aku tak akan mencapai Samyak-Sambuddha. Kecuali mereka telah memiliki dosa Pancanantarya (dosa dari 5 Perbuatan durhaka) dan pernah memfitnah Buddha Dharma dari para Tathagata

Pranidhana ke-20 : Apabila Aku telah menjadi Buddha, para makhluk yang berada di 10 penjuru dunia setelah mendengar nama-Ku lalu timbul keyakinan dan ingin dilahirkan di negeri-Ku dan menanamkan berbagai benih kebajikan, kemudian jasa-jasanya di-Parinama-kan (disalurkan) sebagai suatu syarat guna dilahirkan si Negeri-Ku. Andaikan cita-cita mereka tidak dipenuhi, maka Aku tak akan mencapai Samyak Sambuddha.

Sabda Hyang Buddha tentang Amitābha-Sūtra (teks panjang yakni Buddhavaca Amitayus Tathagata Sutra terjemahan dari bahasa Sansekerta ke dalam bahsa Mandarin oleh Bhiksu Sanghavarman tahun 252 M, menjelaskan gelar dari Buddha Amitayus disebut :

-Amitābha (Cahaya-Nya yang tidak terbatas),

-Amitāyus (Kehidupan-Nya yang tidak terbatas),

-Amitāprabhā (Terang-Nya tidak terhingga),

-Amitaprabhasa (Memiliki cemerlang tidak terhingga),

- Asamaptaprabha (Cahaya-Nya tidak berakhir),

-Asangataprabha (Cahaya-Nya tanpa melekat),

-Prabhāsikhotsrtaprabha (Cahaya-Nya dari proses menyala-nyala),

-Sadivyamaniprabha (Cahaya-Nya dari manikam Surga),

-Apratihatarasmirājaprabha (Cahaya-Nya dari Raja-sinar berpencar terus-menerus)

-Rājanīyaprabha (Cahaya-Nya terindah),

-Premaniyaprabha (Cahaya-Nya yang tersayang),

-Pramodaniyaprabha (Cahaya-Nya yang tergembira)

-Sangamaniyaprabha (Cahaya-Nya yang terpesona)

-Uposaniyaprabha (Cahaya-Nya yang tersenang)

-Anibandhaniyaprabha (Cahaya-Nya yang tidak pernah berhenti),

-Ativiryaprabha (Cahaya-Nya yang penuh kuasa)

-Atulyaprabha (Cahaya-Nya yang tidak terbanding),

-Abhibhuyanarendrābhutrayendraprabha (Cahaya-Nya melampaui segala cahaya dari para Raja Indra di Surga),

-Srantasāncayendusūryajihmikaranaprabha (Cahaya-Nya melampaui cahaya Bulan Purnama serta cahaya sang Surya),

-Abhibhuyalokapalasakrabrahmasuddhāvāsamahesvarasarvadevajihmikaranaprabha (Cahaya-Nya melampaui sinar Lokapāla, Sakra, Brahma, /suddhāvāsa, Mahesvara, dan segala cahaya Dewa Jihmīkarana).

2.Sukhāvati

Sukhāvati ialah Surga di bagian Barat tempat Buddha Amitābha, jaraknya kira-kira ratusan Koti Buddhaksetra (alam Buddha) dari dunia Sahaloka ini. Negeri-Nya di sebut Sukhavati atau Alam Buddha Terbahagia.

Seluruh bumi dari alam Buddha amitāyus (Amitābha) bukanlah tanah! Melainkan, bumi-Nya adalah kombinsi-kombinasi dari unsur-unsur Suvarna(emas), Rūpya(perak), Vaidūrya (lazuardi), Sphatika (kristal), Pravāda (bunga karang), Mūsaragalva (indung Mutiara), dan Asmagarbha (akik), dari jumlah 7 jenis permata yang bermutu tertinggi! Demikian pula, lingkungan dari seluruh bumi amat lapang, luas, terbesar, dan tanpa batas. Permata-permata yang telah menjadi bumi itu semua disusun satu jenis per satu jenis atau berganti-ganti, shingga sinar permata terus germerlapan, kelihatan demikian indah, megah, jernih, dan menakjubkan!

Mutu permata tidak berbeda dengan permata Surga Paranirmitasvara! Baik kualitasnya maupun keindahannya telah melampaui mustika-mustika terunggul di pelbagai dunia di 10 penjuru! Lagi, alam Buddha-Nya tidak ada gunung Sumeru atau gunung Cakravada dan gunung-gunung lain; juga tidak ada laut biasa atau laut terbesar; Juga tidak ada sungai, selokan, ngarai atau lembah dan sebagainya. Kesemauanya itu adalah penciptaan oleh daya Riddhibala Buddha Amitāyus (Amitābha)! Pada hakekatnya, apabila umat ingin menyaksikan keadaannya atau ingin pemandangannya meliputi pegunungan atau lautan, danau, sungai, dan sebagainya pasti dapat dilihat atau dinikmati oleh mereka, asalkan umat tekun melaksanakan Dharma-Nya hingga dirinya dilahirkan ke Pantai-sana (Sukhāvati).

Di alam Buddha Amitābha juga tiada'Alam Kesedihan' seperti Neraka, Setan Kelaparan, Hewan ganas, dan sebagainya! Disana juga tiada 4 musim, maka itu baik di waktu musim semi, Panas, Gugur, Dingin, tetapi si penghuni berada di negeri tersebut tanpa merasa dingin atau panas, hanya merasa di lingkungannya demikian segar dan nyaman baginya.

Seluruh bumi dari negeri Buddha Amitāyus dipenuhi dengan pohon yang dijadikan dari bahan-bahan 7 jenis mustika itu. Pepohonannya seperti indung mutiara, baik daunan, bunga-bungaan maupun buah-buahan semua berwarna 7 jenis sinar mustika itu yang amat menakjubkan.

Ketahuilah, waktu pepohonan mustika itu digerakkan oleh angin sepoi-sepoi, pohonnya bukan saja dapat mengumandankan suara yang merdu melainkan pohonnya dapat menyiarkan berbagai suara guna menerangkan ajaran dharma yang dibabarkan oleh Buddha Amitāyus.

Suara dari musik alamiah yang berada di alam Sukhāvati itu tidak kurang dari ribuan macam, dan semua suaranya adalah kegemaan Dharma yang amat bermanfaat.

Tentang bangunan-bangunan seperti Vihara, Asrama Sangha, Istana mewah, pagoda agung, gedung-gedung berteras tinggi dan sebagainya yang berada di alam Sukhavati itu, semuanya dibangun dengan 7 jenis permata yang paling berharga dan dijadikan seketika.

Pada bangunan-bangunan yang demikian indah itu, baik di dalam maupun di luar terdapat berbagai Kolam Padma tersebut semua dipenuhi dengan air yang bersifat 8 Budi-Jasa : Murni, segar, manis, lunak-ringan, lembab-berkilat, tenang-damai, dapat menghilangkan dahaga, lapar, dan dapat bermanfaat bagi setiap tubuh makhluk dan sebagainya.

Pada setiap kolam itu terdapat banyak saluran air seperti sungai permata yang terindah. Air di dalam sungai yang indah itu dapat mengantar air dai kolam ke kolam lain, kemudian airnya dapat mengalir dan kembali keasal. Pergerakan airnya tenang sekali tidak begitu cepat juga tidak begitu lambat. Akan tetapi, aliran air itu selalau bersuara yang amat merdu; Suaranya dapat mengumandang berbagai ajaran Buddha yang paling bermanfaat untuk para umat di negeri Buddha tersebut, dan siapa pun dapat mendengarnya dan mengerti artinya, cuma harus menurut bakat mereka masing-masing . Maka dari itu, mereka ada yang mendengarkan suara yang menerangkan Buddha, ada yang mendengar suara yang menerangkan Dharma, ada yang mendengar suara yang menerangkan Sangha. Atau suara-suara yang hanya menerangkan :

Āranyaka (tenang, kesunyian); atau

Sūnya, Anātman (kekosongan, tanpa keakuan); atau

Mahā-Maitrī, Mahā-karunā (Welas-asih yang terluhur); atau berbagai Pāramitā (ketentuan bagi pelaksanaan Bodhisattva); atau

Dasabālāni (10 jenis tenaga Buddha); atau

Daya abhaya (daya tanpa ketakutan); atau

Avenika-Dharma (dharma tentang atribut khusus dan luar biasa); atau

Sarva-abhijna-Mati (segala daya gaib dan kebijaksanaan); atau

Anabhisamskara (tanpa perbuatan); atau

Abhāva, Anirodha (cipta dan musnah); atau

Anutpattikadharmaksānti (menetapkan batinnya di Nirvana);

Hingga Abhisekabhumipratilambha (diwisuda secara kerajaan dan sebagainya.

Ananda menyatakan suatu keinginan untuk melihat Buddha Amitābha, saat itu Buddha dari telapak tangan-Nya mengirimkan sinar penerangan yang menyinari bukan saja Sukhāvati yang berada di sebelah Barat dari Semesta tetapi semua negeri Buddha di alam Semesta. Di dalam penerangan ini bukan saja anada sendiri tetapi semua makhluk hidup secara jelas dapat melihat Amitābha dan Bodhisattva di Sukhāvati, juga mereka di Sukhāvati dapat secara jelas melihat Buddha Shakyamuni dan seluruh Sahaloka.

Setelah menanyakan Bodhisattva Ajita (nama lain untuk Maitreya) jika dia melihat begitu indahnya taman-taman, sungai-sungai, dan danau padma di sukhavati, dan apakah terdapat sesuatu perbedaan diantara para dewa yang dinamakan Paranirmitavasavartin, dan orang-orang didalam alam Sukhāvati, yang Dimuliakan menjelaskan bahwa makhluk yang secara ajaib dilahirkan di sukhavati, muncul dengan duduk kaki bersila diatas padma yang mekar terbuka, merupakan kepercayaan teguh kepada Amitabha, sementara mereka yang mendiami di dalam padma itu yang tertutup telah mempunyai suatu keraguan. Hanya setelah 500 tahun bilamana padma itu menjadi mekar sepenuhnya, kemudian barulah mereka dapat mendengar dan melihat Amitābha. Pada kesimpulannya Hyang Buddha mengingatkan Ajita terhadap memiliki keraguan, mengatakan kepadanya berapa koti dari para bodhisattva akan dilahirkan di Sukhāvati dari tiap-tiap negeri Buddha.

Sukhāvati berada di luar dari Tri-Loka (Arupa-loka; Rupa-loka;Kama-loka).

3.Amitāyurdhyāna-Sữtra

Amitāyurdhyāna-Sũtra atau 'Sutra Vipasyana alam Sukhāvati dan Buddha Amitābha beserta Bodhisattva Avalokitesvara dan Bodhisattva Mahāsthāmaprāpta' juga dinamakan 'Sutra Membersihkan segala halangan supaya dapat dilahirkan di depan para Buddha'.

Sutra ini menguraikan 16 meditasi di mana Buddha mengajarkan kepada Ratu Vaidehi, permaisuri Raja Bimbisara dari Magadha, sebagai suatu cara mengenai visualisasi kesempurnaan dari Sukhāvati atau perenungan (Vipasyana) dengan obyek meditasi (Kasina). Uraian singkat dari sutra ini adalah sebagai bertikut :

Bagi siapa yang berkeinginan melatih meditasi ini haruslah pertama-tama mengolah 3 macam kebajikan berikut ini :

(1)Berbakti kepada orang-tua ; Menghormati dan taat kepada guru; Berbelas-kasihan; Tidak melakukan pembunuhan dan menjalankan '10 Karma Baik'

(2)Berlindung kepada Tri-Ratna; menjalankan berbagai Sila dan tidak melanggar norma kesopanan.

(3)Harus membangkitkan Bodhicitta atau kesadaran luhur-nya; Percaya akan Hukum Karma atau Hukum Sebab- Akibat; Tekun menghayati Sutra-Sutra Mahayana dan suka mendorong para umat penganut Buddha-Dharma agar mereka cepat berhasil 'Tiga Macam Kebajikan ini juga dinamakan 'Karma Suci' adalah dasar penting bagi para Buddha dari tiga masa, yakni; masa silam, masa sekarang, dan masa mendatang.

Hyang Buddha bersabda kepada Ratu Vaidehi lagi ; 'O, Ratu Vaidehi! Maklumlah, kamu masih berstatus seorang manusia biasa, dan sebagian kecil 'Penerangan Angung' belum kamu peroleh; pikiran dan pandangan kamu masih begitu rendah! Apalagi kamu belum mempunyai Mata-Dewata! Tentulah tidak dapat melihat segala keadaan dari tempat yang jauh, tetapi para Tathagata mempunyai metode yang 'mudah' (Upayakausalya)' dan metode itu dapat membantu kamu untuk Vipasyana (perenungan akan atau mengamati)'alam Buddha'!

Kemudian Hyang Buddha memberitahukan kepada Ratu Vaidehi: 'Kamu,juga para umat sekalian harus memusatkan pikiran lalu mencurahkan seluruh perhatian pada salah satu Kasina (Obyek meditasi) seperti merenungi Alam Sukhavati.

-Vipasyana ke-1 : disebut 'perenungan Matahari'

-Vipasyana ke 2 : di sebut 'Perenungan Air',yaitu :

Casina pertama dicurahkan pada air, ...

Casina kedua dicurahkan pasa 'Es', ...

Setelah mencapai Patibhāganimita (gambaran) daripada es, selanjutnya membayangkan Lapisan Lazuardi yaitu es yang telah diwujudkan menjadi Bumi Lazuardi dan seterusnya ... Kemudian datanglah 8 macam angin ... menimbulkan suara yang berbunyi tentang Duhkha (Penderitaan), Sunya (kosong), Anitya (ketidak-kekalan), Anātman (tiada keakuan), dan sebagainya.

- Vipasyana ke-3 : disebut 'Perenungan Bumi'

- Vipasyana ke-4 : disebut 'Perenungan Pohon'

- Vipasyana ke-5 : disebut 'Perenungan Air yang bersifat 8 Budi Jasa'

- Vipasyana ke-6 : disebut 'Perenungan Umum'

(Vipasyana ke-3 sampai dengan ke-6 tercapai karena perolehan suatu persepsi yang jelas mengenai bagian unsur-unsur pokok dari Sukhavati).

-Vipasyana ke-7 : disebut 'Perenungan Takhta Bunga'

- Vipasyana ke-8 : disebut 'Perenungan Gambaran' (Telah merenungkan dan melihat segala

keadaan Alam Sukhāvati secara ringkas dan benar sesuai dengan ajaran

dari Sutra ini).

- Vipasyana ke-9 : di sebut 'Perenungan Seluruh Badan Buddha'. Barang siapa bisa

melaksanakan Vipasyana 'Buddha-citta', pasti ia dapat memperoleh pahala

Anutpattika-ksanti dan ia dapat lahir di pelbagai alam suci di depan

Buddha, setelah ia meninggal dunia.

-Viyasyana ke 10 : di sebut Vipasyana Rupakaya Avalokitesvara Bodhisattva Mahasattva.

-Vipasyana ke-11 : disebut Vipasyana Rupakaya Māhasthāmaprāpta Bodhisattva Mahasattva

-Vipasyana ke-12 : disebut Vipasyana Samanta-anusmrtih yakni 'Perenungan komplek'.

-Vipasyana ke-13 : di sebut 'Perenungan Serbaneka'

-Vipasyana ke-14 : Hyang Buddha menganjurkan 3 macam metode Vipasyana, agar para Si-

pemuja dapat memilih metode yang paling sesuai dengan kemampuannya. Hyang Buddha melanjutkan : 'Ketahuilah, metode yang mudah ini jumlahnya ada 3, yakni : 'Tingkat Tertinggi', 'Tingkat Menengah', dan 'Tingkat Rendah' setiap tingkat terdiri terdiri dari '3 bBagian' seprti berikut ini :

-Casina Perenungan pada 'Tumimbal-lahir' Bagian Pertama, Tingkat Tertinggi .

Barnag siapa bertekad lahir di Alam Sukhāvati dengan status ini, mereka harus membangkitkan serta memiliki Tri Kusalacitta yakni Tiga Macam Hati yang benar :

1.Hati (Pikiran) yang berkebhaktian tertinggi (kepada Dharmanya);

2.Hati yang berkeyakinan dalam (tanpa mundur);

3.Hati nadar Parināmanā (penyaluran pahala yang diperolehnya).

Yang telah memiliki ketiga-tiganya Hati Yang Benar itu, pasti dia ditumimbal-lahirkan di Alam Suci Sukhavati.

Hyang Buddha melanjutkan lagi : 'Ada 3 macam makhluk lagi yang dapat dilahirkan di Alam Sukhāvati' :

1.Yang memiliki hati kasih-sayang dan belas-kasihan, tidak membunuh dan menjalankan segala Sila secara patuh;

2.Yang tekun memcaba serta mempelajari Dharma-dharma luhur atau Sutra-sutra Mahayana yang pernah dikhotbahkan Buddha Shakyamuni, dan

3.Yang mempraktekkan Sad Anusmrtaya yakni 6 perenungan, merenungkan tentang Buddha, Dharma, Sangha, Sila, Dana, dan Surga; Menjalankan Parināmanā dan berikrar ingin dilahirkan di Alam Sukhavati.

Yang telah memiliki amal-jasa tersebut dalam 1 sampai 7 hari setelah wafat si pemuja yang tekun itu dapat dilahirkan di Alam Sukhāvati.

-Casina perenungan pada Tumimbal-lahir Bagian Kedua, Tingkat

Tertinggi.

Si pemuja tak usah menghafal Sutra-sutra; namun harus mengerti makna-maknanya; Tidak meragukan Paramartha (Doktrin Dharma Luhur) dari Buddha Dharma; Percaya akan Hukum Karma (atau 'Sebab-Akibat'/Hetuphala); Tidak memfitnah Sutra-sutra Mahayana yang dikhotbahkan Buddha. Dengan jasa-jasa tersebut si pemuja harus ber-parinamana agar dirinya dapat lahir di Alam Sukhāvati.

Apabila si pemuja akan meninggal dunia, datanglah Buddha Amitābha bersama-sama dengan Avalokitesvara Bodhisattva dan Māhasthamaprāpta serta para Sravaka-sangha dan rombongan pengikut-Nya, mereka semua mengelilingi di sisi si pemuja; Hyang Buddha membawa sebuah Suvarnāsana (Takhta Emas) di depan si pemuja seraya berkata : 'O, Dharmaputra yang Kuhargai Anda telah menghayati doktrin-doktrin Mahayana! Anda benar-benar telah memahami makna-makna Paramartha dari para Buddha yang lampau! Oleh sebab itu maka Aku datang menyambutmu! Kemudian Buddha Amitabha bersama-sama dengan ribuan Buddha jelmaan menjulurkan tangan-Nya untuk menyambutnya Tatkala si pemuja telah merasa dirinya duduk bersila diatas Takhta Emas lalu ia merangkapkan kedua tangannya seraya memuji para Buddha Maha Maitri-Karuna! Dan, hanya dengan sekilas renungan dirinya telah lahir di kolam 7 mustika di alam Sukhavati. ...

-Casina perenungan pada 'Tumimbal-lahir' Bagian Ketiga, Tingkat Tertinggi.

Si pemuja harus percaya akan Hukum-Karma dan menghayati ajaran Dharma ; Tidak memfitrnah Ajaran-ajaran Mahayana yang dibabarkan Hyang Buddha; Senantiasa membangkitkan

Bodhicitta luhur, kemudian mem-Parinamanakan jasa-jasanya kepada para makhluk agar bersama-sama membebaskan diri dan lahir di Alam Sukhavati. Apabila si pemuja akan meninggal dunia, tampaklah Hyang Buddha Amitabha, Avalokitesvara, Māhasthamaprāpta beserta para Bodhisattva membawa sekuntum bunga Padma Emas yang Maha Besar datang ke depannya. Dan Buddha Amitabha menjelmakan 500 Buddha Nirmita bersama-sama menjulurkan tangan-Nya seraya berkata :"O, Dharmaputra yang kami hargai! Sekarang Anda telah berstatus suci! Anda telah membangkitkan Bodhicitta luhur! Patutlah Aku datang menyambutmu!" ...

- Vipasyana ke-15 : Yakni Casina Perenungan Tumimbal-lahir Bagian Pertama, Bagian

Kedua, dan Bagian Ketiga, Tingkat Menengah.

Bagian Pertama, Tingkat Menengah.

Barang siapa yang memegang teguh Pancasila, Asta-sila dan menjalankan berbagai Sila; Tidak melanggar dosa Pancanantarya 5 dosa durhaka) serta tidak terlibat kesalahan lain.

Dengan kebaikan dan kebajikan tersebut berparinamana-kan untuk dapat dilahirkan di Alam Terbahagia di sebelah Barat. Waktu dia akan meninggal dunia, Hyang Buddha Amitabha bersama-sama para Bhiksu serta rombongan pengikut-Nya, datang mengelilingi si pemuja; Lalu Buddha Amitabha memancarkan sinar hidup berwarna emas menyinari Ssi Pemuja seraya menguraikan Dharma-luhur meliputi makna-makna; Dukha, Sunya, Anitya, Anatman, dan sebagainya kepadanya dan menghargai si pemuja akan tekadnya menghayati Dharma suci, dapat mengatasi segala penderitaan duniawi dan lahir di Alam Terbahagia. ...

-Casina Perenungan pada Tumimbal-lahir, Bagian Kedua, Tingkat Menengah;

Andaikanata seorang Umat memegang teguh dan mempraktekan Asta-Sila sehari semalam; Atau memegang teguh dan mempraktekkan Dasa-Sila atau Sila Sramana sehari-semalam; Atau memegang teguh serta mempraktekkan Sila lengkap Bhiksu sehari semalam tanpa kekurangan disiplin apa pun, lalu ia berikrar serta ber-parinamana agar dirinya dapat lahir di Alam Sukhavati. Keteguhannya menghayati Sila-sila bagaikan wangi-wangian yang melimpahi alam semesta, sehingga waktu sipemuja akan meninggal dunia, tampaklah Buddha Amitabha bersama-sama dengan pengikut-Nya memancarkan cahaya serta membawa sekuntum bunga Padma yang mahabesar terbuat dari 7 macam mustika tiba di depan si pemuja. Sementara itu, si pemuja mendengar suara penghargaan bergema di angkasa :"O,Putraku yang berbudi!Anda memang seorang Suci, berani menjalankan berbagai Sila penting dan teguh menhayati ajaran-ajaran Dharma luhur dari para Buddha yang berada di dalam tiga masa, maka itu kami datang menyambut kamu!" ...

-Casina Perenungan pada Tumumbal-lahir Bagian Ketiga, Tingkat menengah.

Apabila terdapat putra-putri yang berbudi berlaku patuh serta memelihara orang-tuanya; Perangainya amal belas-kasihan terhadap semua makhluk, terhadap para Umat di dalam masyarakat serta cinta kepada 'Nusa-bangsa'. Bila menjelang ajalnya terdapat para tokoh bijak (Maitrayani) datang menjelaskan tentang alam Buddha Amitabha beserta 48 Maha Pranidhana yang pernah diucapkan oleh Bhiksu Dharmakara 10 kalpa yang silam.

Jika setelah mendengarkannya lalu ia meninggal dengan tenang, maka pada saat itu ia dapat dilahirkan di Alam Terbahagia di sebelah Barat. ...

-Vipasyana ke- 16 : Casina Perenungan pada Tumimbal-lahir Bagian Pertama, Tingkat rendah.

Kalau ada orang berbuat salah, sungguh pun tidak memfitnah Vaipulya atau Sutra-sutra Mahayana yang dikhotbahkan oleh Buddha, tetapi ia tidak tahu malu dan sering berbuat kejahatan tanpa kesadaran. Andaikata saat menjelang ajalnya, kebetulan menemui para Maitrāyanĩ yaitu tokoh bijak yang ber-Dharma dan sanggup menjelaskan judul-judul, nama-nama dari Dvadasa-dharmapravacana-Mahayana yaitu Nama-nama Sutra Mahayana dari 12 jenis Kitab Suci Tripitaka kepada orang tersebut. Karena diberkati pengertian nama-nama Sutra tersebut, maka Karma-karma Kejahatannya yang meliputi ribuan kalpa akan lenyap. Selanjutnya jika si tokoh bijak mengajarkannya pula cara ber-Namaskara serta menyebut : Namo Amitābha Buddhāya!

Dengan cara demikian ia dibebaskan dari Dosa Janmamarana selama 50 koti Kalpa.

Pada saat itu Buddha Amitabha akan mengirim 'Buddha Jelmaan', Avalokitesvara, Mahāsthāmaprāpta jelmaan datang ke depan Umat itu serta menyanjung : "O, Putra yang berbudi! Sekarang dosamu yang berat telah musnah, karena anda telah menyebut nama Buddha Amitābha, maka kami datang menyambutmu!' ...

-Casina Perenungan Tumimbal-lahir Bagian Kedua, Tingkat Rendah.

Andaikata, ada orang yang telah melanggar Hukum Pancasila-Buddhist, Astasila, Sila Bhiksu - lengkap; Mencuri benda Sangha atau barang kepunyaan Bhiksu; Tidak tahu malu dan sebagainya, maka sesuai dengan Hukum Karma-nya ia harus di masukkan kedalam Neraka; Api Neraka yang menyala-nyala akan menimpa dirinya saat ia meninggal. Sekiranya kebetulan ia dapat menemui seorang Maitrayani (tokoh yang bijak) yang berhati welas asih, rela menjelaskan kepadanya tentang kesaktian, kebijakan dari Tathāgata-dasabala yang dimiliki Buddha Amitabha; Dan memuji cahaya Buddha serta kesaktian Rddhivasila-Nya! Juga menguraikan tentang Sila, Samadhi, Prajna, Vimoksa, dan sebagainya. Sehingga Umat itu dapat memusnahkan 80 Koti Kalpa dosa Janmamarana! Maka api Neraka yang menyala-nyala akan berubah menjadi angin semilir yang menghembuskan Bunga-bunga Surga ke depannya. ...

-Casina Perenungan tumimbal-lahir Bagian Ketiga, Tingkat Rendah.

Ketahuilah, apabila terdapat seorang yang berbuat dosa Pancanantaryani dan dosa Dasa akusala; Tidak pernah menimbun amal-jasa dan perbuatan baik; Maka sesuai dengan Hukum-Karma-nya ia harus dijatuhkan kesengsaraan selama beberapa Kalpa. Andaikata menjelang saat tiba ajalnya, sekiranya ia menemui tokoh bijak yang sanggup mengutarakan Dharma Agung serta mengajarkannya cara merenung akan Buddha, maka ia masih dapat berbuat demikian, Sang Tokoh Bijak itu harus menyarankannya lagi untuk menyebut nama buddha Amitāyus (Amitābha) saja! Asalkan ia dapat sungguh-sungguh mengucapkan Namo Amitābha Buddhāya sampai 10 kali dengan suara yang tidak tersendat-sendat, maka waktu ia mencurahkan fikirannya

Kepada Buddha Amitābha ia telah memusnahkan 80 Koti Kalpa Dosa Janmamarana. Pada saat ia meninggal, terlihatlah sekuntum Bunga-Padma berwarna emas dan berkilau-kilau bagaikan sang Surya yang terwujud di depannya. Setelah merasa dirinya tertutup oleh kelopak dan mahkota bunga ia telah dilahirkan di Alam Sukhāvati. ...

Survey ringkas mengenai Kitab-Suci Buddhism Kebaktian Keagamaan (Bakti-Puja) menyatakan masih terdapat sejumlah teks lainnya yang sangat populer dan berpengaruh, tapi sangat disayangkan telah banyak yang hilang .

Sebagai obyek utama dari Buddhism Bakti-Puja ini dapatlah dibagi menjadi 2 kelas, yaitu : Buddha dan Bodhisattva.

Ini disebabkan pengetahuan dalam yang begitu mendalam mengenai sifat dasar Buddha yang akhirnya direalisasikan ke dalam doktrin Tri-Kāya. Barangkali penemuan yang terutama dari ini ialah Satapancatkastotra dari Matrceta suatu naskah yang menggetarkan seluruhnya dengan nada organ yang paling dalam mengenai puja.

Buddha Aksobhya artinya 'Yang Tenang Luar Biasa', yang punya negeri Buddha abhirati, Alam dari Melampaui Kesenangan Besar, yang terletak di sebelah Timur, telah menjadi figur utama dari mitologi yang serupa dengan Amitābha. Menurut Dr. E.Conze, Beliau banyak disebutkan dalam sejumlah permulaan Sutra-sutra Mahayana, suatu kesimpulan adalah bahwa pemujaan terhadap Beliau sudah tersebar luas. Hanya yang survival saja ialah fragmen mengenai legenda-Nya. Lebih beruntung ialah Bhaisajyaguru Vaiduryaprabha Tathāgata atau 'Buddha Penyembuhan', yang telah membuat 12 Maha-pranidhana. Pemujaan terhadap-Nya sangat populer di negeri-negeri Mahayana yang masih ada sampai sekarang. Maitreya menduduki suatu posisi tengah sebagai Buddha dan Bodhisattva.
© Budiman Sudharma - FKUB DKI Jakarta, 2007 | (021) 6624620 | info@infobuddhis.com
Designed and Developed by i2 Solutions