| InfoBuddhis |
Dalam bentuk agama Buddha yang paling tua, akhir dari Jalan itu adalah pencapaian ke-Arhat-an, bila kehidupan telah lewat, menuju Nirvana.
Kemudian, apa yang dimaksud dengan Nirvana? Arti dasar dari kata itu adalah pemadaman dari api bila bahan bakarnya telah semua dihabiskan. Yaitu, dalam Agama Buddha dari aliran Selatan (Hinayana), bila api dari hawa nafsu bersifat keduniawian hilang, dan siswa itu menjadi seorang Arhat, bebas dari semua keinginan dan kehidupan yang telah lewat, dia dikatakan telah mencapai Nirvana, atau Pari Nirvana: Dalam Agama Buddha bagian Utara (Mahayana) Nirvana mempunyai pengertian philosofi yang melebihi : Nirvana berarti keadaan di mana tidak hanya api dan hawa nafsu keduniawian telah hilang dan kehidupan keduniawian telah lewat, tetapi semua keinginan berhubungan dengan karma bagi kehidupan individu dipadamkan dan siswa itu telah melewati kedalam kehidupan yang menyatu dari ke-Buddha-an.
Istilah Pratyakabuddha digunakan oleh kedua aliran agama Buddha itu berarti seorang siswa atau Arhat yang secara tamak menginginkan Nirvana untuk kesenangannya sendiri. Siswa seperti itu, menurut aliran Mahayana telah berhenti mengikuti Jalan itu pada tingkat ke-7 (tujuh) dari ke-Bodhisattva-an dan "melewati nirvana-nya". Tetapi setelah seorang Bodhisattva mencapai tingkat ke-8 (delapan) di sana adalah, kemudian, " tiada lagi perbaikan yang kritis", dia melanjutkan sampai pencapaian dan Kebijaksanaan sempurna yang paling tinggi, kembali ke dunia Saha dari Kebodohan dan penderitaan demi pembebasan dan penerangannya. Karena itu ucapan dalam Lankavatara Sutra: "Bagi para Buddha tiada Nirvana".
Pertanyaan itu mungkin ditanyakan, bagaimana, di dunia ini mengenai kebodohan, penderitaan, dan kematian, kita harus mengenali hal-hal ini Buddha dan Tathagata "yang kembali"?
Harap diingat bahwa Bodhisattva sebagaimana mereka mencapai tingkat ke-Bodhisattva-an yang ke 9 (sembilan) dan ke-10 (sepuluh) hilang semua keindividuan sebagai personalitas manusia untuk menjadi di kenali dengan ke-Buddha-an dalam Mega Kebenaran Besar, dan sebagai "tiada bentuk". Tathagata memperoleh kekuatan yang tiada batas dan titah mengenai usaha-usaha yang cakap dan kemampuan yang sungguh luar biasa dari keunggulan sendiri dan ketangkasan, dan sebagai prinsip integritas mengenai ke-Buddha-an, adalah mampu untuk mengambil segala bentuk yang mereka pikir terbaik, atau untuk hadir dimana saja diperlukan untuk membantu dan menarik semua makhluk demi penerangan dan ke-Buddha-an. Dengan latihan kita mengenai Dhyana, sebagai kita memperoleh moment dari Samadhi intuisi, kita mengintegrasikan kehidupan kita dengan sifat dasar Buddha sekarang yang sesungguhnya, dan bila kita memperoleh Samadhi sempurna tertinggi, kita menjadi satu dengan semua Buddha, menikmati kedamaian kesenangan sempurna, dan mampu menjadikan diri kita sendiri untuk kembali ke dunia Saha ini dengan penderitaan demi pembebasan dan penerangan.
Dalam buku The Conception of Buddhist Nirvana hal. 24-28, oleh Th. Stcherbatsky Ph.D., diberikan pandangan umum mengenai Nirvana antara Hinayana dan Mahayana sebagai berikut ini;
· Nirvana adalah tidak dapat dijelaskan atau diungkapkan. Nirvana adalah tanpa awal, tidak berubah, tanpa pelapukan. Nirvana adalah abadi (amrta).
· Nirvana harus direalisasikan di dalam diri pribadi seseorang. Hal ini hanya mungkin bila idaman akan kesenangan perasaan telah total dipadamkan atau disingkirkan.
· Pribadi sendiri ke-aku-an seperti itu berhenti di dalam Nirvana. Jalan masuk ke Nirvana hanya mungkin mengenai leburnya pribadi sendiri.
· Nirvana ialah kedamaian (Sama atau Upasama)
· Nirvana memberikan keselamatan terakhir.
Kata Nirvana secara harfiah berarti : memadamkan dan karena itu "tenang, hening, sentosa, kekal abadi".
Nirvana secara umum diuraikan dalam literatur Buddhist dengan 4 (empat) cara; yaitu :
- Negatif,
- Positif
- Paradoxical (berlawanan asas),
- Simbolik.
- Negatif : Uraian secara negatif (negatif di sini dimaksudkan menerangkan dengan memakai kata 'tidak ada' atau 'tanpa') adalah paling umum. Kata-kata itu adalah :
· Amrta : tiada kematian,
· Acyuta : kekal, abadi, tiada pelapukan,
· Ananta : tanpa pikir,
· Apalokina : tidak dapat dikenakan pembubaran atau pemutusan
· Abhutam : tidak diciptakan,
· Anuttaram : sepenuhnya, yang paling tinggi,
· Duhkha-nirodha : penghenrian mengenai penderitaan,
· Apavagga : pembebasan terakhir,
· Tiada perubahan, abadi; pemadaman akan kelahiran; tidak dilahirkan; bebas dari penyakit; tidak menjadi tua, bebas dari perpindahan.
- Positif : Nirvana adalah :
· Kedamaian (Sama atau Upasama); Mahaparinirvana Sutra menyatakan secara jelas dengan sajak berikut ini :
"Anityavata Samskara Utpada - Vyaya- dharminah / utpadya hinirudhyante tesam vyapasamas sukham //"
"Ketidakkekalan, sudah tentu, adalah semua benda yang berkondis. Adalah sifat dasar mereka untuk terlahir - berlangsung - lenyap. Setelah dihasilkan, mereka dihentikan. Penghentian mereka membawa kedamaian dan ketenteraman."
Sama atau Upasama mengandung arti pemadaman mengenai idaman, penghentian mengenai penderitaan dan suatu keadaan ketenangan.
· Nibbanam paranam sukham: Nirvana adalah kebahagiaan tertinggi.
· Sambodhi atau prajna: Kebijaksanaan transendental atau sukar dipahami, diluar pengertian dan pengamalan manusia biasa.
· Jnana (penerangan) atau Vinnanam ... kesadaran cemerlang, murni.
· Ksamam : Keamanan.
- Paradoxical (Berlawanan asas) : Penjelasan ini sering di jumpai di dalam Prajna-Paramita atau literatur (Sutra-Sastra) Mahayana. Satu-satunya cara untuk mencapai tujuan itu adalah merealisasikannya dalam pengertian akhir yakni tidak ada tujuan yang dicapai. Nirvana adalah kenyataan yakni Sunya (Kosong).
- Simbolik: Nirvana adalah: Pulau yang tak tergenang; pantai seberang; tempat perlindungan.
Trasnformasi mengenai Nirvana diuraikan dengan istilah negatif sebagaimana penghancuran mengenai tanda (idaman) dan asavas (godaan) dan istilah Positif sebagaimana timbulnya mengenai Prajna atau Sambodhi (kebijaksanaan transendental) dan santi (kedamaian).
Hinayana dan Mahayana setuju didalam uraian yang indah mengenai Nirvana. Hanyalah batu loncatan dari kematian diri sendiri bahwa kita dapat mencapai Nirvana. Sebagaimana Dr. T. Suzuki menempatkan Nirvana menurut Buddhist, tidaklah menandakan suatu penghancuran dari kesadaran begitu pula sementara atau penindasan permenent dari mentation, sebagaimana dikhayalkan oleh sebagian orang tetapi nirvana adalah penghancuran dari dugaan mengenai hakekat ego dan mengenai semua keinginan yang timbul dari konsepsi yang keliru ini. (Outlines of Mahayana Buddhism, p. 50-51)
Nagarjuna menguraikan Nirvana dengan kata-kata berikut ini :
Aprahinam asampraptam anucchinnam asasvatam /
Aniruddham anutpannam etan nirvanam ucyate //
(M.K.XXV,3)
Artinya:
"Nirvana adalah bahwa dalam mana tidak yang ditinggalkan maupun diperoleh, nirvana adalah bukan suatu benda yang membinasakan, maupun yang abadi; nirvana adalah bukan penghancuran maupun menghasilkan."
Mengutip Candrakirti :
Sarvaprapancopasamasivalaksanam nirvanam (P.P. p.2.)
Nirvana memberikan arti penghentian dari semua pembicaraan mengenai hal tersebut, dengan tidak bergeraknya dari existensi phenomena, dan pencapaian mengenai kebaikan yang paling tinggi.
Nirvana atau Pembebasan adalah sulit untuk dapat dijelaskan bahkan tidak dapat dijelaskan secara kata-kata. Pencapaian Nirvana secara umum dapat dibagi 2(dua) yaitu:
1. Upadhisesa Nirvana : yaitu Pembebasan atau lenyapnya avidya, avarana, klesavarana, tetapi tubuh jasmani dan pikiran masih berfungsi sebagaimana Siddharta Gautama Bodhisattva di bawah pohon Bodhi mencapai Samyak-Sambodhi (Shakyamuni Buddha).
2. Nirupadhisesa Nirvana : yaitu Pembebasan terakhir dan lenyapnya skandha.
Selain dua keadaan nirvana tersebut bagi Mahayana masih terdapat satu nirvana yaitu :
3. Apratisthita Nirvana : yaitu Bodhisattva yang berkemauan untuk menunda menuju Pembebasan terakhir atas pilihan sendiri untuk itu dikarenakan maha maitri karuna untuk mengabdikan dirinya sendiri demi makhluk-makhluk lain.
Nirvana bukanlah bhava (penegasan) atau abhava (penyangkalan) tetapi adalah kenyataan dari penyangkalan terhadap hal-hal yang demikian itu. Hal ini sesuai dengan ajaran Hyang Buddha untuk melepaskan pandangan bhava-drsti dan vibhava-drsti. Hal ini juga merupakan sebenarnya dari avyakarta (tak terungkapkan). Nirvana adalah kesatuan dengan yang absolut; ini terlepas dari penentuan-penentuan pikiran; hanya dengan cara demikian barulah Nirvana dapat direalisasikan.
Pandangan Madhyamika secara metafisika mengenai Nirvana tidaklah terbatas dan hal itu tidak dapat dikategorikan dengan kebaikan dan keberkahan. Secara religious hal itu adalah Tathagata - Ketuhanan Yang Maha Esa. H